oranment
play icon
Sepenggal Kisah Manusia Kuat
Cerpen
Kutipan Cerpen Sepenggal Kisah Manusia Kuat
Karya nanasghina
Baca selengkapnya di Penakota.id

Aku selalu memahami apa-apa saja yang dilakukannya, sebagai seorang ibu. Meski menurutku ada beberapa hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Terkadang aku sebal disaat ia mulai mencuci pakaian adikku yang tak pernah kenal pekerjaan rumah itu, yang setiap harinya selalu membuat onar, merokok, mengamen, membentak adiknya, bahkan membentak ibu. Aku tak suka saat ibu bersikap seolah mempraktekkan pemikiran bahwa senakal apapun adikku, separah apapun adikku memperlakukannya sebagai orang tua, ia tetap anaknya yang merupakan tanggung jawabnya. Aku selalu tak suka cara ibu memperlakukan adikku dengan tidak sebagaimana mestinya. Aku tahu, meski tak selalu tampak pada raut wajahnya yang kelelahan setiap malam bekerja membantu ayah. Aku tahu meski ibu tak pernah mengeluh tentang kelakuan anak-anaknya yang sering kali melelahkan hatinya. Aku selalu tahu apa yang dirasakannya. Aku selalu merasakan apa yang ia rasakan.


Aku berusaha memahami segala bentuk kasih sayang yang ia coba curahkan kepada anak-anaknya meskipun seringkali dengan cara yang tak ia mengerti dan membuatku kesal. Aku mencoba menghargai tiap usaha yang ia lakukan untuk membuat anaknya percaya bahwa ia masih mampu menghidupi mereka, ia masih mampu membawa anaknya kepada kehidupan yang lebih layak, sebagaimana yang ia tahu, tugas orang tua adalah memastikan bahwa anaknya tidak kekurangan sesuatu apapun demi tetap mempertahankan kehidupannya. Meski dengan segala kekurangan yang ia punya, dengan segala kelemahan yang ia sendiri tak tahu bagaimana cara mengatasinya, ibu selalu berusaha entah bagaimanapun caranya. Ibu tak ingin anaknya dipandang rendah oleh orang lain, tak ingin anaknya menjadi sepertinya. Meskipun aku tahu, menjadi seorang ibu tidak pernah tak melelahkan. 


Aku senang memandangi wajahnya ketika ia terlelap dalam lelah setiap malam. Merasa bersalah tiap kali ingat bahwa sikapku terhadapnya tak selalu manis, menyesali perbuatanku yang pernah membuatnya menangis. Memandangi wajahnya sama seperti melihat cerminan diriku di masa depan. Iya. Aku juga akan jadi seorang ibu, entah bagaimana caranya, entah dengan jalan apa aku bisa menjadi seorang ibu. Suatu saat nanti, aku akan menjadi sepertinya.


Raut wajahnya yang sudah banyak diliputi keriput meskipun usianya belum terbilang sangat tua. Bagiku, ia masih tetap akan terus menjadi muda. Tapi kenyataannya, sikapku yang terkadang membuat hatinya luka, kekhilafanku yang seringkali membuatnya kesal, kenakalanku yang selalu membuatnya murka setiap harinya ikut menambah beban di punggungnya. Aku bahkan belum tahu pasti bagaimana cara mengurangi beban yang tak terlihat itu, yang selalu terpancar dari raut wajahnya yang sayu meski tak pernah absen dari bedak dan lipstiknya yang merah. Aku tak pernah berpikir bahwa dandanannya yang terkadang kelewat menor itu adalah sebuah usaha untuk menutupi kesedihannya yang terlalu sendu, menyamarkan kerutan yang setiap hari bertambah karena ulah anak-anaknya. Memikirkan bagaimana kelangsungan hidup anak-anaknya besok, mau makan apa, bagaimana cara mendapatkan uang untuk membiayai kuliahku, mendapatkan selembar dua lembar uang agar adik kecilku bisa jajan setiap harinya. Setiap rupiah yang ia dapatkan sesedikit apapun itu, ia selalu menyimpannya beberapa, ditabung untuk kemudian dibayarkan setiap jatuh tempo waktu pada seseorang yang dahulu meminjamkannya uang. Aku selalu sedih mengingatnya, melihat diriku yang belum bisa memberi apa-apa selain menyusahkannya dengan tanggungan biaya kuliahku dan kebutuhan lainnya. Betapa ibuku ini pintar melebihi ayahku yang dahulu selalu mendapat ranking di sekolahnya, betapa ibuku ini selalu punya cara untuk mensiasati kehidupan yang semakin hari semakin pahit dan tak ramah kepadanya. 


Aku tak pernah lelah memahami sikapnya yang sering kali membuatku kesal, karena kesabarannya yang terlalu, karena ketidakberdayaannya menghadapi sikap adikku yang bajingan itu. Karena segala usaha yang dia lakukan agar suatu saat harapannya, melihat adikku akhirnya sadar bahwa hidup bukan sekedar merokok, merengek minta duit, sekolah, dan nongkrong saja. Harapan agar adikku menjadi laki-laki yang bertanggung jawab atas semua ucapan, tindakan, dan perbuatannya meski akupun tak melihat setitikpun kesempatan untuknya berubah suatu saat nanti. Tapi tidak dengan ibuku, entah perjalanan hidup seperti apa yang telah membuatnya menjadi manusia paling tidak biasa, manusia yang penuh dengan harapan meski seringnya dikecewakan oleh harapan itu sendiri. Kepada adikku, separah apapun kenakalannya, ibu selalu menaruh harap, bertaruh keyakinan suatu saat adikku akan menjadi manusia yang layak, menjadi seseorang yang bisa ia banggakan didepan keluarga besar yang selama ini sering memandangnya sebelah mata. Membuktikan pada orang-orang yang selama ini meremehkannya karena belum satupun dari anak-anaknya yang bisa memberinya kabar bahagia. Ibu selalu punya harapan untuk anak-anaknya.


Keberadaannya di hidupku, selain karenanya aku bisa hadir ke dunia, membuatku ingin sekali menjadi sepertinya. Menjadi seorang ibu. yang penuh kesabaran meski tak selalu terlihat, yang penuh kasih sayang meski tak tahu cara yang tepat untuk menyampaikannya, yang penuh dengan harap yang selalu terpancar pada kedua bola matanya yang sayu. Aku ingin menjadi ibu seperti ibuku. Aku ingin menjadi manusia yang juga disayangi anak-anakku seperti aku menyayangi ibuku, selalu.

calendar
05 Oct 2020 21:44
view
98
wisataliterasi
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig