

Author's note:
Sebuah sekuel dari cerita ekstra pendek pilihan "Di Stasiun Manggarai" karya TulisanFika yang katanya to be continued, entah dari kapan. Jadi saya saja, lah, yang terusin.
Tapi nama Fika diganti dengan Kinan.
***
Kinan tidak berkata banyak. Pikirannya masih berusaha mencerna pertemuan yang dirasa hampir mustahil karena sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, namun nampaknya ada takdir yang berkehendak lain. Apa lagi yang terjadi di luar rencana jika bukan takdir, kan?
Keduanya duduk bersebelahan setelah sudah hampir empat tahun tidak mengetahui kabar satu sama lain, di tempat yang tidak disangka-sangka pula dari seluruh tempat yang pernah dilaluinya selama empat tahun ini - peron Stasiun Manggarai.
Dito mencuri pandang pada wanita disampingnya yang sejak tadi terlihat sangat canggung, membuatnya menjadi sedikit tidak enak seakan kehadirannya sangat tidak dikehendaki si wanita. Tampilannya berbeda dari yang tertinggal di memori terakhir kali ia melihatnya, tentu saja, dulu ia hanya seorang anak SMA culun dan polos, namun anehnya ia masih merasa melihat sesosok Kinan yang dulu. Tentu ia juga tidak menyangka akan dipertemukan kembali secara tiba-tiba di waktu ini, dan yang paling terasa dan tidak ia sangka adalah sebuah beban berat seakan hilang dari pundaknya setelah melihatnya, mengetahui bahwa ia dalam keadaan sehat dan baik, meski wajahnya terlihat sangat lelah di penghujung hari ini.
Hembusan angin beraroma tanah basah dan rumput serta asap-asap kendaraan Jakarta bercampur menjadi satu, membawa serta samar-samar wewangian Kinan yang berbeda dari yang terakhir Dito ingat seperti vanila. Sekarang lembut seperti bunga, mungkin sedikit bau matahari dan keringat yang wajar. Sewajarnya wanita dewasa pejuang KRL.
“Masih pulang ke Depok?” Tanya Dito mencoba mencari bahan obrolan untuk mencairkan suasana yang kaku.
Kinan mengangguk.
“Sama,” ujar Dito meski tak ditanya, karena perempuan itu diam saja. Bisa jadi sedang sariawan, namun Dito hanya dapat berasumsi karena dirinya yakin karakter supel seseorang tidak hilang. Yang perlu ia lakukan adalah memancing percakapan.
“Kamu kerja? Banyak, ya, bawaannya?”
Kinan terkekeh, sadar bahwa ia terlalu kaku dan banyak berpikir bagaimana harus bertingkah walaupun ia mencoba untuk bersikap biasa saja.
“Iya. Tadi habis bantu penelitian dosen untuk acara besok, ini semua kerjaanya.”
“Data penting, itu?” Kinan mengangguk. “Kalau dijual sekarang, dapat berapa kita?”
Kinan menengok pada Dito dengan tatapan aneh karena tidak siap dengan pertanyaan absurd yang dilontarkan Dito tadi. Ia terbahak.
“Selama ini tidak bertemu, ternyata kamu masih gila, kak.”
Dito ikut tertawa, tidak menyangka akan mendengar lagi suara tawa renyah familiar yang pernah sangat ia rindukan. Di lain sisi, Kinan merasakan rindu yang sama akan lelucon garing Dito yang pernah dan hampir selalu menghibur hari-harinya dulu.
Rupanya celetukan tadi mencairkan es di antara keduanya, yang meski masih terasa sedikit canggung namun membuat keduanya merasa kembali ke empat tahun yang lalu. Kinan yang memang pada dasarnya banyak bicara dan sejak tadi menahan-nahan kini memulai rentetan pertanyaan yang mana Dito sangat senang menjawabnya. Kinan bertanya mengapa Dito tidak membawa motor hingga ke Jakarta, jawabnya tak sebanding dengan lelah dan macetnya ibu kota yang semakin tidak masuk akal, serta bensin yang terbuang karena motornya boros. Dito juga bercerita bahwa saat ini tengah mengerjakan proyek paruh waktu yang ia kerjakan di malam hari, sehingga ia bisa menggunakan waktu perjalanan di kereta untuk tidur.
Tak disangka percakapan akhirnya mengalir begitu saja, diawali dengan banyak basa-basi hingga apa saja yang terpikirkan oleh keduanya, semacam life update. Pikir Dito, setengah jam perjalanan dari Manggarai ke Depok Baru terlalu singkat untuk pertemuan tidak terencana ini yang sejujurnya ia harap tidak segera berakhir.
Lucunya, Kinan juga mengharapkan hal yang sama tanpa sepengetahuan Dito. Bagaimanapun, Dito adalah cinta pertamanya, cinta monyet yang meninggalkan suka juga luka di hatinya. Namun bukannya cerita cinta memang seperti itu?
Telepon genggam Kinan berdering. Sebuah pesan dari Ibu masuk yang menanyakan akan dijemput jam berapa di stasiun. Kinan membalas cepat bahwa ia tidak perlu dijemput hari ini karena akan berjumpa dengan seorang teman, sambil berharap keputusannya yang tiba-tiba ini tidak membawa bencana karena Ibu pasti tidak akan memberikan izin jika tahu siapa yang dimaksud.
“Pacarmu?”
“Iya,” jawab Kinan yang masih sibuk menjawab pertanyaan lanjutan dari Ibu, sedikit melirik reaksi Dito yang matanya nampak mencuri-curi pandang pada layar ponsel Kinan meski ia tidak dapat melihat apapun. Jika saja Dito tahu bahwa ia belum pernah lagi memiliki pacar.
“Katanya harus langsung pulang, gak?” Tanya Dito, berharap masih bisa mengulur waktu di sore ini.
Kinan geleng-geleng. “Kebetulan nggak.” Ia menyimpan ponselnya dan menatap pria di sampingnya, tiba-tiba merasakan canggung menatapnya kembali dari jarak yang dekat ini. Mata sayunya, hidung mancungnya yang kini makin tegas karena ia terlihat lebih kurus. Bagaimana seseorang bisa setampan ini pernah menjadi pacarnya yang dulu sangat lugu dan culun - adalah pertanyaan yang selalu ada dibenaknya.
“Kamu lagi buru-buru kak?” Tanya Kinan dengan penuh antisipasi akan rasa malu yang harus ia tahan jika Dito ternyata harus segera pergi.
Dito menahan senyum membayangkan seakan Kinan juga berpikiran hal yang sama dengannya. Padahal memang sama. Ia geleng-geleng kepala menjawab pertanyaannya tadi. “Santai, sih, gak ada yang nyariin juga. Kamu lapar gak?”
Apa-apaan maksudnya, memberikan informasi semacam tidak ada yang mencarinya.
“Lumayan. Mie ayam atau bakso, nggak, sih, kak, hujan-hujan begini?”
“Yuk. Yang ada dua-duanya aja.”
Kinan yang kini bergantian menahan senyum.
Tentu saja, seperti dulu. Mie ayam untuk Kinan dan bakso untuk Dito, karena begitu kesukaan masing-masing. Dito berdiri, menawarkan perempuan dengan senyum manis di depannya bantuan untuk membawa tas jinjing berisi dokumen dan buku-buku yang tampak berat.
“Tapi jangan dijual,” ucap Kinan, namun tentu tidak dihiraukannya dan Dito pura-pura berlari menjauh sehingga Kinan perlu mengejarnya walau malas-malasan untuk memastikan hasil penelitiannya itu benar tidak dijual.
Percakapan yang berlanjut di warung mie ayam bakso di pinggiran Stasiun Manggarai terasa semakin luwes dan hangat, seakan membangun kembali chemistry di antara keduanya yang rasanya masih menyisakan ruang dari masa lalu, seakan selama ini hanya tertidur dan saat ini bangun kembali meski tidak tahu untuk berapa lama. Keduanya terbahak geli mengenang memori saat bersama, tentang seorang anak SMA kelas dua yang baru merasakan jatuh cinta pertama kalinya pada Dito yang dikenal sebagai salah satu pria paling tampan dan baik di sekolah dan menjadi idaman banyak siswi, juga tentang apa-apa saja yang terjadi dalam lima bulan yang indah saat keduanya bersama yang semuanya indah dan menyenangkan, sebelum tiba hari itu. Hari sial yang penuh dengan rasa sakit yang sama sekali belum tersebut sejak tadi.
Keduanya bercengkrama, hangat dan penuh tawa di bawah atap ruangan kecil yang semerbak dengan aroma kaldu tulang sapi dan bau pinggiran stasiun.
Sebanyak Dito dan Kinan saling ingin membahas tentang hari itu, keduanya seakan sepakat secara tersirat untuk tidak membahasnya jika memang hari ini adalah satu-satunya hari mereka berkesempatan untuk bertemu kembali, yang sejujurnya Kinan harap demikian, mengingat sakit yang ia rasakan atas apa yang terjadi. Anehnya, meski dengan keyakinan seperti itu, Kinan merasa khawatir dengan betapa biasanya percakapan ini mengalir, seakan-akan hari ini hanyalah hari lain di masa mereka pacaran dulu.
Dito sendiri pelan-pelan pikirannya berubah yang menjadi sedikit berharap kembali pada wanita di sampingnya. Jika saja ia tidak terlalu kecewa pada dirinya, ia akan memastikan bahwa hari ini tidak akan berakhir sampai disini. Sebesar egonya yang menginginkan Kinan kembali, ia menyadari bahwa ia belum sampai di titik dimana ia merasa pantas untuk Kinan. Begitu pula dengan Kinan, yang meski merasa tidak pernah benar-benar berhenti peduli dan menyayangi pria dengan senyum ramah di sampingnya yang dulu ia tinggalkan, ia masih cukup waras untuk menahan diri tidak berurusan dengannya lebih jauh. Keduanya sadar bahwa perpisahan ini memang jalan terbaik.
Dan keputusan yang baik tidak selalu diiringi dengan bahagia, bukan?
“Kenyang?”
“Kacau,” Kinan geleng-geleng kepala dan menghela nafas. “Porsi kuli ternyata.”
Dito melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul delapan. Terlintas kekecewaan di hatinya yang tengah hangat karena waktu semakin larut, dan kereta tidak akan menunggunya berlama-lama dengan (mantan) kekasih hatinya ini.
“Kamu masih harus pulang sebelum jam sepuluh atau sudah dibebaskan jadi wanita dewasa sepenuhnya?” celetuk Dito.
Kinan tertawa dan menangguk pasrah. “Masih. Umur saja yang tua, tapi selalu dianggap bocil sama ibu dan bapak.”
Betapa Dito ingin mencubit wajah yang dibuat-buat cemberut itu.
Dito merogoh dompet di celana, disaat yang bersamaan dengan Kinan yang bertanya dan berniat untuk membayar, “Jadi berapa, pak, mie ayam pangsit dan bakso urat? Eh, sama teh botol dua.”
“Empat-satu, neng.”
Dito tidak melewatkan momen dan menyodorkan selembar lima puluh ribuan yang sudah ia siapkan pada si Bapak. Kinan menoleh untuk menolak.
“Please, on me,” ucap Dito memaksa. Kinan dengan canggung mengucap terima kasihnya. “Yuk.”
Kinan mengangguk, membawa bawaannya dan berjalan keluar dimana hujan sudah reda. “Aku mau ke toilet dulu. Kamu duluan ke peron saja.”
“Oke. Aku tunggu disana.”
Kinan berbalik badan dan menegaskan langkahnya menuju toilet umum yang sebenarnya untuk menyembunyikan ekspresi di wajahnya yang tidak bisa ia tahan mendengar pria idaman dari masa lalunya akan menunggunya, meski dalam konteks yang sempit ini. Pertemuan ini membawa perasaan yang tidak asing dan membuatnya khawatir jika ia akan berharap waktu lebih dari sekedar hari ini. Namun jika dipikir lagi, apakah salah, jika ternyata Dito saat ini sudah dalam keadaan yang baik dan Kinan melewatkan kesempatan yang sudah diatur sedemikian rupa? Toh, mereka belum membahasnya sedari tadi.
Kinan menatap pantulan dirinya di cermin sambil mencuci tangan. Ia mengambil tisu untuk menyamarkan minyak wajahnya dan mengoleskan tipis lipbalm untuk memberikan sedikit warna di wajahnya agar tidak terlihat pucat.
Sebelum kembali ke peron, langkahnya terhenti di depan minimarket, tiba-tiba terlintas untuk membelikan Dito sebotol kopi karena ia tahu Dito suka kopi, dan hitung-hitung membayar mie ayam tadi yang Kinan anggap hutang.
“Nih,” Kinan menyodorkan botol dingin di tangannya. “Buat kamu.”
Dito melirik botol kopi di hadapannya lalu ke wajah si pemberi yang terlihat kikuk. Ia merasakan matanya berbinar saat menatap wanita itu. Ingin menganggap pemberian ini adalah sesuatu yang spesial namun ia tidak mau terlalu percaya diri.
Suasana Stasiun Manggarai masih ramai saat itu, meski tidak seramai pada jam pulang kerja. Biasanya, stasiun adalah tempat yang paling tidak ditunggu-tunggu dalam rutinitas perjalanan kantor ke rumah yang melelahkan. Walaupun demikian, dengan adanya pertemuan tidak terencana kali ini dengan seseorang yang spesial di masa lalu, rasanya stasiun tidak seburuk itu untuk disinggahi berlama-lama.
“Nan,” panggilnya, merasakan dorongan impulsif setelah memikirkan kemungkinan bahwa tidak akan waktu lain selain saat ini untuk berbicara. “Gak ada yang ingin kamu tanya?”
“Soal apa?”
Dito berdehem, seketika tenggorokannya terasa penuh. “Empat tahun lalu.” Ia menangkap raut emosi di wajah lawan bicaranya berubah, meski tidak ada yang bergerak. “Pun jika tidak ada pertanyaan, sejujurnya aku merasa berhutang penjelasan padamu. Tapi jika dipikir lagi, masih perlu, tidak, ya?”
Kinan tidak menjawab. Ia merasa harus berpikir dahulu, namun ia seperti lupa cara berpikir saat ini.
“Mungkin,” ucap Kinan pada akhirnya. “Tapi-,” Kinan khawatir bahwa ia akan menangis, dan menangis di stasiun sepertinya terlalu dramatis. Apalagi di depan Dito. Ia tidak ingin menangis di depan Dito.
Dito menunggunya melanjutkan kalimat, namun sepertinya tidak akan.
“Takut sedih?”
Kinan terkekek, bahkan saat ini saja matanya sudah berair.
Dito menghela nafas. Wajah Kinan tidak terlihat karena ia menunduk. Dito sendiri sebenarnya tengah berusaha menahan diri untuk tidak terlalu terbawa memori dan rasa bersalah di masa lalu karena dadanya terasa sesak memikirkannya. Kini keduanya tidak saling berbicara, larut dalam bisingnya stasiun dan suara petugas melalui pengeras suara yang memberitahukan bahwa kereta tujuan mereka tiba sesaat lagi.
“I broke a lot of hearts that day, including yours,” ucap Dito pelan, wajahnya menatap kosong ke depan. “Aku minta maaf.
“Aku minta juga minta maaf karena baru meminta maaf sekarang. Entah mengapa aku pikir kau akan lebih baik jika aku tidak ada dalam kehidupanmu lagi, bahkan untuk sekedar minta maaf. Namun mungkin kita dipertemukan sekarang karena urusanku belum selesai - aku memang harus meminta maaf kepadamu.”
Kinan hanya mengangguk kecil, masih tertunduk. Kinan tentu sudah memaafkan sejak lama, ia sudah berdamai dengan sakit di hatinya. Meski demikian, memori itu tetap ada, dan tidak dapat dipungkiri bahwa warna harinya akan selalu sedikit biru ketika mengingatnya. Ia memaafkan karena ia pikir hari ini tidak akan ada, bahwa mereka akan benar-benar tidak akan pernah melihat satu sama lain lagi. Namun ternyata Jabodetabek memang sempit, ternyata mereka masih menggunakan kereta dengan jurusan yang sama, dan pada akhirnya takdir membawa keduanya bertemu lagi di hari ini.
Ia memaafkan, namun hatinya belum pernah merasa selega ini setelah mendengar ucapan maaf langsung dari Dito.
Kinan menghela nafas, sejujurnya masih ingin diam saja di kursi besi ini dan larut dalam perasaannya. Sayangnya ia harus pulang, dan kereta yang akan membawanya telah tiba.
“Oke,” ucap Kinan, sambil bergegas. Dilirik pria disampingnya yang tangannya menggenggam erat botol kopi pemberiannya tadi hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas menahan gejolak emosi yang tengah melanda. Ia hampir tidak berani menatap wajah nanar si pria, namun ia yakin ia akan lebih menyesal jika tidak menatapnya.
Maka ia menatap pria itu.
Dan tersenyum.
“Terima kasih, rasanya aku belum pernah merasa selega ini. Aku harap kamu juga sudah lebih lega, setelah ini.”
Dito ikut tersenyum, setuju bahwa hal tersebut benar. Hatinya terasa lega.
Orang-orang mulai berbaris menunggu pintu kereta terbuka. Kinan beranjak dari duduknya, dan Dito dengan siaga membawa berkas-berkas Kinan sebelum ia sempat menyentuhnya.
“Nan,” potong Dito sebelum mereka berjalan mendekati orang banyak. “I’m still struggling, just so you know.”
“I know,” balas Kinan, meski sejujurnya ia tidak tahu. Baru saja tadi ia berharap akan ada kesempatan selain hari ini dengan Dito yang ia pikir sudah dalam keadaan yang lebih baik. Namun dengan ini semuanya terjawab tanpa keraguan.
“Aku tidak berharap apa-apa lagi darimu, just so you know.”
“Ouch?” ucap Dito berlagak sakit atas ucapan Kinan, yang memang sedikit menyakitkan namun ia setujui adalah yang terbaik bagi keduanya. Keduanya tertawa.
“Ya, sudah, ayo lanjut ngobrol lagi di kereta. Waktu kita kurang lebih tinggal kurang dari sejam,” ucap Dito sambil cemberut. Kinan juga ikut cemberut, namun wajahnya membuat Dito tersenyum.
“Tanyain saja, apa-apa yang mengganjal dipikiranmu. YOLO, Nan,” ujar Dito santai. “Eh, YOMO - You Only Meet Once.”
Kinan terbahak. Dito dengan lawakan garingnya.
Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Depok Baru tidak dilewatkan semenitpun tanpa cerita - mulanya, akhirnya, semuanya, tanpa ditutup-tutupi lagi. Cukup atau tidak cukup, inilah sisa waktu yang mereka miliki.
***
EPILOG
Karena menolak tawaran ibu untuk datang menjemput, Kinan segera membuka aplikasi jasa ojek online di ponselnya untuk memesan agar ia tidak terlalu lama menunggu dalam perjalanan arus manusia menuju pintu keluar. Dito di sisi lain memang selalu membawa motor yang ia titipkan di tempat penitipan.
“Dijemput?”
Kinan geleng-geleng. Dito melirik layar ponsel Kinan yang tidak asing dengan tampilan hijau khas.
“Aku antar, ya?” Dito membaca raut wajah Kinan yang terkesan ragu. “Janji, gak akan nguntit ke rumah, atau stalking Instagram kamu setelah ini. No more feelings involved. Sudah mati rasa - disengaja tapi.”
Kinan terbahak. “Kamu pernah nguntit, ya?”
Dito terkekeh. “Pernah sekali-dua kali, dulu banget, tapi selalu tidak ada siapa-siapa.”
“Dua kali atau tiga kali?”
Dito mengangkat kedua bahunya, menolak untuk menjawab, yang menghasilkan tonjokan pelan pada lengan Dito.
“Aku jalan sendiri aja, kak. Santai, kok.”
Dito terlihat ragu meninggalkan anak itu sendirian, meski jelas bukan kali pertama ia jalan sendirian. “Beneran?”
Kinan mengangguk mantap dengan senyuman, lalu mengulurkan tangannya.
“Kerjaan dosennya, kak, jangan kamu embat.”
Dito tertawa, hampir lupa dengan bawaannya itu.
“Hati-hati, Nan,” ucap Dito, masih sambil memandang wanita manis di depannya dengan rasa tidak rela harus berpisah. Namun, Kinan berhak mendapatkan yang lebih baik, dan ia tidak ingin menjadi penghalang dari kesempatan yang akan datang kepadanya.
“Hati-hati, Kak Dito.”
Keduanya akhirnya berpisah dengan sedikit rasa hampa di hati masing-masing. Dito berjalan menuju tempat motornya terparkir, merogoh selembar sepuluh ribuan untuk biaya titip dan sebatang rokok untuk ia nyalakan sebelum pulang sembari memandang sesaat langit keabuan di depan, yang tanpa bintang atau bulan. Gloomy weather, adalah latar yang sangat mewakili perasaan hatinya.
Saat motornya melaju keluar dari area parkir, dilihatnya dari kejauhan Kinan yang masih berdiri di luar stasiun. Ia agak mengumpat karena meninggalkannya untuk pulang sendirian, meski Kinan juga yang memaksa. Tapi rasanya ia akan sangat menyesal jika membiarkan anak itu menunggu lebih lama, maka ia menghampirinya dan berhenti di hadapan Kinan.
“Belum dapat, Nan?”
Kinan tersenyum, meski tampangnya sedikit gusar. “Belum.”
“Cancel aja, aku antar. Anggap aja ojek.”
Kinan ragu.
“Ayo, sepertinya mau hujan lagi.”
Memang benar, cuaca sedang hujan terus-terusan kala itu. Sepertinya tidak salah jika ia hanya menerima tawaran Dito untuk diantar pulang. Toh, ini Dito. Kinan akhirnya mengiyakan dan naik ke atas motor dengan perasaan yang mengganggu. Ia diam-diam terkekeh ketika melihat motor itu lagi, tak menyangka akan menaiki kembali motor hitam yang sama yang pernah sering mengantarnya kemanapun ia mau, yang ternyata Dito perhatikan dari spion motor.
"Kangen, kan, naik motor keren ini?"
Kinan tertawa. "Sudah tua, pantasnya masuk museum.”
Belakangan memang hujan sedang betah mengguyur Jabodetabek, sehingga angin malam terasa dingin meski Kinan telah mengenakan jaketnya yang ia tutup rapat hingga tudung kepala. Keduanya tidak banyak bicara saat di motor, karena memang sulit mendengar ucapan satu sama lain melawan gemuruh angin di telinga, kecuali sambil setengah berteriak. Maka baik Kinan dan Dito menikmati sisa perjalanan yang ada dalam diam.
Kinan mengeratkan pegangannya pada tas dokumen yang ditempatkan di pangkuannya karena ia merasa terlalu canggung untuk menempatkannya di pinggang Dito.
Dahulu Dito akan sengaja mengambil rute yang paling jauh saat mengantar Kinan pulang ke rumahnya, dan hampir saja ia lakukan jika tidak langsung sadar bahwa malam ini berbeda dari malam yang sudah-sudah. Terakhir ia mengantar Kinan pulang, hubungannya masih menjadi pacarnya. Sayangnya sekarang adalah pacar orang.
Kinan menyadari bahwa Dito memelankan laju motornya. Entah apa maksud sebenarnya namun ia tidak mempermasalahkannya.
Kinan melirik jam di tangannya, pukul sembilan kurang. Terlintas kegelisahan jika ia tiba di depan rumah dan ada yang melihatnya kembali bersama Dito meski hanya sebatas tidak sengaja bertemu dan mengantar pulang untuk hari ini saja, karena biasanya ibu dan bapak masih menikmati teh hangat sambil berbincang di teras depan rumah sebelum waktu tidur. Sempat terbesit untuk meminta Dito menurunkannya tidak di depan rumah, namun rasanya hanya akan memperburuk situasi karena kemudian ia harus berbohong pada orang tuanya dan mungkin menyakiti hati Dito.
Dan benar saja, bapak tengah duduk santai bersila ketika motor Dito tiba di depan rumah, yang awalnya tidak terlalu menggubris kehadiran keduanya karena dipikirnya adalah abang-abang ojek. Namun melihat Kinan yang mengobrol dahulu dan tidak langsung memasuki rumah menarik perhatian bapak akan siapa yang baru saja mengantarnya.
“Em, mau masuk dulu?” Tanya Kinan.
Jika saja semua masih seperti dulu, Dito pasti akan singgah dahulu. Berusaha mencuri hati bapaknya Kinan dan mengajaknya berbincang tentang apa-apa saja yang membuatnya menyukai Dito.
“Langsung pulang saja. Tapi mungkin salam dulu sama bapak, dari tadi melirik kesini.”
Kinan setuju, memimpin jalan masuk ke pekarangan rumah dengan Dito mengikuti di belakangnya. Terlihat bahu bapak menegang, meski wajahnya tenang dengan senyum tipis di wajahnya.
“Om,” sapa Dito dan menyambut jabatan tangan bapaknya Kinan.
“Dito, apa kabar?”
“Baik, om. Om dan tante bagaimana kabarnya?”
“Kami baik-baik juga.”
Dito melirik Kinan dengan harapan ia memiliki saran untuk apa yang harus dilakukan selanjutnya, hanya untuk menemukan Kinan yang memiliki ekspresi yang sama.
Di tengah kecanggungan di teras malam itu, ibu muncul di ambang pintu, dengan wajah yang sama kagetnya seperti bapak tadi saat mengetahui siapa teman yang Kinan maksud, meski berusaha ia tutupi dengan senyum ramah. Tentu pikirannya berkecamuk, melihat teman pria Kinan itu datang kembali setelah sekian selama. Apakah keduanya saat ini menjalin hubungan kembali, pikir Ibu, karena ia sudah dengan tegas memastikan agar Kinan tidak lagi berhubungan dengannya.
“Tante,” sapa Dito ramah dan menyalami tangan ibunya Kinan. Dito yang merasakan ketegangan segera membuat penjelasan sebelum muncul spekulasi yang akan merugikan Kinan lebih lanjut. “Tadi kebetulan bertemu Kinan di Stasiun Manggarai sepulang kerja, Dito izin antar karena Kinan tidak kunjung dapat abang ojek,” jelasnya, yang entah kenapa membuat hati Kinan terasa sangat sedih mendengarnya harus membuat penjelasan seperti itu.
Ibu melirik Kinan dengan tatapan penuh pertanyaan sembari menyambut salaman Dito.
“Terima kasih, Dito. Bagaimana kabarnya saat ini? Kabar mama?”
“Dito baik, tante. Mama-papa juga.”
Pikir Dito, dengan ia berlama-lama disini sepertinya tidak akan menguntungkan Kinan yang harus berhadapan dengan ibu dan bapaknya setelah ini, maka Dito putuskan untuk segera pamit.
“Dito langsung pulang ya, tante,” lalu ia melirik Kinan yang wajahnya murung. “Nan,” sungguh, hatinya terasa patah untuk yang kedua kalinya melihat sedih di wajah wanita yang ia kasihi dan tidak ada yang dapat ia lakukan. “Take care, ya.”
Dito tersenyum sebelum berbalik badan dan pergi meninggalkan rumah Kinan, bersamaan dengan Kinan yang segera meninggalkan teras dengan rasa sedih di hatinya untuk menghindari pertanyaan yang sudah berisik di kepalanya meski belum ada yang benar-benar keluar dari mulut siapapun.
“Kinan,” panggil ibu meminta penjelasan dan menghentikan langkah Kinan.
“Ibu sudah dengar sendiri dari Dito tadi. Kebetulan bertemu di Stasiun, baru hari ini. Kalau ibu pikir Kinan masih berhubungan diam-diam, tidak benar, bu.” Kinan berbalik badan dan berjalan tergesa menuju kamarnya, genangan air di matanya tidak tertahankan lagi dan ia biarkan jatuh malam itu. Di kamarnya. Ia mengerti dan telah merelakan Dito, namun entah mengapa ia menjadi sedih kembali setelah pertemuan keduanya malam itu.
***
Author's note (lagi):
Pertanyaannye: itu si Dito dulu abis ngapain sampe-sampe emak-bapaknya Kinan seprotektif itu????
Hehe the end.

