

Puisi
Pulo Lasman Simanjuntak
TUNTAS
duka siapa mau menyergap di rimba kamarmu yang purba- tak pernah berkelamin dengan matahari pagi
hanya sepotong roti tua disuguhkan pria perkasa bersenjatakan roh ketakutan digelar di meja judi tertangkap angin jahat pada tiap dinihari
kini kita saling menjaga jarak- ruang dan waktu tak pernah lagi saling bertemu kadang kita masih rindu menulis berita tentang kapal digital, samudera raya, dan air laut yang merembes sampai ke penjara di benua orang-orang mabuk kekayaan
sekarang tersisa hanya doa berdarah saudara- bersaudara sejam masa kanak-kanak
rasa sesal mengapa dulu kita tak lagi rajin berenang di sungai membusuk depan rumah
atau menghitung sejumlah perkawinan retak mulai dari pewarta muda, pujangga teler sampai perwira mualim yang sempat terjebak mengurai kesepian di rumah bordil
Jakarta, Jumat 15 Juli 2022
IBADAH TANAH MERAH
dimulai dari kecemasan yang terus membara kuhitung waktu di bawah matahari semua sia-sia kekayaan di bumi sodom dan gomora
diperlihatkan jelang pagi iring-iringan menembus paru-paru kota kawan di sebelahku tak lagi pandai bercerita
tiba di sini tak ada lagi tangisan makin gemuk kugali lobang beton tergesa-gesa
nyaris membentuk sebuah koor kematian dan penderitaan
Jakarta, Minggu 17 Juli 2022
--------------------------------------
Biodata :
Pulo Lasman Simanjuntak, dilahirkan di Surabaya 20 Juni 1961.Jebolan Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP- Jakarta).
Sejak tahun 1980-2022 ini puisinya telah dimuat (dipublish) diberbagai media cetak (koran dan majalah), media online, media sosial dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
Karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan menerbitkan buku antologi puisi tunggal ke-8 berjudul BILA SUNYIKU IKUT TERLUKA.
Karya puisinya juga ikut serta dalam 16 buku antologi puisi bersama.
Bekerja sebagai wartawan dan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

