

aku menanam tomat dua minggu kemarin dan belum sempat memanen. Sial sekaligus lucu, ia mati karena aku terlalu banyak memberi.
memberi pupuk,
memberi air,
memberi cinta.
aku terlalu banyak memberikan sesuatu sampai ia mati. Sampai meredupkan hidupnya. Sampai ia kehilangan tubuhnya sendiri.
lebih sial dan lebih lucunya lagi,
semua yang kupelihara selalu mati bukan dalam kekurangan. Berandai jika tomat itu bisa bicara, ia akan memohon seperti kau untuk kutinggalkan. Jika tomat itu benar-benar hidup, mungkin aku akan membuatkannya puisi, mengabadikannya dalam lukisan lengkap dengan figura atau mencintainya sebagai rasa masam paling besar yang ada di bumi, terlampau besar sampai rasanya ia ingin meledak.
Lalu aku menjawil tomat itu, untuk kusemayamkan dengan luka-lukaku yang batil. Aku harus mengingkari banyak perasaanku sendiri tapi seandainya menjadi mati, atau menjadi yang pergi adalah keselamatan untuk sesuatu yang kucintai,
aku akan menemui kau bersemayam di samping kebun tomatku, atau bersulang di belakang pintu yang sudah kusiapkan untuk kepergianmu. Kini, aku tidak lagi mengunci.
Aku tidak pernah suka perpisahan, tapi aku akan membiarkan semua orang yang menginginkan kehilanganku.

