Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

Mengenang Bacaan Masa Kecil: Totto-Chan (Gadis Cilik di Jendela)

Oleh rasyidfaqihh

Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela.


 


Judul asli                    :  Totto-chan, The Little Girl At  The Window


Judul terjemahan        :  Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela


Penulis asli                 :  Tetsuko Kuroyanagi


Alih bahasa                :  Widya Kirana


Penerbit                     :  PT Gramedia Pustaka Utama


Halaman                    :  272 halaman


Cetakan                     :  Cetakan kesepuluh: Oktober 2011


ISBN                         :  978-979-2-3655-2


 


Sinopsis: 


Totto-Chan tidak mengerti mengapa ia harus pindah sekolah, hanya Mama yang tahu alasannya. Beberapa hari sebelumnya, Mama Totto-Chan dipanggil oleh wali kelas untuk menghadap. Wali kelas bilang, ia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Totto-Chan selama di kelas, dan meminta anak itu untuk dikeluarkan dari sekolah. Mama lantas kebingungan, perbuatan apa yang telah dilakukan anaknya yang baru duduk di kelas 1 itu. Dari sana ibu wali kelas bercerita bahwa Totto-Chan pernah membuka tutup mejanya ratusan kali, itu membuat gaduh para murid lain yang sedang belajar. Totto-Chan sempat memanggil rombongan pemusik jalanan untuk bermain di depan kelasnya,  lalu ia juga pernah mengajak berbicara sepasang burung wallet yang sedang membuat sarang dan banyak lain halnya. Mendengar cerita ibu wali kelas tentang tingkah anaknya itu, Mama merasa harus mengambil sikap, dengan memindahkan Totto-Chan ke sekolah lain. Yang cocok dan bias mengerti bagaimana cara mendidik Totto-Chan dengan tepat. ~


 


Sekolah baru Totto-Chan bernama Tomoe Gakuen. Dari penampakannya saja, sekolah ini punya konsep yang unik, mereka tidak punya ruangan kelas. Yang ada hanyalah gerbong kereta yang disulap menjadi ruang kelas untuk belajar. Totto-Chan senang sekali dengan sekolah barunya, ia tak sabar bertemu dengan kepala stasiun. Yang juga sebenarnya kepala stasiun yang dimaksud oleh Totto-Chan adalah Kepala Sekolah tomoe gakuen, namanya adalah Sosaku Kobayashi, atau biasa dipanggil Mr. Kobayashi. Pertemuan perdana Totto-Chan dengan kepala sekolah dibuka dengan Totto-Chan yang bercerita Panjang lebar selama 4 jam lebih tanpa henti dan kepala sekolah yang tekun mendengarkan dengan antusias, sampai akhirnya Totto-Chan kehabisan materi cerita dan akhirnya berhenti dengan sendirinya. semenjak hari itu Totto-Chan menyukai kepala sekolah, ia merasa dihargai dan aman bersamanya.


 


Tomoe Gakuen punya banyak kebiasaan unik, dan tidak biasa, tidak seperti kebanyakan sekolah konvensional pada masa itu. Hal ini memang dirancang kepala sekolah untuk membangun karakter anak yang sedang berkembang. Mr Kobayashi punya cara cara baru untuk mengajarkan sesuatu dan membuat anak anak tertarik dan akhirnya belajar lebih cepat dan tepat. Contohnya dari kelas yang terbuat dari gerbong kereta, kewajiban membawa bekal ‘sesuatu dari laut dan sesuatu pegunungan’, sampai dengan pelajaran yang bernama eutmik, yaitu latihan mendengar, juga merasakan irama dengan semua anggota tubuh. Tattoo chan hampir tidak percaya dia bersekolah di tempat seseru itu, apalagi disana ia mendapatkan sahabat sahabat barunya, yaitu Takahashi, Miyo-Chan, Sakko, Taiji, dan juga Oe. Di Tomoe Gakuen, tattoo chan belajar banyak, bukan hanya dari buku, tapi dari apa yang ada di sekitar kita, alam, teman, masalah, dan juga permaianan.


 


 


Kelebihan:


Pertama, buku ini bercerita tentang Pendidikan, bagaimana cara menumbuhkan minat dan bakat anak dengan cara yang berbeda, yang ternyata malah lebih efektif dan cocok untuk perkembangan anak. Walau punya latar belakang jepang di tahun sebelum perang meledak. Tapi nyatanya buku ini tetap punya relevansi yang kuat, apalagi untuk Pendidikan indonesia sekarang. Akan sangat pas bagi calon pengajar/guru/akademisi dalam mengetahui sudut pandang anak dalam belajar dan berkembang.


 


Kedua, mudah dimengerti. Buku ini tidak menggunakan diksi yang bermacam ataupun metafora yang nantinya akan membingungkan bila anak anak yang membacanya. Juga disusun oleh bab yang pendek, dengan potongan potongan cerita yang ringan, sehingga cocok untuk bacaan santai jika ingin berhenti sekali kali.


 


Ketiga, Tetsuko Kuroyanagi, sang Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, yang menjadi narrator setiap kisah Totto-Chan. Walaupun baru disadari saat pertengahan bahwa ternyata Totto-Chan itu adalah sang penulis, tetsuko kuroyanagi itu sendiri, masa kecilnya di Tome Gakuen. Seperti membaca diary tapi tidak ada kata “aku”di dalamnya.


 


Keempat, buku ini punya akhir cerita yang cukup menyedihkan, bom Hiroshima dan Nagasaki. Mengingat buku ini adalah nonfiksi dan semua ceritanya benar terjadi. Rasanya sedih sekali harus membayangkan sekolah Tomoe Gakuen harus hancur dengan cara seperti itu dan tidak berhasil dibangun kembali oleh Mr Kobayashi setelahnya.


 


 


Kekurangan:


banyaknya karakter pendukung yang tidak utuh dimensi ceritanya. Hanya diceritakan sekilas sebagai pelengkap, juga tidak terkait antar tokoh lainnya. Padahal ceritanya memuat banyak karakter yang cukup unik, dan punya peluang diolah dengan porsi yang lebih baik. Banyak bab mengulang formula bercerita yang sama, juga hanya berfokus pada totto-chan seorang, membuatnya cukup monoton, jika tidak diselingi berhenti beberapa saat untuk minum secangkir kopi.


 


 


Catatan Pribadi:


Buku ini adalah hadiah ulang tahun dari bibi, yaitu buku kedua dan terakhir yang beliau berikan sebagai kado, setelahnya tak ada. Pertama adalah Saga No Gabai Bachan, oleh Novelis jepang juga. Buku pertama aku baca langsung selesai, tapi Totto Chan hanya setengahnya, kalau tidak salah itu kelas 1 atau 2 smp. Lalu akhirnya kemarin menemukan ia di tengah komik Naruto, kasihan sekali, tak tega akhirnya aku baca (lagi). Hehe.


 


Rasanya berbeda sekali, membaca buku yang sama di usia yang berbeda. Mungkin soal refrensi yang belum terjangkau atau relevansi terhadap materi dan issue. Setidaknya sekarang saya lebih mengerti (sedikit) apa yang dimaksud oleh pengarang dan pesannya dalam tulisan itu. Mungkin dulu terlalu sulit memahaminya, dan jadinya aku malah tidak ingat sama sekali buku itu ceritanya tentang apa. Mana mengerti dulu, soal Pendidikan, soal perang, atau soal baik buruk, atau tulisan yang baik dan tidak hehe. mana tahu. Walau sekarang tahunya baru (sedikit) juga. 


 


Terima kasih sudah membaca hehe.

Sabtu 06 Juli 2019
113
5 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Rasyid Faqihh

rasyidfaqihh

Suka menulis. Sampai mati ingin begitu saja.

Tuliskan tanggapanmu tentang Mengenang Bacaan Masa Kecil: Totto-Chan (Gadis Cilik di Jendela)

Baca karya Rasyid lainnya

Mengenang Bacaan Masa Kecil: Totto-Chan (Gadis Cilik di Jendela)

Resensi oleh Rasyid Faqihh

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah