Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
RESENSI

Darwish yang Asing dan Palestina yang Nestapa

Oleh ruwaidahanwar

Judul : Pecinta dari Palestina


 


Penulis: Mahmoud Darwish


 


Penerjemah: Fazabinal Alim


 


Penerbit: Diva Press


 


Tahun: 2020


 


Tebal: 168 hlm


 


Selain Edward Said, kini saya mengenal satu nama lain lagi untuk mengenal Palestina, yaitu Mahmoud Darwish. Sosok penyair yang rupanya sangat masyhur dan karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Lewat puisi Fakkir Bighairik (Thinks of Other) yang dinyanyikan oleh Nai Bargouthi, penyanyi Palestina yang sekarang bermukim di Belanda saya mengenal Mahmoud Darwish. Di saat yang sama, saya menemukan buku kumpulan puisi Darwish dijual secara online di akun Instagram Diva Press. Saya tidak bisa menahan diri untuk membelinya.


 


Memang harus diakui bahwa kepala saya cukup miskin soal Palestina. Saya hanya mengenal negara itu sebagai tempat berperang. Dan apa yang banyak tersebar di Indonesia adalah berita-berita tentang itu. Tentu saya adalah anak muda yang bersyukur karena lahirnya terjemahan puisi-puisi Mahmoud Darwish. Untuk merayakannya saya ingin berbagi kepada sahabat pembaca dua bagian awal puisi Darwish yang ia tulis pada tahun 1964 dan 1966 kendati puisi ini ditulis ke dalam lima bagian.


Dimulai dari kumpulan puisi yang ia tulis pada tahun 1964 yang diberi tema Daun-Daun Zaitun. Pada bagian satu ini terdapat 13 puisi yang bercerita tentang ketabahan, kesengsaraan, perpisahan dan keluarga. Bagian awal puisinya yang berjudul “Kepada Pembaca” Darwish dengan baik menuturkan ketabahan atas kegetiran yang menimpanya dalam dua bait kalimat yang begitu indah.


 


Telah kubabtis kesedihanku


Lalu aku berjabat tangan dengan rasa asing dan kelaparan


(Kepada Pembaca, hlm. 22)


 


Dalam banyak pengalaman personal, kepedihan dan penderitaan menjebak seorang manusia larut dan terdiam ke dalam kubangan perasaan tersebut. Saya mencoba menerawang, kepedihan macam apa ya yang dirasakan oleh orang-orang yang terusir dari negerinya sendiri ? Tentu hal ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dengan dua baris bait di atas, Darwish mendorong setiap yang menderita untuk berjabat tangan (berdamai) dengan perasaan tersebut, bukan memendam atau menentangnya. Darwish juga menggunakan kata “baptis” yang bermakna pembersihan atau penyucian secara spiritual untuk proses bangkit dari kesedihan. Artinya atas nama keterpurukan dan kesengsaraan Darwish mendorong kita untuk sembuh dari semua luka dan trauma yang menjelma dalam relung diri akibat peperangan yang belum berakhir. Ketabahan yang dikonsepkan oleh Darwish juga ditemukan dalam bait puisinya yang berjudul Elegi.


 


Telah kuhimpun lukamu, ayahku


Dengan bulu mata sajakku


Lalu semua mata menangis


Sebab kesedihanku... sebab apiku


Lalu kucelupkan rotiku ke tanah...


Tanpa meminta belas kasih tetangga!


(Elegi, hlm. 25)


 


Ada dua puisi Darwish dalam bagian satu ini yang ditulis secara naratif dan panjang, yaitu Ia Kembali... dalam Kain Kafan dan Surat dari Pengasingan. Darwish menggambarkan bagaimana perang di negerinya telah memisahkan ia dari seorang kawannya. Ia menulis dengan melibatkan keseluruhan ruang personalnya yang mampu membawa pembaca ke dalam puisinya dan mendorong pembaca masuk dalam kesunyian untuk mengenang yang telah tiada dalam do’a yang intim.


 


Orang-orang berkisah tentang negeri kami


Orang-orang berkisah tentang kepiluan


Tentang kawanku yang tealh pergi


Dan kembali dalam kain kafan


*


Dulu namanya...


Ah, jangan kalian sebut namanya!


Biarkan ia dalam hati kami...


Jangan ada kata-kata


...


Ibu!


Jangan cabut air matamu dari akarnya


...


Ia berbicara dengan langit setiap harinya


Lalu berkata : “wahai kafilah langit!


Darimana kalian melintas ?


...


Orang-orang berkisah tentang negeri kami


Tentang banyak teman-temanku


Peluru terbakar di pipinya


Di dadanya... di wajahnya...


(Ia Kembali... dalam Kain Kafan, hlm. 26-29)


...


Bagaimana kabar kakak perempuan kami ?


Apakah sudah tua... sudah adakah yang melamarnya ?


Bagaimana kabar nenekku


Apakah ia masih seperti dulu, duduk di pintu ?


Mendoakan kami


Dengan kebaikan ... dengan masa muda ... dan pahala !


Lalu bagaimana kabar rumah kami


Juga pintu masuk yang licin... tungku... dan pintu - pintu!


(Surat dari Pengasingan, hlm. 32-33)


 


Pada bagian dua, temanya berjudul Pecinta dari Palestina dan diambil menjadi judul terjemahan kumpulan puisi ini. Bagian dua puisi ini merupakan 17 puisi yang ditulis Darwish pada tahun 1966. Tidak banyak yang bisa saya bagikan dalam bagian ini selain perasaan-perasan tersayat yang muncul akibat dalamnya kata-kata yang dipilih penerjemah dalam menyampaikan pesan-pesan Darwish. Darwish banyak menyebut “Ibu” pada bagian ini. Apakah kata “Ibu” itu ia lekatkan secara konotatif pada tanah airnya atau ia memang secara denotatif merujuk pada ibu biologisnya? Tetapi yang perlu ditekankan di sini adalah bagaimana perasaan seorang anak yang harus pergi dari negerinya akibat perang. Ia meninggalkan teman-temannya, kebiasaan-kebiasaanya, sudut-sudut rumahnya yang telah merekam sejarah hidupnya serta seluruh kemelekatan lain antara dirinya dengan negerinya. Ia mengenang jalan-jalan yang ia lewati, perbukitan dan bintang gemintang yang sering ia perhatikan di atas permukaan tanah rumahnya, wangi roti yang dihidangkan ibunya, serta kepulan asap tungku dari rumahnya.


 


Aku rindu roti Ibu, Kopi Ibu , Dan belaian Ibu


...


Aku begitu menyayangi hidupku, sebab,


Bila aku mati


Betapa malunya aku pada tetes air mata Ibu!


Bawa aku, bila esok hari kembali


Sebagai syal untuk bulu matamu


Dan tutupilah tulangku dengan rumput


Yang dibaptis kesucian tumitmu...


...


Taruhlah aku, bila aku kembali


Seperti ketika kau nyalakan api dalam tungkumu...


Dan seperti meletakkan tali jemuran di loteng rumahmu


Karena aku telah kehilangan kekuatan untuk berdiri


Tanpa do’a di siang harimu


(Kepada Ibu, hlm. 60)


 


Puisi-puisi Darwish banyank melukiskan tragedi, penderitaan dan kerinduan atas tanah airnya. Peristiwa-peristiwa pasca perang dimana puisi-puisi ini ditulis telah memanggil seluruh memori penulisnya untuk menyuarakan yang tidak terdengar oleh orang lain atas penindasan kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Palestina yang diciptakan Tuhan dengan segala macam limpahan keindahan serta sebutan “bumi para Nabi” yang disematkan atas kemuliaan terlahirnya orang-orang suci di sana, tentu saja merindukan perdamaian yang abadi sebagaimana orang-orang suci itu telah menciptakan damai di sana untuk mencegah hilangnya darah dan nyawa akibat permusuhan.


 


Akhirnya, saya hendak menyampaikan bahwa puisi Darwish harus tetap hidup , didaras, dan dinyanyikan. Ia adalah ruh daripada kemanusiaan itu sendiri. Ia memanggil jiwa kita untuk juga bersama dirinya menyerukan perdamaian. Inilah cara Darwish, seorang penyair asing yang harus dikenal dan dikenang. (rwd)


 


 

Selasa 15 Desember 2020
151
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Ruwaidah Anwar

ruwaidahanwar

Ma Lino Institute

Tuliskan tanggapanmu tentang Darwish yang Asing dan Palestina yang Nestapa

Darwish yang Asing dan Palestina yang Nestapa

Resensi oleh Ruwaidah Anwar

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah