Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Minah dan Suami Barunya

Oleh rasyidfaqihh


Minah tahu betul suami barunya ini, bukan sembarang orang yang mudah memaafkan, ketika kopi lupa diisi gula, atau kancing bajunya yang nomor empat luput dijahit atau ketika sendalnya yang sebelah entah kemana. Bisa-bisa naik pitamnya hanya sehitungan suara lalat yang sedang melintas. Cepat, dan juga menganggu. 

 

Pernah di pagi yang kelihatannya akan baik-baik saja. Kardun berteriak dari ruang tamu, hampir mengegerkan sekampung paskibra yang sedang latihan upacara. Ia ingin menonton berita politik yang sedang terjadi. Pria ini jago sekali bila ngomong begitu. Hafal ia politis siapa, dengan politisi yang mana, yang tadi malam beradu bodoh di sebuah stasiun televisi, hafal sekali ia. Namun niat itu kandas, karena remote tv tak ia temukan sedari tadi. 

 

Selanjutnya adalah Minah yang jadi bulan-bulanan juga tahun-tahunan kemarahan seorang suami yang tak kunjung menemukan remotenya di pagi hari. “ngakulah!, kau yang nonton tv semalam kan?”. Minah hanya terunduk, tak ingin menjawab. “dimana hey?” Kardun makin mendesak. Setelah ini, aku tak ingin menonton tumpukan kebodohan dari layar kotak itu, gumam Minah dalam hatinya. Sambil sibuk mencari remote sialan itu, diiringi oleh omelan Kardun dengan muncrat liur yang tak tertahankan.

 

Minah hanya menjawab bahwa suaminya itu bak beruang di atas ranjang. Bukan sejenis yang kalian lihat dikebun binatang dalam keadaan mabuk, duduk sempoyongan diam, lalu menyilang kaki menunggu di foto. Ini ia yang sedia melahap, merobek, juga tak enggan menjadikanmu sebuah bangkai. 

 

ibu-ibu yang mendengar cerita itu berfikir bahwa beruang tersebut adalah pengandaian suami yang tangguh, juga perkasa, atau sebagainya. Namun Minah sendiri tidak punya tujuan menjadikannya suaminya pujaan ibu-ibu atau apapun. Ia hanya ingin bilang bahwa Kardun memang beruang. Sejatinya binatang.

 

“buka bajumu!” pekik suami berperut gendut itu menuju ranjangnya. Selama ini Minah hanya bisa pasrah, “angkat!” teriak Kardun memaksa. Adalah kesialan yang dihadapi perempuan ranum dan mungil itu untuk malam-malam berikutnya. Ia hanya akan bergumam dengan kata-kata yang tak jelas selama proses pembuahan yang biadab itu.

 

Sialnya tidak ada yang akan percaya sebuah tragedi bisa terjadi di ranjang rumah sendiri. Satu dua orang percaya bahwa embun berasal dari air mata seorang perempuan yang menangis di ranjangnya, menetes melalui seprei, melewati dinding, dan entah bagaimana tiba di ujung daun putri malu. Yang lainnya akan tertawa cengegesan lalu bilang, jangan dipersoalkan, begitulah adanya perempuan.

 

Tentunya bukan Kardun yang bilang demikian, ia tak punya susunan kata seperti itu. Bicara saja tak lancar, apalagi berteori. bisanya cuman teriak-teriak dan minum ciu, lalu di malam hari memuntahkan omong kosongnya pada Minah yang tak berdaya. “balik badanmu Minah! cepat! cepat!”, paksa Kardun dengan kasarnya. Namun Minah sendiri hanyalah diam, kesalnya sudah susah dijelaskan. 

 

Ia akan senang sekali bila seseorang memberikannya sebuah belati saat itu juga. akan disimpannya di laci rias paling atas, akan sewaktu-waktu ia keluarkan dengan anggun dari sarangnya. Minah selalu berfikir ia harus punya senjata rahasia, yang dalam sekali hitungan akan muncul di tangannya. Sebuah pisau kecil, yang akan menjadi penyebab kematian seseorang.

 

Hingga pada sebuah shubuh, Minah terbangun oleh dengung yang berputar di sekitar bantal berbunganya. Ia duduk di tepian kasur, nafasnya coba ia kembalikan. Peningnya bukan main saat ia berusaha berdiri, apalai perutnya, bak dihantam martil besar. Cepat-cepat Minah lari ke wc, dengan sempoyong dan tertatih. Hampir seluruh hidupnya keluar dalam sekali muntahan itu. padahal yang Minah lihat disana hanyaliurnyayang tak seberapa. Kakinya pun gontai, tangannya apalagi, dari tadi tak kuat mencengkram apapun untuk memapah badannya.

 

Pagi itu berjalan begitu lambat dan luat dan berulang bagi perempuan yang sedari tadi bolak balik wc. Bila disebut hajat, bisa juga, karena memang ada yang dituntaskan ketika Minah menyondongkan mukanya ke arah kloset menyebalkan. Seolah di tengah lubang itu tertulis jelas sebuah pertanyaan yang penuh ragu akan kondisinya sekarang, akankah orang lain atau Kardun tahu soal ini?,pikir Minah kepada dirinya setelah membasuh muka, juga tengkuk lehernya yang pegal.

 

jangan ditanya berapa kali ataupun jumlahnya. Tak mungkin orang yang sedang begitu kacaunya, dengan sadar menghitung kemalangannya sendiri. yang dipikirkan Minah hanyalah satu hal, benarkah ini terjadi padanya, benarkah sekarang waktunya?. Kali ini ia cukup lama terdiam di wc.

 

Tentunya Kardun juga di sana. Awalnya dia biasa saja dan acuh akan adanya aktivitas berulang itu. Hingga kelamaan ia menyadari, ada sesuatu yang terjadi pada Minah. Ia hanya melirik panjang, memerhatikan dan menerka apa yang Minah lakukan di wc dari tadi. 

 

apa ia beser?, atau sedang halangan, atau yang lainnya? pikir Kardun sedari tadi. Minah keluar dari kamar mandi, dengan kaki yang lemah dan tak kuat. baru saja ingin melangkah keluar, keseimbangan Minah goyah. Kardun reflek bergerak mendekati. Namun belum sampai Kardun berdiri, Minah dapat kembali menemukan pijakannya, melanjut berjalan ke kamar. Kardun memerhatikan Minah yang berlalu.



Senin 08 Juli 2019
310
5 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Rasyid Faqihh

rasyidfaqihh

Suka menulis. Sampai mati ingin begitu saja.

Tuliskan tanggapanmu tentang Minah dan Suami Barunya

Baca karya Rasyid lainnya

Minah dan Suami Barunya

Cerpen oleh Rasyid Faqihh

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah