Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
CERPEN

SEIKAT PADI DAN SEEKOR SAPI

Oleh ruwaidahanwar

Waktu itu padi sedang di masa krici. Orang di Jawa biasa menyebutnya dengan masa bunting atau masa susu. Banyak burung pipit yang datang mendekat di pagi hari saat matahari muncul dan di waktu sore menjelang matahari tenggelam. Biasanya Redo ditugasi ibunya untuk menjaga sawah.


Kadang Redo membayangkan luas sawah yang dititipkan Haji Mebo kepada orangtuanya bisa dibangun empat buah rumah lengkap dengan halaman dan garasi mobil. Kaya betul Haji Mebo itu. Sebab, para pendahulu dan Haji Mebo sendiri mempunyai status sebagai Glarang, yaitu tuan tanah pada masa penjajahan dahulu. Hampir semua persawahan di kota ini miliknya. Tapi beliau sangat dermawan, buktinya, sawah-sawah itu ia serahkan ke warga untuk digarap. Salah satu sawahnya itu digarap oleh orangtua Redo tiga kali setahun. Dua kali menanam padi dan satu kali menanam palawija.


Daerah Lewi merupakan dataran rendah. Para petani tidak kesulitan air. Orang-orang menamainya “Lewi” yang bermakna daerah subur. Hasil panen setidaknya ada sekitar dua puluh tiga karung padi. Orangtua Redo akan menyimpan padi-padi itu untuk makan sehari-hari sepanjang tahun. Sekita lima atau enam karungnya akan dikirim ke rumah Haji Mebo menggunakan benhur, sejenis dokar dengan tempat duduk memanjang di sisi kanan dan kiri.


Pada tepi sawah Redo menanam beberapa batang singkong dan menabur biji cabai dan biji labu di sekitarnya. Beberapa ruas temulawak dan temugiring juga ditanam. Saluran air yang biasa mengalir deras menuju ke sawah, pada bagian bawahnya ia tanami beberapa batang akar pandan. Sekitar lima hingga enam bulan semua tanaman itu akan tumbuh. 


Permulaan musim penghujan adalah masa yang asyik untuk ke sawah. Ada banyak mujair dan gabus di saluran irigasi. Telur-telur keong berwarna merah muda menempel di batang-batang padi. Sebagian petani akan menganggap telur tersebut sebagai hama karena merusak batang padi dan membuat padi tidak tumbuh dengan baik. Tapi BapakRedo, Syamsul, sangat pandai mengakalinya. Ia membuat kolam kecil di celah antara sawah dan air irigasi kemudian memindahkan telur-telur itu bersama dengan batang padi. Sehingga pada waktunya menetas keong-keong itu bisa dipanen. 


Di musim kemarau, air irigasi sedikit menyusut. Pada beberapa titik tebing sawah keluar minyak warna-warni; kuning, oranye, dan jingga. Itu menandakan bahwa di situ ada lubang belut. Tofi saudara tertua Redo akan mengajaknya dan beberapa kawan berburu belut. Mereka hanya butuh nilon dan sebiji peniti untuk membuat kail. Dan tentu saja beberapa ekor cacing tanah yang digali dekat jamban. 


Sore itu, Redo mengajak sahabatnya Gafu untuk menemaninya menjaga sawah. Ia merasa jenuh menunggui padi sendirian selama seminggu ini. Mungkin dengan mengajak Gafu ada hal-hal yang bisa diobrolkan. 


Air mengucur dari mulut pompa. Lengan Redo begitu berisi ketika bergerak ke atas dan ke bawah saat memompa air. Ibu-ibu asyik bergosip di sekitar pompa. Ada yang mengucek pakaian dan mencuci piring. Gafu datang di sisi utara pemandian umum.  


“Oe, Gafu, tunggu sebentar ya!” Redo melambaikan tangan.


Ia mengangkat dua ember air menggunakan sebatang kayu di bahunya. Gafu hanya membalas dengan mengangkat jempolnya. 


 “Berapa banyak air yang kau angkut hari ini ?” tanya Gafu.


berapa ya ? aku tidak sempat menghitungnya, mungkin hampir tiga puluhan ember. Kenapa bertanya?” 

keduanya berjalan ke rumah Redo. 


“Tidak apa-apa, hanya bertanya. Tadi aku juga menimba air di sumur milik Yati.”


“Untuk kudamu ?” Tanya Redo.


“Iya, pompaku sedang macet. Bapak sudah memanggil tukang untuk memperbaikinya.”


“oh, syukurlah kalau begitu.”


“Mengapa mengangkut banyak air hari ini? Apakah untuk sapimu ?”


“Iya. Ibuku melarang beri minum mereka di sungai. Ada beberapa pemuda kampung sebelah datang meracun ikan-ikan.”


Pasti si Bram dan kawan-kawannya itu.” Gafu menduga. 


“Anak-anak bebal. Senangnya menyusahkan orang lain.” 

Redo mengeluh. 


Jovi, Halimah, dan anak-anaknya asyik memamah rumput di kandang. Redo menuang air ke dalam bak minum mereka.

“Aih, Halimah bunting ya?” 

Gafu mengelus sapi betina milik Redo. 


“Iya. Mungkin bulan depan akan melahirkan. Kudamu ada berapa sekarang ? Apakah sudah ada yang melahirkan juga?” Tanya Redo.


“ada delapan. Suna baru melahirkan minggu lalu. aku beri nama anaknya Rambo.”


“Woah, macam bintang film yang kita tonton ya. Hahahha..” Keduanya tertawa.


“Aku puperhatikan, kamu sangat bekerja keras mengurusi sapi-sapi ini.” 


“Ya kau ‘kan tahu. Sapi ini punya Haji Nor. Kalau aku tak mengurusnya dengan baik, aku akan dimarahi oleh Bapak dan bisa saja H. Nor tidak mempercayakan ternaknya pada keluarga ku lagi.” 

Jelas Redo sambil mencampur potongan rumput dengan dedak. 


Ya, Aku juga paham. Kuda yang kupelihara juga titipan ayahnya Yati. Tapi aku tak begitu bersemangat seperti dirimu.”


“Hmm.. Ibuku bilang kalau aku rajin memberi mereka, maka seekornya bisa untukku.” Jelas Redo.


“Wah, hebat betul!” Gafu takjub.


“Aku ingin kuliah, Gafu. Jadi setidaknya aku punya modal untuk pendaftaran.”


“Kemana kau akan kuliah?”


“Aku belum tahu. Tapi kuharap aku bisa pergi ke Jawa.” 


Gafu sejenak berpikir sambil membantu Redo membereskan ember-ember sisa mengangkut air di kandang.


Setelah itu mereka bersiap ke sawah. Redo mengambil sabit untuk memotong gulma dan membawa beberapa buku bacaan.


“Redo, ambilkan beberapa biji jambu Bangkok di tepi kandang sapimu itu!” Pinta Gafu sambil menunjuk ke arah pohon Jambu yang memagari kandang. 


“Eih, jeli juga matamu. Aku tak sadar jika jambu ini sudah berbuah.” Redo begitu takjub, jambu yang ia tanam dengan Tofi beberapa tahun silam berbuah. 


Sejurus kemudian Redo memanjat. Ia memasukkan empat buah jambu Bangkok sebesar kepalan tangan orang dewasa ke dalam ember kecil. 


“Manis sekali rasanya !” Gafu memamah jambu tersebut. 


Keduanya berjalan beriringan menuju sawah.

* * * 

Saat menjaga sawah, Redo sangat hobi mengelilingi pematangnya berkali-kali. Ia hendak memastikan di bagian mana saja burung pipit memamah padi miliknya.


Di pojok barat ada sekumpulan bambu cangkoreh yang tumbuh rindang melengkung tepat beberapa meter di atas padi milik Redo. Di atas bambu itulah burung-burung pipit biasa bersembunyi. Jika Redo lalai, mereka akan turun dan riuh memamah padi.


Terkadang Redo merasa pantang untuk memanah mereka dengan ketapelnya. Ia juga enggan membunyikan lempengan seng yang dipasang ibunya untuk menakuti burung-burung itu. Ia kerap berdiri lama dan memperhatikan mereka. Ia senang berucap ‘makanlah oleh kalian sesuai kebutuhanmu. Kuharap itu sedekahku untuk kalian. Esok lusa jika ingin makan, makanlah di tempat yang sama. Tolong jangan memakan seluruh isi sawah ini’. 


Ajaibnya para burung pipit itu sangat menurut. Bila diperhatikan, bagian padi yang habis dimakan hanya bagian di sekitaran pohon bambu itu.


“Redo! Kau aneh sekali. Mengapa kau tak mengusir burung-burung itu?” 

Gafu mendatangi Redo.


“Ssst!” 

Redo mengisyaratkan kepada Gafu untuk diam.


Lihat, mereka sedang makan, kita beri mereka kesempatan.” 

Redo memandang Gafu sambil tersenyum.


“Astaga! Jika ibumu tahu kau membiarkan burung-burung itu memamah padimu, dia akan marah.” Gafu setengah berbisik.


“Santailah! ‘kan aku yang dimarahi, bukan kau!”

Gafu berdiri mematung. Redo menuju sisi lain sawah.


“Redo! Astaga! Kenapa kau biarkan burung-burung itu?!” Haji Sao, si kepala suku irigasi persawahan berteriak di dekat pintu air. Ia sedang mengatur pembagian aliran irigasi ke beberapa sawah.


“Iya Wak Haji!” 

Redo menyahut. Ia berlagak serius memukul seng.

“Huaaa! Huaaa!” Redo berteriak. Sekelompok burung pipit berhamburan ke atas. Mereka terbang dan hilang di batas cakrawala.


Gafu tertawa terpingkal-pingkal.

“Mati kau, Wak Haji sepertinya akan melapor ke ibumu, hahaha!”


Redo merasa biasa saja. Ia mengambil tempat di samping Gafu.

Dia tidak akan melapor. Kalau dia berani aku tidak akan memberikan jatah padi kepadanya saat panen!” tukas Redo.


“Aih, sadis betul sobatku ini.”


“Apa jambunya masih ada ?” tanya Redo.


“Masih.” 

Gafu mengeluarkan jambu dari plastik dan memotongnya dengan sabit. Redo mencomot potongan jambu itu.


“Wah betul-betul manis. Segar!” gumamnya.


Tur, kenapa kamu membaca buku bahasa Jepang dan Mandarin ?” tanya Gafu dan menunjuk buku-buku yang dibawa Redo.


“Kupikir aku bisa sekolah di Jepang atau China. Buku itu dikirim kakakku yang sedang di Jakarta.” Redo berbaring di rerumputan pematang sawah.


“Jadi, habis sekolah kau akan ke sana?” 


“Tidak. Buku itu buatmu Gafu. Aku tidak tertarik.”


“Lah, kenapa? Kenapa tidak ke sana ? Dan kenapa buku ini untukku?”


Gafu mengejar Redo dengan pertanyaan.

“Ya... siapa tahu kamu bisa berangkat ke Jepang atau China.” 

Redo menjawab dengan santai.


“Lalu, kemana kau akan kuliah?”


“Aku ingin ke Jawa. Mungkin ke Jogja atau Surabaya. Kata guru-guru di sana banyak buku.”


“Kenapa harus kuliah sih ? Bukankah di sini lebih baik ? Kita menanan! Kita beternak! Apa yang kau cari ? Di sini kita tidak membeli beras, kita tidak membeli lauk-pauk! Kita makan-minum dengan apa yang kita tanam dan pelihara! Bukankah itu sudah cukup?” Jelas Gafu.


“Aku cinta pada buku-buku Gafu. Aku nyaman saja. Jadi petani dan peternak juga nyaman. Tapi aku ingin mencoba lihat dunia luar.”


“Aku tidak bisa juga menahanmu kawan. Seandainya Bapakku membolehkan, aku juga mau ikut denganmu. Aku sangat mau. Tapi sepertinya akan sulit mendapat ijin dari Bapak. Kau tahu sendiri, untuk menemanimu sore ini saja aku harus memohon dengan banyak alasan. Apa gunanya juga aku belajar bahasa Jepang dan Mandarin ? Toh aku juga tidak bisa ke sana.” Gafu bernada pasrah.


“Aku tidak tahu Gafu, kehidupan macam apa yang akan kita jalani kelak. Dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang orang-orang akan berubah. Mungkin orang-orang tidak akan lagi menimba air dari pompa atau sumur. Orang-orang tidak akan mendengar berita dari radio atau surat kabar. Aku harus ke kota dimana semua ilmu berputar. Aku berharap banyak pada ilmu pengetahuan. Mungkin dengan itu aku bisa paham kenapa manusia harus bertani dan beternak. Mungkin dengan merantau aku bisa lebih bisa memaknai hidup.” Terang Redo.


Gafu tampak diam dan merenungi kata-kata Redo. Sekawanan walet terbang di atas mereka. Senja mulai terbit di kaki langit. Suara burung pipit timbul tenggelam di batang-batang

bambu. Malam segera bersambut.*



Note: Cerpen ini aku tulis sebagai hadiah untuk sahabatku Nanang yang waktu itu berulang tahun ke 23 pada 09 April 2019

 

Kamis 04 Pebruari 2021
283
2 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

Ruwaidah Anwar

ruwaidahanwar

Ma Lino Institute

Tuliskan tanggapanmu tentang SEIKAT PADI DAN SEEKOR SAPI

Baca karya Ruwaidah lainnya

SEIKAT PADI DAN SEEKOR SAPI

Cerpen oleh Ruwaidah Anwar

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah