

Waktu itu hujan tapi tidak begitu deras sampai bikin basah kuyup, tapi juga langit tidak cerah seperti biasanya.
Berjalan, jalan.. Jalan..
Pikirannya semakin jauh. Ah, gerimis belum pernah sedingin ini?
Jalan lagi, terus..
Sepi, jalanannya sepi. Beberapa lampu dimatikan oleh pusat, tidak tau alasannya apa. Tapi beberapa lampu tetap menyala, ah setidaknya, masih ada beberapa kendaraan yang menemani.
Jalan lagi.. terus.. terus jalan..
Pikirannya semakin jauh.. Sedih? Tidak sesedih itu sampai ingin menangis, tapi juga tidak setenang itu untuk tertawa.
“Haha, senyum aja maksa banget” batinnya.
Iya, seperti sudah ahli untuk menjadi orang lain, lagi-lagi, dia tak menujukkan sisi aslinya. Karena ketika menjadi dirinya, sering kali di dalam rumah isinya caci-maki dan umpatan penuh emosi.
“Bodoh!”
“Bego banget sih!”
“Masa, gitu doang tidak bisa?”
Lagi-lagi tiap kalimat yang tiap hari jadi makanan mentah tanpa rasa, ya hambar ketika di telannya dengan arti makna buruk, aku memang selalu salah. Batinnya tiap hari. Hentakan itu semakin nyaring, sering terdengar namun samar-samar tetapi terus berputar riang di kepalanya, sampai ia tumbuh dewasa.
“TERUS BISANYA APA?”
Ucapan wanita tua itu yang kulitnya sudah mengeriput, sambil menaikan alisnya setengah diangkat. Ya, Gendis hapal sekali ekspresi wajah sang Ibu.
Gendis kecil itu hanya menunduk, berusaha tidak menelan ucapan itu, rasa-rasanya kekesalannya memuncak di ujung tanduk, namun sebagai anak yang tak ingin di cap durhaka lalu di kutuk jadi malinkundang, maka berdiam dan meminta maaf menjadi jalan terbaik.
“Padahal selama ini berusaha menunjukan potensiku yang lain, yang lebih bisa berkilau dari kemauan mereka. Berusaha bertanggung jawab atas ekspetasi yang lahir, namun lagi-lagi patah karena kerapkali impiaku disepelekan” gusarnya menahan isak tangis.
“Sebagai orang tua toh, tau betul yang terbaik untuk anaknya, orang tua manapun ingin anaknya bisa menjadi orang yang sukses” katanya begitu, kalimat paling handal untuk jadi senjata retorika.
**
Waktu itu kalau di ingat-ingat menyebalkan sekali. ohiya! Perkenalkan namaku Gendis Ayu. Panggil ndis, atau gendis juga bisa. Aku anak kedua yang sejak kecil senang membaca buku, membaca puisi, menggambar, pokonya dunia sastra dan seni sangat aku cintai. Ya, walau lagi-lagi tidak semua bakat dianggap sesuatu yang “wah luar biasa” Tidak, aku tidak pernah mendapatkan pujian itu.
Hmm, di luar sering dipandang sebagai Gendis yang berbakat, berkilau, karena selalu bisa apa saja. Pokonya versi hal apapun aku senang mencobanya, walau lagi-lagi katanya menulis itu tidak akan menjadi pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Lagipula, gambaran yang sering aku buat terkesan misteri dan dianggap anak aneh oleh Ibu.
“Seharusnya kamu contoh seperti kakamu menjadi dokter, paling tidak Arsitek saja. Agar gambaranmu jelas, tidak aneh-aneh”
“Bu, ini namanya seni, bentuk ekspresi diri atau emosional bisa terlihat dari gambaran yang aku lukis”
“Kamu pemuja setan? Iblis? Atau apa? Gambaranmu dari mana terlihat seninya? Begini semua modelnya. Asah kemampuanmu di dunia gambar yang jelas, tahun depan kuliah jurusan Arsitek!”
Sungguh rasanya sangat tidak ingin berada dijiwa yang memiliki kemampuan didunia sastra, atau seni yang berdarah aneh. Aku ingin pintar fisika seperti adiku yang saat ini sudah berkali-kali mendapatkan reward dari Ibu karena juaranya. Atau menjadi jiwa kakaku yang kuat melihat darah dan berhasil menjadi dokter kuliah S1 di Universitas luar Negeri. Tidak sepertiku, jajaran piala-piala dari kemampuanku yang hobby didunia sastra dan seni harus tersingkirkan karena nilai-nilai akademikku tidak sehebat Kak Alfy dan Dek Tria.
**
“Selamat ya! Ibu bilang apa kamu bisa, nanti cari kerjanya mudah” katanya penuh kebanggan.
Kali ini, aku berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas keinginan Ibu dan lagi-lagi jurusan yang membuatku hampir gila namun Tuhan membantu aku melewatinya.
Beberapa hari lalu Setelah kabar kebanggan Ibu kepadaku, namun harus surut karena mendapati hari duka paling dalam. Bahkan, nampaknya ini suatu pelajaran paling menampar untuk Ibuku yang memberikan metode mendidik menurutnya paling maha benar itu, tetapi bagi versi kami menyiksa.
Dear Ibu tersayang.
Ibu, maaf karena akhir-akhir ini Tria tidak bisa mendapatkan nilai fisika dengan maksimal atau diatas rata-rata. Tria merasa bisa namun sebetulnya Ibu terlalu menekan untuk Tria terus berjalan tanpa henti, terus berproses tanpa bernafas, terus berlatih dengan tertatih. Maaf, Tria tidak sanggup. Perasaan harus lebih dari setiap orang menjadikan aku anak yang tidak mau didahului, aku terus mengejar hingga batas kemampuannya bukan lagi di porsi itu. Tria pamit saja bu, kalau Tria di sini akan membuat Ibu merasa gagal mengurus Tria, Karena dengan Ibu yang ingin aku dapat nilai paling sempurna. Terima kasih sudah menjadi Ibu yang baik dan tegas.
“Turut berduka cita ya Gendis”
“Memang adikmu sakit apa?” tanya tetangga sebelah.
“Deman tinggi Bu” Mungkin membual menjadi jawaban paling baik, walau kenyataannya bunuh diri menjadi jalan kesakitan paling sadis.
Di suatu ketika aku sedang merasa lelah, rasanya benar tidak ada rasa-rasa senang di ruang jiwa. Hanya satu kata, hampa. Aku tidak mengerjakan deadline gambaran rumah, aku tidak bisa selalu bisa membuatnya, aku tidak menyukai pekerjaanku. Ibu datang dengan raut muka seperti saat sedang memarahiku waktu kecil. Di robeknya kertas itu, dihempaskan-nya semua peralatan gambarku, semua di rusak berserakan.
“SUDAH BERKALI-KALI IBU KATAKAN SUDAH CUKUP KAMU MENGGAMBAR HAL-HAL ANEH INI. SUDAH CUKUP KAMU ABAIKAN GELAR SARJANAMU. KAMU ITU SARJANA ARSITEK BUKAN SENIMAN URAKAN!” Buammmm, gempar sudah rumah ini yang tadinya saling diam tidak ada satu kata bersuara di antara kami.
Sungguh, entah kalimat ini akan melukai atau tidak tetapi aku terpaksa mengeluarkannya.
“Sudah? Sudah Ibu terus berprilaku seperti ini? Sudah, Ibu diam-diam menyiksa batin semua anak Ibu? Sudah Ibu ingin menjadikan kami seperti kerbau yang serba manut? Ibu ingin aku menjadi Arsitek? Aku turuti mau Ibu. Dengan lulusan terbaik, demi Ibu bangga bisa mengucapkan kalimat ‘Wah luar biasa Gendis’ seperti yang sering ibu katakan kepada Ka Alfy dan Tria. Semua ini atas dasar mau Ibu. Sadar tidak sadar, Semua cara Ibu membuat kami merasa harus menjadi sempurna dan tidak boleh kalah, harus selalu bisa memaksakan kondisi sekalipun, memaksakan diri walau bukan di situ letak porsi kemampuannya. Lihat Tria? Bunuh diri! lihat ka Alfy? Pergi dari rumah hingga saat ini tidak kembali. Hanya karena dia tidak berhasil menyelamatkan nyawa seseorang dan Ibu memarahinya, menganggap gelar sarjananya sebagai lulusan kedokteran gagal. Selama ini Ibu hanya menjadikan kami seperti robot. Tidak ingin kami berada di jaman Ibu yang gagal namun cara ibu perlahan membuat kami sudah gagal sejak awal.”
Buyar semua tangisku pecah, dan aku mengucapkan kalimat paling sesak, “Bu aku merasa menjadi seseorang yang bodoh di dalam rumah, aku merasa menjadi seorang anak yang tidak bisa apa-apa, aku menjadi seorang anak yang pengecut, takut melalukan apapun ketika berada di rumah. Dan ketika di luar aku seperti menjadi diriku, Gendis yang suka menggambar, suka seni, suka sastra, menyukai hal yang aku gemari. Dan dampak terburuknya karena ucapan perbandingkan itu menjadi santapan paling lezat di rumah, selalu aku jadikan boomerang ketika aku di luar. Aku tidak ingin gagal. Aku harus selalu menang, aku harus tampil terdepan, aku harus semaksimal mungkin. Tidak ada yang boleh melihat celah burukku, tidak ada yang boleh menganggap aku tidak bisa, semua harus sempurna aku harus buktikan pada Ibu bahwa semua kemampuan yang ada di diriku adalah hal yang luar biasa. Namun lagi-lagi itu semua kembali patah karena ucapan ibu sejak kecil yang membawa aku masuk ke dalam isi kepala yang serba hitam, aku terus menganggap diri ini anak yang bodoh dan tidak bisa apapun sehingga aku selalu melakukan hal yang ceroboh.”
Aku terus menangis, memukul-mukul lantai dengan sisa tenaga yang aku punya, sedang Ibu hanya mematung, lalu memeluk tubuhku dengan hangat, pelukan yang sudah lama sekali tak pernah aku rasakan. Akhirnya kita menangis bersama. Ditemani rintikan hujan yang juga semakin deras, nyaring suaranya masuk ke lubang-lubang jendela kamar
Empat tahun kemudian, kakak kembali pulang dengan isak tangis yang sama. Kita sama-sama memulai hidup yang baru, dengan saling memaafkan satu sama lain. Bagiku, Ibu tetap yang terhebat, ia melakukan itu karena masa lalunya, ia tak ingin anak-anaknya gagal seperti dirinya di masa muda, Ibu telah sadar caranya salah. Sekarang kami menata hidup lebih baik, mendatangi tiap sebulan sekali ke makan dek Tria, Tuhan pasti mengampuni, sayang. Batinku dalam hati. Kak Alfi sudah membuka praktek kerja, bahkan menjadi dokter ahli di bagian Kardiovaskuler khusus dewasa.
Aku sudah menjadi penulis bahkan sempat beberapa kali mengadakan pameran lukis. Aku menulis sebuah buku, yang isinnya untuk memberikan penerimaan kepada setiap orang tua, bahwa setiap anak di lahirkan dengan kemampuan yang istimewa, bersama keunikannya masing-masing. Tidak bisa di pukul sama rata dengan anak tetangga lain, atau sekalipun saudara kembar. Berikan dukungan dengan apa yang anak suka, tetapi tetap dalam pengawasan. Anak bukan kerbau, bukan pula robot atau manusia yang harus serba manut. Setiap anak punya potensi dan kecerdasannya sesuai dengan porsi kemampuannya. Jangan pernah ucap kata perbandingan, label pembodohan atau umpatan menyakitkan saat sedang mengajar, sebab kata-kata bisa terus hidup dalam diri manusia sampai dewasa, jika itu melukainya. Akhir kalimat, Albert Enstein pernah mengatakan, ‘Semua orang jenius, tetapi jika kamu menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, ia akan menjalani hidupnya dengan percaya itu bodoh’

