

Gadis itu memeluk sekotak cracker dan memakannya dengan anteng.
"Jangan sok manis di depanku, Lizzy" kataku dengan mata yang masih terpaku pada buku.
"Tidakkah kau menyebut itu penghinaan, Az?" dia menudingku dengan setengah crackernya. Aku mengernyit.
"Hei, tidak masalah kau orang seperti apa, tapi aku benci orang yang sok polos."
Dia meletakkan kotak crackernya di meja, lantas memangku dagunya dengan kedua tangan, memaksaku memfokuskan seluruh atensiku padanya.
"Dan aku membenci orang yang terlalu jujur. Yah, kita semua membenci orang, Az. Bahkan terkadang kita tidak tau penyebabnya. Tapi, jika semua orang seperti yang kau harapkan, kukira tak ada yang menyenangkan. Wah, pasti membosankan. Tak ada menghargai. Respect. Toleransi. Menurunkan ego. Semacam itu. Terasa hanya boneka yang diproduksi massal."
Percakapan di samping jendela yang mengembun,
13.43

