

Syahdan — ada 3 instrumen mendasar yang mengakibatkan spesies manusia meronta, kalang kabut akibatnya.
Dari semua hal, ini yang sangat menyiksa. Kelaparan acapkali terjadi akibat asimilasi rumit faktor ‘teknis’ dan ‘politik’. Kelaparan telah bertransformasi menjadi sebuah grand design, created by human. Hari hari ini, kelaparan tidak lagi menjelma menjadi sebuah fenomena organik.
Kelaparan Besar Tiongkok (1959–1961) tidak lain karena kesadaran dan ambisi politik yang keliru dari Mao. Utopia Mao, progresi ekonomi dalam beberapa tahun, dimana negara lain harus berjibaku bertahun — tahun.
Mazhab Stalinis yang diamini Mao, yang menekankan pada industrialisasi berat, menjadikan produksi baja sebagai inti menjadi fana. Petani mengambil peran sebagai pemecah batu, menambang bijih besi dan batu kapur, alih — alih bercocok tanam dan bekerja di ladang.
— — —
Fenomena yang mirip — jika tidak sama, terjadi di Indonesia. MBG menjadi salah satu tarekat dan khilafah baru. Tidak ada yang boleh men-disturb atau bahkan mengkritik policy ini. Dan, yang paling pukimak dari semua ini, keracunan. Keracunan dijadikan sebagai matematika dasar. Jika ada yang keracunan 5 dari 20 orang yang menerima dan atau mengkonsumsi MBG, maka program dinyatakan sukses.
Jika Mao mengambil jalan ideologis, Prabs mengambil jalan pragmatis. Ia tau, bahwa kita adalah makhluk yang lapar. Kelaparan menjadi momok menakutkan. Dan itu tidak bisa ditawar. Ihwal pendidikan dan sumber daya intelektual, bisa nanti.
Abad pertengahan terjadilah fenomena wabah hitam (black death). 30–50 juta spesies manusia punah. Diperkirakan terjadi 1347–1352.
Penyebabnya, bangsa Tatar — Mongol melemparkan dan menelantarkan mayat-mayat yang telah terinfeksi.
— — —
Saat itu, jujur Madilog belum ada. Eropa juga mengamini hal ini merupakan azab Iblis, murka Tuhan, hingga faktor peredaran planet. Madilog lahir dari sebelah pabrik sepatu, yang ditujukan untuk masyarakat nusantara. Sayangnya, Madilog hanya dianggap ‘buku keren’ hari hari ini.
— — —
Hal serupa pernah terjadi pada dekade 2000'an. Fenomena wabah yang lahir dari pasar ikan Huanan, pada 31 Desember 2019. Transmisi wabah ini dan kecepatan mutasinya dalam menghasilkan ratusan strain dalam hitungan tiga bulan (yang mempersulit vaksinasi) telah menghasilkan sebuah disrupsi pada Era Disrupsi ini.
Ihwal dari peperangan adalah pendekatan Draconian. Pendekatan Draconian merupakan orkestrasi untuk merespons bahaya, di mana ancaman didefinisikan datang dari pemberontakan, huru-hara, atau bencana alam.
Sejak awal, peperangan didasari pada ketamakan dan kemarahan. Tamak pada hal — hal yang mungkin untuk digapai walau itu merugikan kaum, disisi lainnya kaum yang marah akibat ketamakan yang dilakukan.
Pada akhirnya, inilah yang menyebabkan status ‘darurat’ dilahirkan. Darurat ini adalah sebuah kebijakan yang membolehkan aparat negara menendangmu dengan sesuka hati, dan menginfokan keluargamu, bahwa mayatmu bisa diambil di tempat — tempat tertentu. Setidaknya — itu yang dirasakan masyarakat Aceh kala DOM diberlakukan.
— — —
Darurat militer bukanlah sebuah hisapan jempol. Hak asasi tidak lagi berlaku pada masa ini. Hak asasi secara lahiriah dan batiniah yang terpatri sejak dilahirkan, terkikis dan tidak tersisa.
Pemandangan permainan voli tidak berbusana bagi regu putri, terjadi di Pidie. Tepatnya di Rumoh Geudong. Namun hal ini tidak diakui, dan bahkan Rumoh Geudong dibinasakan, agar tidak tersisa sejarah — sejarah se-kelam dan se-pukimak ini.
Pencopotan gigi menggunakan tang, tendangan Hector Barboza di dada oleh oknum aparat, ini menjadi makanan sehari — hari. Kamu harus hapal Pancasila, jika tidak kamu dianggap separatis.
Pilihan ditentukan sejak penetapan darurat. Apakah kamu ingin menjadi cuak (buzzer dalam tataran hari hari ini) atau kamu ingin tetap idealis, dengan resiko minimal kamu harus memakai gigi palsu selama hidupmu.
— — —
Dikarenakan saya akan di telpon atasan saya karena tulisan ini, dan atasan saya juga lagi membeli rokoknya, maka pada akhirnya saya hanya ingin mengutip pernyataan Pandji Pragiwaksono dalam Mens Rea Tournya, “Pol*s* kita membunuh, T*ntar* kita berpolitik, dan Wapres kita Gibran”.

