

ragaku bersenai senandung
pada sekumpulan ilalang
diterpa angin menjelang petang
melihat kembali sosok yang
sedari lampau tak hilang ingatan
menyaksikan kekalutan
isi kepalaku
rasanya..
ingin ku binasakan saja memorinya
sialnya justru larut
dalam tuai pujian.
kadang-kadang
aku juga hanya bisa diam
bila segalanya terlalu rumit
ku biarkan saja waktu yang menyelesaikan.
satu, dua hingga seribu doa
yang ku panjatkan
sampai akhirnya aku kerasan
lalu hanya ingin
lebih banyak berdialog
saja pada Tuhan
atau menyendiri di kamar.

