

Di setiap jeda malam yang lirih,
ketika langit menurunkan sunyinya perlahan,
aku menyebut namamu
dengan cara paling rahasia.
Aku tak pernah lalai
menitipkan bahagiamu pada Tuhan.
Kusebut langkah-langkahmu
agar tak pernah tersandung luka,
kusebut senyummu
agar tak pernah redup oleh dunia.
Ada titik-titik panjang
di ujung doa-doaku,
tempat namamu tinggal,
tanpa perlu kupaksa.
Aku mencintaimu
dengan cara yang tak pernah gaduh.
Kubiarkan kau tumbuh perlahan,
di sela hari-hari yang berjalan
tanpa pernah menoleh ke belakang.
Kujaga ia seperti rahasia kecil.
tenang di permukaan,
namun riuh di dalam dada.
Dan ketika malam terlalu sunyi,
ketika pikiranku tak lagi punya tempat bersembunyi,
sebuah tanya datang perlahan, mengetuk tanpa bersuara.
Terselipkah aku di sana, di doa doamu juga
meski hanya sekilas?
Adakah aku di sana,
di antara harapanmu juga?
Aku tidak minta lebih, cukup satu baris kecil
yang kau bisikkan dengan sungguh,
seperti aku yang tak pernah lupa
menyebutmu,
bahkan saat dunia lupa padaku.
aku hanya ingin tau
apakah aku juga hidup
di ujung doa doamu juga?

