

"Ada makanan apa Pak?" tanya anak kecil itu sembari memegangi perutnya yg kelewat kurus, matanya terlihat lelah untuk anak yang belum genap berusia enam.
Jam dinding lusuh menunjukkan pukul sembilan malam.
"Belum ada, Nak. Besok kalau dagangan Bapak laku, kita beli ayam kentaki ya. Kesukaanmu kan itu," jawab Bapaknya, menaruh harap dalam sisipan kata yang diucapkan pada si anak.
"Tapi dari dulu, masker jualan Bapak gak laku terus..."
"Iya, sabar ya. Doakan besok masker Bapak laris manis, jadi Bapak bisa beli ayam kentaki untuk kamu."
"Sama es doger, boleh Pak?"
Bapak mengangguk. Si anak lantas berdoa dalam hening, dgn kalimat sederhana tanpa dikte, melangitkan harap demi harap pada Dia yang ada di singgasana langit.
Esoknya, sebelum ada aba-aba kentara, kota beton itu secara mendadak diselimuti abu vulkanik. Manusia cemas mulai muncul satu persatu. Pesan berantai sibuk masuk-keluar-masuk ke ponsel-ponsel mereka. Hari itu, kecemasan ada di tengah panggung bak peran utama disorot lampu megah.
Anak itu, yang bermain di pinggir jalan, belum paham sepenuhnya.
Yang ia tau, siang itu ia akhirnya bisa mengisi perutnya dengan ayam kentaki dan es doger kesukaannya.

