

Sabtu pagi
hujan mengguyur kota hingga petang
sudah reda rupanya
namun yang di wajahmu?
tak kunjung mereda jua
bagai langit disambar petir
datang menghantui kepala gadis itu
kacau, mencekam dan hitam.
diamnya rapi,
seperti sarang burung yang teratur
pendar matanya sayu
bagaikan kelopak mawar yang layu.
ku kirimkan puisi dan segelas teh hangat
untuk menemani merayakan kesedihan,
sesederhana mungkin
agar bisa dinikmati dunianya
aku mencintainya dalam dekap malam
yang tak luruh oleh kayu bakar
yang menjadikannya abu.
Tak banyak bicara,
Sesekali saja
Hanya berdua dengan isi kepalanya
Yang berkerumun seperti semut-semut kecil berjalan.
Merayakan kesedihan, sekali lagi.

