

Kita mengabaikan hal besar dengan membiarkan kesedihan hinggap lebih dari jam sebelas malam.
di hari ketigabelas dan segala bentuk pengorbanan bodoh yang kulakukan (dan mungkin juga tidak berpengaruh apa-apa) aku ingin menatapmu malam ini.
membasuh sedih yang berasal dari diriku sendiri.
menemanimu meninabobokan kegundahan lewat hisapan rokok yang mungkin sedang kaubakar dan menolak tidur.
Aku tidak ingin kau kedinginan
atau kepanasan di pulau besar yang kerapkali jadi tempat bagi cita-cita kita berdua membangun karir di dalamnya.
Betapa kita masih tetap berupaya untuk sembuh dari kesakitan yang kita pikul masing-masing.
Aku ingin kau sadari
atas tiapkali kerja keras yang kulakukan justru
melahirkan ketidaksempurnaan dan kecacatan genting
yang mungkin bagimu; nama baikku tidak pernah akan kembali.
tempurung kepalaku berdenyit sedikit berantakan dari biasanya dan nyala alarm tanda darurat ngiung-ngiung di kuping kananku.
pertanyaan-pertanyaan yang kau lontarkan berkembangbiak dengan cara paling menakutkan. Menggerogoti pikiran dan jam tidur. Tapi seperti yang dikatakan banyak orang, hal-hal baik belum tentu benar.
Memulai usia dua puluh empat seperti orang kaya dan orang miskin menyaksikan matahari tenggelam (aku orang miskin, kecemasanku orang kaya). Aku merengek membujuk pada waktu agar ia tidak meninggalkanku. Di sisa pengharapanku dan mengimani bahwa;
"Kita tahu betul kita pasti pernah dibodohi seseorang yang padanya kita letakkan kepercayaan sebesar jagat raya".
--semoga bukan diantara kita berdua.
23/04/25
Bandung

