

Entah sudah Senin yang keberapa,
namanya masih saja bergaung di telinga.
Dedaunan berbisik, mengulang cerita,
angin bersiul lirih, ikut tertawa.
“Sungguh nestapa dirinya,”
mungkin dinding kamar ingin mengatakan itu sejak lama.
Semua yang ku pendam selama ini tak ada guna.
Lalu, sia-sia sudah tujuh tahun memendam rasa,
jika pada akhirnya
tetap bukan aku yang di pintanya

