

“Kamu bilang katanya bintang ingin mengobrol denganku, malam ?”
“Bintang sedang sakit. Mungkin bulan yang akan menggantikan.”
Kesal sekali mendengarnya, sudah tau pula malam ini tak ada bulan. ~
“tak usah banyak bercanda. Banyak yang ingin ku tumpah-ruahkan. Kau tau itu ”
“hei, malam kenapa malah diam saja? Tak bisakah kau undang mereka untuk sebentar mengobrol denganku?”
Ah menyebalkan. Tak ada yang hendak mendengar.
“Lantas, untuk apa kau mengundangku. malam?”
Tapi sebentar, suara apa gerangan ?
Seperti musik pengiring.
benar saja dugaanku. Alunan itu mengiringi boneka raksasa-yang ketika berjalan seperti tak punya keseimbangan. Entah karena badannya yang besar atau apapun itu. Tak paham.
Yang kelak aku ketahui, sebangsaku menyebutnya ‘ondel-ondel’.
Alunannya ... membawaku sejenak pada memorian di masa kecil~
Di sore hari. Dari kejauhan terdengar gaduh sekali beramai-ramai orang mengiringi alunan musik dan boneka raksasa ‘ondel-ondel ’. Teman-teman yang ada didekatku saat itu, antusias berlarian ingin menonton. Tertinggalah aku seorang diri, menangis histeris dan malah berlari ke rumah.
Tapi kau tau? Didalam rumah aku mengintip dibalik gorden jendela. Aku menontonnya. Aku berdecak kagum "hebat sekali ada orang membuat boneka sebesar itu".
Jadi, sebenarnya apa yang benar-benar kutakuti sampai berlari kerumah? Padahal dibalik jendela aku ikut menonton juga . Yang jelas, dalam bayanganku saat itu. Beramai-ramai orang mengiringi alunan musik dan ondel-ondel adalah hal menyeramkan. Seperti mau diterkam saja,mhhee.
“kau masih saja terjaga nona?”
“kau bicara apa malam? Bukankah selalu saja kau yang menciptakan kesenduan sampai aku selalu terjaga”
“Jadi, malam ini kau berhasil mengobrol dengan siapa, nona?”
“Tidak dengan siapapun. Seperti malam-malam biasanya. Bahkan malam ini, kau tega sekali tak hadirkan bintang dan bulan untuk mendengarkan riuhnya kepalaku “
“beberapa hal, memang sebaiknya kau sendiri yang mendengarnya.”
“lalu, bagaimana?” lanjutnya.
“apanya yang bagaimana malam? “
“tentang ondel-ondel itu . Kau masih takut?”
Kepalaku penat sekali. Aku tak ingin menjawabnya. Lagipula, saat kecil itu aku tidak benar-benar takut pada ondel-ondel. Hanya sajaa...
Entahlah~
Burung-burung mulai berkicau kesana kemari. Seperti fenomena pagi biasanya.
Tidak ada yang lebih menyenangkan sekaligus menakutkan selain memulai hari.
Seringkali aku berjalan dua langkah lebih cepat. Lalu setelah itu, ketakutan membuatku mundur seribu langkah.
Selalu saja berulang setiap harinya.
Tetapi pagi ini, aku teringat ketakutanku pada ondel-ondel di masa kecil. Ketakutan yang bukan sebenarnya takut. Lalu apa yang membuatku takut?
Perasaan .
Tidak ada yang lebih membuat takut. Kecuali perasaan.
Begitu pepatahnya berbunyi.
Aku mengangguk setuju.

