oranment
play icon
Topeng Kuno
Cerpen
Kutipan Cerpen Topeng Kuno
Karya kezia_soetomo
Baca selengkapnya di Penakota.id

Arya (22) sedang berjalan di dalam sebuah lorong di dalam candi. Pakaian seragam taktisnya dilintasi oleh debu - debu yang berterbangan dari batu - batu. Pistol revolver di kantongnya bergetar oleh gerakan. Indra (25) mengikutinya dari belakang dengan posisi tubuh yang tegak.


Tiba - tiba terdengar suara bantingan barang yang cukup keras dari jauh.


"Suara apa itu" Arya mengeluh


"Udah, gaada apa apa" Indra menegaskan kembali.


Mereka terus berjalan menelusuri candi kuno yang dipenuhi tanaman berambat yang berduri.


Mereka terus berjalan, melintasi tumbuhan merambat yang mengenggam jasad manusia yang sudah membusuh. Arya dan Indra melihatnya dengan takjub.


Tiba - tiba Arya direkatkan oleh tumbuhan merambat. Arya berteriak kesakitan.


"Tolong" Arya berteriak.


Indra mengeluarkan goloknya. Dibacoknya tumbuhan itu.


"Makanya jangan macem macem, emangnya lu ngapain" Indra menegaskan kembali


"Gw gak ngapa - ngapain" Arya menjawabnya dengan lembut.


Indra menatap kepada Arya dengan hening.


"Pake tu pisau, kenapa kagak" Indra menegaskan kembali.


"Oh iya maaf" Arya menjawab sambil mengangguk.


"Udah santai aja, ayo" Indra menjawab dengan sedikit keras.


Mereka terus berjalan menelusuri lorong - lorong candi.


Hingga mereka menemukan kandang yang sangat besar. Ditutupi oleh sejumlah tumbuhan yang merambat.


Arya mengeluarkan pisaunya. Dia mencoba untuk memotong tumbuhan merambat yang mengunci pintunya.


Indra meraba kantongnya. Dia mengambil gramat.


"Minggir" Indra menyerukannya.


Indra melemparkan granatnya kepada tumbuhan merambat. Granat itu meledak, membakar tumbuhan - tumbuhan itu.


"Otak dipake Ya, kasihan Boss Yanto udah cape cape ngelatih kita" Indra menegaskan sambil menaikan nadanya.


"Tapi kalo kayak gini bisa ketahuan" Arya menegaskannya.


"Jauh dari pos penjaga" Indra menjawabnya dengan jelas.


Arya langsung berjalan memasuki pintu kandang besarnya yang sudah terbuka. Indra mengikutinya dari belakang, hingga menyusulnya.


"Gini Ya, lu tuh jangan terlalu hati - hati. Tau ngak dunia itu kejam"


Arya hanya mengangguknya.


Topeng kuno itu bergeletak di lantai, sebagian sudah berkarat.


Arya mengambilnya pelan - pelan, dan melihat daging - daging dan saraf - saraf yang melekat di belakangnya sambil membesarkan matanya dengan takjub.


Indra langsung merebutnya.


"Enak aja, ini topeng gw. Dari tadi gw semua yang nanganin" Indra meninggikan nadanya.


Arya melihatnya dengan bengong.


"Tapi, kalo ini gak sampe ke Pak Yanto, kita bakal dipecat." Arya menjawabnya dengan nada yang tegas.


"Ehh, lu tau ngak? Si Yanto aja takut sama gw. Semua anggota geng aja tunduk sama gw, gw yang biayain gang ini. Gabakal berani dia" Indra berbicara dengan angkuhnya.


Arya berdiam dengan wajah yang kesal.


"Terus siapa yang ngejagain kita abis keluar dari geng Pak Yanto?" Arya menegaskannya kembali.


Indra menepuk punggung Arya


"Masa lupa sih, gw kan sahabat elu. Pasti gw jaga elu donk" Indra berbicara secara angkuh sambil tersenyum licik.


Arya melototi wajah Indra. Dia mengusap tangan Indra dari punggungnya.


Indra terus melihati topengnya dengan senyuman yang angkuh. Namun, senyuman di wajahnya menghilang. Indra mendekatkan wajahnya kepada topengnya.


"Kok gini sih" Indra berbisik sambil memejamkan matanya sedikit.


"Jangan terlalu dekat, hati - hati, bahaya" Arya berteriak ke Indra.


Tiba - tiba topeng itu melekat ke wajah Indra. Indra berteriak kesakitan.


"Dra" Arya berteriak dengan tegas. Dia menghampiri Indra. Sekuat - kuatnya dia menarik topengnya dari wajahnya. Sementara itu, kulit - kulit Indra mengerut, dan suara teriakan perlahan - lahan berubah menjadi raungan.


Arya mengambil pisaunya dari kantong pakaian taktisnya. Dia mencoba untuk memotong saraf - saraf dari topeng yang melekat kepada wajahnya.


Indra memukul wajah Arya, dia membantingnya ke lantai, dan menginjak kepalanya. Arya mencoba untuk merangkak dengan gerakannya yang sudah disorientasi.


Indra mengeluarkan goloknya. Arya berdiri perlahan - lahan sambil mendesis kesakitan. Arya berjalan dengan gerakan tidak seimbang keluar dari kandangnya. Arya menyelipkan ranting di celahnya, untuk mengunci pintunya. Indra berlari, menabrak pintunya berulang - ulang kali.


Arya berlari dengan tidak seimbang, dengan desisannya yang lembut, melintasi lorong - lorong candi kuno ini. Namun, Arya tersandung oleh tumbuhan liar, sehingga jatuh.


Arya menarik nafas kesakitan. Dia menutupi luka - lukanya dengan perban. Tiba - tiba terdengar suara langkah kaki dari jauh. Arya mengurungkan keinginannya untuk perban. Dia berdiri perlahan - lahan dengan kakinya yang gemetar kesakitan. Dia berlari dengan tidak seimbang.


Arya menemukan perempatan di candinya. Arya berjalan berbelok ke sebelah kiri, namun menemukan Indra dengan topengnya sedang berdari dengan nafasnya yang keras bagai hawa kematian.


Arya gemetar. Dia reflek berjalan mundur. Tampak sudah tidak ada harapan lagi.


Arya mengambil pistol revolver dari seragam taktis. Dengan tangannya yang bergetar, dia perlahan - lahan menggerakan pelatuk pistolnya.


"Maafin aku" Arya berbisik


Arya menembakan pistolnya kepada tubuh Indra. Indra meraung kesakitan.


Arya menembakannya kedua kalinya. Namun, pistol kehabisan peluru.


Arya langsung berlari ke arah kanan dengan gerakannya yang tidak beraturan.


Suara lari Indra yang aggressive terdengar kembali. Arya terus berlari dengan keringat dingin di seluruh wajahnya.


Tidak lama, Indra meloncat, mendorong Arya hingga terjatuh ke lantai.


Indra membenturkan kepada Arya ke lantai hingga berdarah - darah. Dia mengambil goloknya, dan mengayunkannya terhadap Arya.


Arya menangkap tangan Indra. Dia perlahan - lahan mencoba untuk mendorong goloknya ke belakang. Arya memukul kepada Indra dengan sikutnya, namun pukulannya meleset.


Indra menonjok wajah Arya berkali - kali dengan keras hingga berdarah - darah.


Indra meninggalkan Arya, dia mencari batu di lantai.


Arya berdiri perlahan - lahan, tubuhnya tergoyang - goyang seakan hendak jatuh. Dia berlari dan menonjok kepala Indra dari belakang.


Indra terpantul ke depan.


Arya perlahan - lahan mencoba untuk menonjok wajah Indra.


Indra menangkap tonjokannya, dia membanting Arya, membenturkan tubuhnya ke lantai.


Arya merayap perlahan - lahan dengan tangannya yang gemetar, mencoba untuk meraih golok yang sudah terjatuh. Indra menendang goloknya hingga terpantul jauh.


Indra mengambil serpihan batu dari lantai. Dia mengayunkannya kepada Arya dengan tangannya yang gemetar kesakitan. Arya mengambil pisau dari kantong seragam taktisnya. Dia menusuk selangkangan Indra, hingga darahnya tercurah.


Indra meraum kesakitan, dia mengurungkan untuk memukul Arya, dan menjatuhkan batunya.


Arya mengayunkan pisaunya kepada Indra, Indra menghindarinya.


Indra menonjok Arya di wajahnya hingga bengkak. Indra mengayunkan tangannya kedua kali ke wajah Arya. Arya menangkapnya, dia menusuk urat nadi Indra dengan pisaunya.


Arya menonjok topeng Indra yang sudah sedikit berkarat dengan keras, hingga sedikit retak. Dari celahnya, Arya melihat segerombolan otot dan urat menutupi wajah Indra yang sudah berdarah - darah.


Indra berlari sambil membungkuk hendak mendorongnya. Arya mengambil batu dari lantai, melemparnya hingga menghantam wajah Indra. Wajahnya berdarah - darah.


Arya memotong otot - otot dan urat - urat dari topengnya yang sudah merekat dan menutupi wajah Indra. Indra terus berteriak kesakitan sambil gemetar dan menonjoki wajah Arya.


Akhirnya Arya berhasil mencungkil topengnya dari wajah Indra, hingga kulit wajahnya sobek. Indra gemetar sekatarat, darahnya terus bercucuran. Hingga dia akhirnya mati.


Arya mengambil topengnya. Dia memasukan topengnya ke dalam kantong seragam taktisnya.


Arya berjalan meninggalkan jasad Indra dengan luka - luka dan darah di sekujur tubuhnya. Setiap langkah meninggalkan jejak kaki berdarah - darah.


Tiba - tiba kantongnya bergetar.


"Aduh gimana ini?" Arya berteriak tergesa-gesa sambil menahan bagian kantongnya.


Arya tampak sudah kehabisan nafas. Setiap hembusan nafas mengeluarkan darah dari mulutnya. Arya duduk kelelahan, mencoba untuk menghembuskan nafasnya. Namun, Arya tampaknya tidak tahan lagi, dia berbaring dengan nafas yang tidak beraturan.


Topengnya perlahan - lahan berjalan keluar dari kantong seragam taktis Arya.


"Katanya jangan terlalu hati - hati, kok jadi gini?" Arya mengeluh dengan suara yang sedikit serak.


Topeng sudah menempel di dada Arya.


Selesai.






calendar
07 Apr 2026 13:32
view
9
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig