Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

Anak Dari Kardun

Oleh rasyidfaqihh

Ia tak berhenti sedari tadi. Jemarinya asik membentuk pola gerak itu. Jempol kanan yang ia sentuh dengan jari manis kirinya. Terus dilakukannya berulang kali.


Mataku mengerling, berusaha mengikuti ketukan jemarinya. Sulit sekali. Ketika genangan air membentuk bulat di tengah sungai, dua jemarinya akan cepat sekali menari mengikuti jumlah lingkaran yang mengambang setelah itu. Ia pengamat yang baik.


“Apa nanti sore bapak pulang?” Ia bertanya, walau tak menoleh ke arahku langsung.


Senyap yang disebabkan oleh belumnya aku menjawab, beruntung sekali disalib oleh burung prenjak di depan kami. Asik berciut, mengomentari satu sama lain. Suara mereka mengisi kekosongan udara di pohon pohon pinus. Juga jadi birama untuk perdu di sepanjang sungai. Kini perdu itu leluasa menari, oleh prenjak yang tanpa sadar sedang mengiringi.


sebelumnya yang kami miliki hanya deru arus paling konstan. Sekali dua kali membentur granit —itu-itu lagi. Hingga lama, aku baru sadar, bahwa arus itu selalu di sana. Menemani sedari tadi, lebih dari para perenjak. 


tuh kan, mereka pergi juga.


Nia memalingkan wajahnya, kembali menatap arus yang memelan. Juga jemarinya yang balik memadu mesra. 


“Kalau menurutku, bapak pasti pulang” Ketukan jemarinya berhenti saat kalimat itu keluar.


“Bukan hanya soal itu nia” 


Daun yang kupegang, telah tamat jadi serpihan kecil. Tak bisa lagi disebut daun. Kini ia jatuh, bergabung dengan teman-temannya. Menjadi tanah.


“Lalu apa bang?” 


“Bapak sudah janji,…”


Kudengar suaranya lirih, juga aku yang pedih membayangkannya.


“Abang juga dengar kan tadi? bapak bilang begitu kan?


Pertanyaan perempuan memang sulit untuk dijawab. Dan lelaki, termasuk aku —sepertinya tidak punya kemampuan untuk menjawabnya. ingin sekali aku menenangkan nia, oleh jawaban-jawaban yang sekiranya membuat kejadian tadi pagi cepat terlupa. Tapi aku cuman abangnya, terlebih aku laki-laki.


“Aku tidak tahu Nia, semoga saja” Mataku mengekor perginya burung-burung itu, berlabuh di langit sembarang. 


Nia menoleh, mengikuti arah pandangku. 


“Apa artinya selingkuh bang?” 


Aku hanya meliriknya sekilas. 


“Maksudku,..” 


“Apa mereka tidak lagi jadi bapak dan ibu, setelahnya?” ia memalingkan wajah. Walau begitu, aku tahu, bibir dan tangannya gemetar bilang begitu.


Aku tidak ingin menoleh, sangat tidak mau. Tidak tahan tepatnya, bila harus melihat dua tangis perempuanku rebah dalam seharian ini. Sudah ibu memaki dirinya sendiri, padahal kan, ya bapak yang main sama perempuan lain. Malah sekarang nia-ku.


Harus kulihat dirinya temaram dan basah.


Lengan kaosku di tariknya pelan, “jawab bang.” Pintanya tak mungkin aku tolak.


Kini tubuhku membenarkan posisinya. Ku balik badan dengan hati-hati. seperti akan adanya berita besar yang menggoncang bumi, aku telah siap. 


aku yakin sekali, dari tadi nia asik menangis. hingga matanya akan sembab, merah, dan pipinya kusam oleh noda dan debu yang berusaha ia lap dengan telapak tangan. Suaranya akan parau, juga napas yang terengah saat minta dijelaskan, kenapa bapak membentak ibu begitu kerasnya. Dia kira akan demikian, aku pun berpikir demikian.


namun yang ada didepanku tidaklah begitu. Tiba-tiba saja, ada hentakan amat besar yang keluar dari mata adikku ini. aku menegakkan pinggang, berusaha lebih fokus, menatap sepasang cahaya yang ia miliki. Kian hari mirip ibu.


Memang benar, pipinya kusam, serta kecoklatan di bawah pelipisnya. Namun kulihat mata nia begitu terang, pupilnya membesar, juga alis yang runcing. Membuatku kian getir. Yakin seperti apa yang dia dapatkan dari anak sungai ini. Sendu seperti apa pula yang ditangkapnya dari para angin yang sepi. Hingga suaranya deru dan merdu.


“Yang aku tahu…” 


Dua ekor prenjak datang menghampiri kami


“Bapak sayang kita bang…”


Mereka bernyanyi kembali.




Selasa 16 Juli 2019
281
1 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Rasyid Faqihh

rasyidfaqihh

Suka menulis. Sampai mati ingin begitu saja.

Tuliskan tanggapanmu tentang Anak Dari Kardun

Baca karya Rasyid lainnya

Anak Dari Kardun

Cerpen oleh Rasyid Faqihh

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah