Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya

Teguh Setiawan

Kisaran

4

Mengikuti

4

Pengikut

Teguh Setiawan

Kisaran
Tentang Penulis

Menulis tanpa kotak.

Tempat,tanggal lahir

Kisaran, 20 November 1996

Media Sosial

Semua

(36)

Puisi

(36)

Cerpen

(0)

Naskah Drama

(0)

Resensi

(0)
Kamis 10 Januari 2019

Bahkan guruh tidak tahu kilatannya menyakiti pertiwi setiap kali ia menangis.

0 Penulis Terpikat
0
33
Rabu 09 Januari 2019

Bertentangan dengan alam, aku jatuh cinta padamu. Melawan gravitasi, relungku melayang-layang.

0 Penulis Terpikat
0
19
Selasa 08 Januari 2019

Ditenggelamkan gelombang senyum manis madumu. Tersedak lalu mati sambil menggenggam tanganmu. Menarikmu ikut bersamaku. Agar laut tahu, kita juga bisa abadi.

0 Penulis Terpikat
0
18
Senin 07 Januari 2019

Bin-yaa, dan sebuah kereta api menujumu. Dalam salah satu gerbongnya. Seorang puan mencumbui jendela kaca dan bersirat atas rindu pada hidup yang akan berakhir di detik berikutnya. ーBersandar kisah kasih bersanding improvisasi; Buah janji sehari sebelum kemarin l...

0 Penulis Terpikat
0
20
Minggu 06 Januari 2019

Selalu ada kupu-kupu yang pulang sebelum subuh. Terbang lewat lorong-lorong yang mengantuk.

0 Penulis Terpikat
0
16
Sabtu 05 Januari 2019

Di rumah tua di pinggir kota kecil. Semilir angin dan gemerisik daun jati. Kucing putih berdebu yang tidur di keramik dingin. Terik matahari yang bebas. Di beranda, duduk di rumah tua. Tak ada suara kecuali gores tinta di lembar kertas. Aroma buku kumpulan sajak...

0 Penulis Terpikat
0
31
Jumat 04 Januari 2019

Aku di sini. Aku tidak pergi. Aku tidak hilang. Aku di sini. Meringkuk dalam hangat kain batik bermotif rindu dan kenangan ibu pada hidup. Ditemani partitur sunyi, bintang mati, dan foto ibu sewindu dulu. Aku di sini. Angin di sini sejuk. Sama hijau dan biru...

0 Penulis Terpikat
0
33
Rabu 26 Desember 2018

Kita semua lupa caranya merayakan ulang tahun bersama-sama. Berfoto setelah rasa malu mendera. Kita lupa rasanya pulang bersama. Tawa, kantuk, dan kepolosan. Serta bohong yang diterima asal lucu jadinya. Kita lupa nikmatnya makan bersama. Diburu waktu dan umur...

0 Penulis Terpikat
0
17
Senin 24 Desember 2018

Dalam pekat kabut akhir April. Tentang mimpi. Tentang harap. Tentang bulan dan langit malam. Bisakah bunda mendengarku? Pahami tarian lebah dan 10 desibel mauku. Narasi buta tentang rasa rindu. Bisakah bunda? Kenapa bunda tersenyum? Lupakah bunda tentang dara, yang se...

0 Penulis Terpikat
0
41
Sabtu 22 Desember 2018

Matamu adalah jendela. Tempatku melihat mega yang menangisi pertiwi. Pepohonan yang merelakan daunnya berguguran. Senyummu adalah taman kecil dengan kolam. Menyejukkan dan teduh, tempat dimana aku menghabiskan sangkala di dalamnya. Jemarimu adalah beranda. Tak...

0 Penulis Terpikat
0
19
Kamis 20 Desember 2018

Terkadang dari matamu sering gerimis. Setelah seharian mega mendung beriring di wajahmu. Lalu kau simpan sungai di antara pipimu, yang mengalir dari pelipis hingga hilir di dagumu. Biasanya banyak burung dan semak liar, serta bangkai pesawat yang terbingkai bias di...

0 Penulis Terpikat
0
28
Rabu 19 Desember 2018

Jangan bersedih! Jangan menangis di ujung minggu macam ini. Angkat kepalamu! Lihat mega-mega menggembala dirinya sendiri.

0 Penulis Terpikat
0
21
Selasa 18 Desember 2018

"Sejak kapan kita berdua menjadi dekat?" Tanyamu. "Sejak senja kalah cantiknya darimu" Jawabku.

0 Penulis Terpikat
0
19
Senin 17 Desember 2018

Aku tidak ingat bagaimana hari ini dimulai. Tapi bersamamu sepanjang hari, menjadikan hari ini tidak bisa berakhir.

0 Penulis Terpikat
0
28
Minggu 16 Desember 2018

Seperti ada yang kurang. Padahal sudah ada kucing di pangkuanku. Segelas kopi di atas meja. Seperti ada yang kurang. Padahal sudah hujan di luar sana. Petir saling silang menyambar rindu. Seperti ada yang kurang. Padahal lembaran tugas tertumpuk renta di ujun...

0 Penulis Terpikat
0
17
Selasa 13 November 2018

Lustrum keempat jenakamu sampai jua. Lebih lucu dari dagelan dulu. Kenakan kosong lebih terbuka. Bak batuk menahun pada Merbabu. Wulang bentala pada basyar kaku. Jangan duduk kaki kaku-kaku. Lebih baik berdiri mengira-ngira. Sampai kapankah kira-kira?

0 Penulis Terpikat
0
31
Senin 12 November 2018

Dari hulu matamu berjatuhan anak-anak ikan. Mondar-mandir cacat arah kelelahan. Sekali dua kali bertatapan dengan palungku. Seperempat jauh jatuh tergugu-gugu. Sepenggal ingin sejengkal langkah. Seringan iman yang merekah. Sebentar biru sebentar merah. Dari Ibn...

0 Penulis Terpikat
0
29
Minggu 11 November 2018

Merajam tubuh dalam duka. Mengais harap. Pahami kumbang yang kagumi bunga. Meski bumi telah mencumbunya dalam kala.

0 Penulis Terpikat
0
24
Sabtu 10 November 2018

Di sengal nafas ibu kota. Antara debu dan peluh. Wangi mawar dan melati dalam narasi. Berjalan bersama bergandeng takdir.

0 Penulis Terpikat
0
25
Sabtu 10 November 2018

Matahari lalu tersenyum. Maka laut menari. Di antara daun yang sendu menjelajahi. Larik bisu.

0 Penulis Terpikat
0
14
Sabtu 10 November 2018

Dipeluk degup kencang rasa takutmu kehilanganku. Takut hujan tak lagi mencumbu bentala. Takut laut tak lagi bernyanyi. Takut pabila takutmu meradang. Di bawah atap bersama sunyi. Basah membengkak menyadari. Takutmu takutku kehilanganmu.

0 Penulis Terpikat
0
22
Kamis 08 November 2018

"Sup apa Bu?" "Babi!" "Bagaimana mungkin persekusi atas uai kulakukan?" Besok pagi, sup hangat kuah kaldu berkelintaran.

0 Penulis Terpikat
0
24
Kamis 08 November 2018

Itu yang menunjukkan afsunmu meski tiada niat kau terangi. Di jengah waktu, maafku lamunmu kutebangi. Ala senyummu asa kusampaikan. Denganmu, masa depan terandaikan. Baik tidur atau jagamu, Bukan lagi abu-abu. Lewat senyum sampai jauh-jauh. Sudah jauh sampai...

0 Penulis Terpikat
0
30
Senin 05 November 2018

Seingatku jendela punya cerita. Tujuh empat limaku di rusuk jendela. Repetisi lakon tuan lesap dan hamba. Katanya pernah ada cerita dan warna, yang direguk selalu tanah dan lupa. Melerai hujan, mencari ihwal, hanya berhenti kala guruh marah betul. Agave pun fe...

0 Penulis Terpikat
0
34
Kamis 08 Maret 2018

Sejak kapan boleh sebuket bunga duduk manis di gerbong satu? Harum, ranum, lantas aku tergugu-gugu. Matanya sayu lamun tegas. Memberi album yang membekas. Deras kelembutan meluruh dari wajahnya. Tanda lahir yang melahirkan rasa. Pipinya membukit merah muda. Bak...

0 Penulis Terpikat
0
23
Jumat 23 Februari 2018

Malam itu gemuruh elegi mega bersahutan. Menyalahkan Afrodit di Olimpus laksana setan. Karena kini relungnya jauh lebih pagan. Dalam dan sangat jatuh pada Rawi yang arogan. Tiga dua puluh, Tuan Guruh jauh lebih tenang. Cintanya berbalasan. Bak syair di hati mert...

0 Penulis Terpikat
0
39
Senin 19 Februari 2018

Sekelebat yang memuncak kala mata kita bertemu. Di jarak rak susu dan rokok lokal. Senyummu yang tanggung lamun semanis susu. Jelas dan fasih menghalau akal. Hari ini mungkin tak saling sapa. Boleh jadi sewindu, anakku memanggilmu mama. Tapi setelah lelakimu m...

0 Penulis Terpikat
0
27
Jumat 09 Februari 2018

Semalam puan absen. Entah ke mana larinya. Biasa mengintip dari jendela bilik. Lazimnya menyirami bunga yang tidur kelelahan. Semalam puan di mana? Hamba cari di surau tidak ada. Kemarin dulu mengaji di sana, atau hamba yang pilong. Semalam hari apa? Kalau...

0 Penulis Terpikat
0
33
Jumat 19 Januari 2018

Dulu aku segelas anggur merah, lalu segelas lagi di meja reyot. Diseruput, disesap, enak katanya. Habis itu matanya merah, putingnya mengeras. Menjadi air wudu yang batal karena kentut. "Anggur merah itu halal, anjing!" Lakon pindah ke bilik sempit. Sekat-sekat triple...

0 Penulis Terpikat
0
60
Rabu 17 Januari 2018

Bisa jadi aku seperti humus basah di depan beranda. Malam ini bermandi keringat, besok pagi kering telanjang. Layaknya kasih untukmu yang sekarang basah. Esok boleh jadi kering disapu roda-roda karet yang sundal. Bisa jadi subuh nanti.

0 Penulis Terpikat
0
55
Selasa 14 November 2017
-

Jangan biarkan embun bunuh diri setelah tahu awaknya membanjur bait yang berpijar. Arahkan badannya untuk tidak menguap sebelum nur menengahi. Tenangkan kalutnya, sudahi cabarnya. Hela nafsinya merasa bersalah, bagi ia menangis. Maka batinnya akan kian bergidik, m...

0 Penulis Terpikat
0
75
Senin 13 November 2017
-

Kala mega masturbasi di lengan minggu. Kau puan itu, memilih bermain mata. Masa baskara malu-malu. Aku tuan itu, memilih bermain rasa. Agaknya getir dan asin. Sepat namun lembut di ujung lidah. Aroma di pangkal niamu hasil kemarin. Menjadikan hari ini tak beruj...

0 Penulis Terpikat
0
94
Senin 13 November 2017
-

Rumah ini senyap. Satu dekade setelah kau lupa caranya bangkit. Genta bait kita mengucap salam. "Cokelat atau kacang?" Sewindu setelah kau lalai mencuci piring. Sendok garpu kita berelegi sedu. "Rinduku berpautan esemmu." Sewarsa setelah kau linglung mana k...

0 Penulis Terpikat
0
87
Kamis 09 November 2017
-

Tampak lusuh pada harap. Lusuh pada harap. Pada harap. Harap.

0 Penulis Terpikat
0
104
Kamis 09 November 2017
-

Seperti mencintai baskara di balik santiran. Menenangkan untuk kukuh bertahan. Meski kadang badai kian binal. Timbul tenggelam lamun bagal. Filantropi padamu adalah perjuangan. Hidup mati adalah visinya. Afeksi untukmu berupa kenangan. Mati hidup adalah misinya.

0 Penulis Terpikat
0
125
Selasa 07 November 2017
-

Terakhir kali bermain harap, atmaku terpalit bintang jatuh. Dicubit konstelasi. Bungkam.

0 Penulis Terpikat
0
81
Teguh belum menulis satupun cerpen
Kamis 10 Januari 2019

Bahkan guruh tidak tahu kilatannya menyakiti pertiwi setiap kali ia menangis.

0 Penulis Terpikat
0
33
Rabu 09 Januari 2019

Bertentangan dengan alam, aku jatuh cinta padamu. Melawan gravitasi, relungku melayang-layang.

0 Penulis Terpikat
0
19
Selasa 08 Januari 2019

Ditenggelamkan gelombang senyum manis madumu. Tersedak lalu mati sambil menggenggam tanganmu. Menarikmu ikut bersamaku. Agar laut tahu, kita juga bisa abadi.

0 Penulis Terpikat
0
18
Senin 07 Januari 2019

Bin-yaa, dan sebuah kereta api menujumu. Dalam salah satu gerbongnya. Seorang puan mencumbui jendela kaca dan bersirat atas rindu pada hidup yang akan berakhir di detik berikutnya. ーBersandar kisah kasih bersanding improvisasi; Buah janji sehari sebelum kemarin l...

0 Penulis Terpikat
0
20
Minggu 06 Januari 2019

Selalu ada kupu-kupu yang pulang sebelum subuh. Terbang lewat lorong-lorong yang mengantuk.

0 Penulis Terpikat
0
16
Sabtu 05 Januari 2019

Di rumah tua di pinggir kota kecil. Semilir angin dan gemerisik daun jati. Kucing putih berdebu yang tidur di keramik dingin. Terik matahari yang bebas. Di beranda, duduk di rumah tua. Tak ada suara kecuali gores tinta di lembar kertas. Aroma buku kumpulan sajak...

0 Penulis Terpikat
0
31
Jumat 04 Januari 2019

Aku di sini. Aku tidak pergi. Aku tidak hilang. Aku di sini. Meringkuk dalam hangat kain batik bermotif rindu dan kenangan ibu pada hidup. Ditemani partitur sunyi, bintang mati, dan foto ibu sewindu dulu. Aku di sini. Angin di sini sejuk. Sama hijau dan biru...

0 Penulis Terpikat
0
33
Rabu 26 Desember 2018

Kita semua lupa caranya merayakan ulang tahun bersama-sama. Berfoto setelah rasa malu mendera. Kita lupa rasanya pulang bersama. Tawa, kantuk, dan kepolosan. Serta bohong yang diterima asal lucu jadinya. Kita lupa nikmatnya makan bersama. Diburu waktu dan umur...

0 Penulis Terpikat
0
17
Senin 24 Desember 2018

Dalam pekat kabut akhir April. Tentang mimpi. Tentang harap. Tentang bulan dan langit malam. Bisakah bunda mendengarku? Pahami tarian lebah dan 10 desibel mauku. Narasi buta tentang rasa rindu. Bisakah bunda? Kenapa bunda tersenyum? Lupakah bunda tentang dara, yang se...

0 Penulis Terpikat
0
41
Sabtu 22 Desember 2018

Matamu adalah jendela. Tempatku melihat mega yang menangisi pertiwi. Pepohonan yang merelakan daunnya berguguran. Senyummu adalah taman kecil dengan kolam. Menyejukkan dan teduh, tempat dimana aku menghabiskan sangkala di dalamnya. Jemarimu adalah beranda. Tak...

0 Penulis Terpikat
0
19
Kamis 20 Desember 2018

Terkadang dari matamu sering gerimis. Setelah seharian mega mendung beriring di wajahmu. Lalu kau simpan sungai di antara pipimu, yang mengalir dari pelipis hingga hilir di dagumu. Biasanya banyak burung dan semak liar, serta bangkai pesawat yang terbingkai bias di...

0 Penulis Terpikat
0
28
Rabu 19 Desember 2018

Jangan bersedih! Jangan menangis di ujung minggu macam ini. Angkat kepalamu! Lihat mega-mega menggembala dirinya sendiri.

0 Penulis Terpikat
0
21
Selasa 18 Desember 2018

"Sejak kapan kita berdua menjadi dekat?" Tanyamu. "Sejak senja kalah cantiknya darimu" Jawabku.

0 Penulis Terpikat
0
19
Senin 17 Desember 2018

Aku tidak ingat bagaimana hari ini dimulai. Tapi bersamamu sepanjang hari, menjadikan hari ini tidak bisa berakhir.

0 Penulis Terpikat
0
28
Minggu 16 Desember 2018

Seperti ada yang kurang. Padahal sudah ada kucing di pangkuanku. Segelas kopi di atas meja. Seperti ada yang kurang. Padahal sudah hujan di luar sana. Petir saling silang menyambar rindu. Seperti ada yang kurang. Padahal lembaran tugas tertumpuk renta di ujun...

0 Penulis Terpikat
0
17
Selasa 13 November 2018

Lustrum keempat jenakamu sampai jua. Lebih lucu dari dagelan dulu. Kenakan kosong lebih terbuka. Bak batuk menahun pada Merbabu. Wulang bentala pada basyar kaku. Jangan duduk kaki kaku-kaku. Lebih baik berdiri mengira-ngira. Sampai kapankah kira-kira?

0 Penulis Terpikat
0
31
Senin 12 November 2018

Dari hulu matamu berjatuhan anak-anak ikan. Mondar-mandir cacat arah kelelahan. Sekali dua kali bertatapan dengan palungku. Seperempat jauh jatuh tergugu-gugu. Sepenggal ingin sejengkal langkah. Seringan iman yang merekah. Sebentar biru sebentar merah. Dari Ibn...

0 Penulis Terpikat
0
29
Minggu 11 November 2018

Merajam tubuh dalam duka. Mengais harap. Pahami kumbang yang kagumi bunga. Meski bumi telah mencumbunya dalam kala.

0 Penulis Terpikat
0
24
Sabtu 10 November 2018

Di sengal nafas ibu kota. Antara debu dan peluh. Wangi mawar dan melati dalam narasi. Berjalan bersama bergandeng takdir.

0 Penulis Terpikat
0
25
Sabtu 10 November 2018

Matahari lalu tersenyum. Maka laut menari. Di antara daun yang sendu menjelajahi. Larik bisu.

0 Penulis Terpikat
0
14
Sabtu 10 November 2018

Dipeluk degup kencang rasa takutmu kehilanganku. Takut hujan tak lagi mencumbu bentala. Takut laut tak lagi bernyanyi. Takut pabila takutmu meradang. Di bawah atap bersama sunyi. Basah membengkak menyadari. Takutmu takutku kehilanganmu.

0 Penulis Terpikat
0
22
Kamis 08 November 2018

"Sup apa Bu?" "Babi!" "Bagaimana mungkin persekusi atas uai kulakukan?" Besok pagi, sup hangat kuah kaldu berkelintaran.

0 Penulis Terpikat
0
24
Kamis 08 November 2018

Itu yang menunjukkan afsunmu meski tiada niat kau terangi. Di jengah waktu, maafku lamunmu kutebangi. Ala senyummu asa kusampaikan. Denganmu, masa depan terandaikan. Baik tidur atau jagamu, Bukan lagi abu-abu. Lewat senyum sampai jauh-jauh. Sudah jauh sampai...

0 Penulis Terpikat
0
30
Senin 05 November 2018

Seingatku jendela punya cerita. Tujuh empat limaku di rusuk jendela. Repetisi lakon tuan lesap dan hamba. Katanya pernah ada cerita dan warna, yang direguk selalu tanah dan lupa. Melerai hujan, mencari ihwal, hanya berhenti kala guruh marah betul. Agave pun fe...

0 Penulis Terpikat
0
34
Kamis 08 Maret 2018

Sejak kapan boleh sebuket bunga duduk manis di gerbong satu? Harum, ranum, lantas aku tergugu-gugu. Matanya sayu lamun tegas. Memberi album yang membekas. Deras kelembutan meluruh dari wajahnya. Tanda lahir yang melahirkan rasa. Pipinya membukit merah muda. Bak...

0 Penulis Terpikat
0
23
Jumat 23 Februari 2018

Malam itu gemuruh elegi mega bersahutan. Menyalahkan Afrodit di Olimpus laksana setan. Karena kini relungnya jauh lebih pagan. Dalam dan sangat jatuh pada Rawi yang arogan. Tiga dua puluh, Tuan Guruh jauh lebih tenang. Cintanya berbalasan. Bak syair di hati mert...

0 Penulis Terpikat
0
39
Senin 19 Februari 2018

Sekelebat yang memuncak kala mata kita bertemu. Di jarak rak susu dan rokok lokal. Senyummu yang tanggung lamun semanis susu. Jelas dan fasih menghalau akal. Hari ini mungkin tak saling sapa. Boleh jadi sewindu, anakku memanggilmu mama. Tapi setelah lelakimu m...

0 Penulis Terpikat
0
27
Jumat 09 Februari 2018

Semalam puan absen. Entah ke mana larinya. Biasa mengintip dari jendela bilik. Lazimnya menyirami bunga yang tidur kelelahan. Semalam puan di mana? Hamba cari di surau tidak ada. Kemarin dulu mengaji di sana, atau hamba yang pilong. Semalam hari apa? Kalau...

0 Penulis Terpikat
0
33
Jumat 19 Januari 2018

Dulu aku segelas anggur merah, lalu segelas lagi di meja reyot. Diseruput, disesap, enak katanya. Habis itu matanya merah, putingnya mengeras. Menjadi air wudu yang batal karena kentut. "Anggur merah itu halal, anjing!" Lakon pindah ke bilik sempit. Sekat-sekat triple...

0 Penulis Terpikat
0
60
Rabu 17 Januari 2018

Bisa jadi aku seperti humus basah di depan beranda. Malam ini bermandi keringat, besok pagi kering telanjang. Layaknya kasih untukmu yang sekarang basah. Esok boleh jadi kering disapu roda-roda karet yang sundal. Bisa jadi subuh nanti.

0 Penulis Terpikat
0
55
Selasa 14 November 2017
-

Jangan biarkan embun bunuh diri setelah tahu awaknya membanjur bait yang berpijar. Arahkan badannya untuk tidak menguap sebelum nur menengahi. Tenangkan kalutnya, sudahi cabarnya. Hela nafsinya merasa bersalah, bagi ia menangis. Maka batinnya akan kian bergidik, m...

0 Penulis Terpikat
0
75
Senin 13 November 2017
-

Kala mega masturbasi di lengan minggu. Kau puan itu, memilih bermain mata. Masa baskara malu-malu. Aku tuan itu, memilih bermain rasa. Agaknya getir dan asin. Sepat namun lembut di ujung lidah. Aroma di pangkal niamu hasil kemarin. Menjadikan hari ini tak beruj...

0 Penulis Terpikat
0
94
Senin 13 November 2017
-

Rumah ini senyap. Satu dekade setelah kau lupa caranya bangkit. Genta bait kita mengucap salam. "Cokelat atau kacang?" Sewindu setelah kau lalai mencuci piring. Sendok garpu kita berelegi sedu. "Rinduku berpautan esemmu." Sewarsa setelah kau linglung mana k...

0 Penulis Terpikat
0
87
Kamis 09 November 2017
-

Tampak lusuh pada harap. Lusuh pada harap. Pada harap. Harap.

0 Penulis Terpikat
0
104
Kamis 09 November 2017
-

Seperti mencintai baskara di balik santiran. Menenangkan untuk kukuh bertahan. Meski kadang badai kian binal. Timbul tenggelam lamun bagal. Filantropi padamu adalah perjuangan. Hidup mati adalah visinya. Afeksi untukmu berupa kenangan. Mati hidup adalah misinya.

0 Penulis Terpikat
0
125
Selasa 07 November 2017
-

Terakhir kali bermain harap, atmaku terpalit bintang jatuh. Dicubit konstelasi. Bungkam.

0 Penulis Terpikat
0
81
Teguh belum menulis satupun Naskah Drama
Teguh belum menulis satupun Resensi

Bagikan Profil

Pilih salah satu pilihan dibawah

Teguh