oranment
play icon
Menikmati Kemunafikan Diri
Cerpen
Kutipan Cerpen Menikmati Kemunafikan Diri
Karya sapabeyy
Baca selengkapnya di Penakota.id

Semua orang rela menghabiskan waktu, tenaga, dan menguras pikiran demi kertas bernilai itu. Ya, kita sebut itu uang yang katanya menjadi segalanya, kupikir ada benarnya. Tapi bagiku, itu akan menjadi segalanya bagi mereka yang tidak merasa bahagia. Melampiaskan rasa sepi dengan pergi kesana-kemari, membeli ini-itu yang sebetulnya tidak diperlukan dan menghabiskan waktu dijalan mencari ketidakpuasan. Itulah manusia, yang secara diam-diam tidak menyadari telah menjadi topeng dalam peran kehidupan.


Jadi ingat Soal kalimat yang sering muncul di timeline media sosial, perihal hidup ini isinya hanya kepalsuan yang dibungkus menjadi benar. Kita semua, sering kali memalsukan yang sebenarnya salah, atau yang sebenarnya benar pun tidak ingin diakui menjadi kebenaran. Seperti tidak ingin mengatakan sakit tapi sebenarnya iya, tidak ingin bilang tak suka sebenarnya suka, atau tidak mau mengakui benci realitas, dan akhirnya menjadi pecundang dengan dalih aku sedang amorfati.


Seperti yang sering aku lihat topeng-topeng itu, tertawa dijalanan membicarakan hal yang konyol, mengumpat sumpah serapah tentang orang-orang yang selalu haus pengakuan, atau membicarakan kekesalan tentang kerabatnya namun ketika bertemu seperti tidak pernah terjadi apapun, ya ini yang bersarang dalam jiwa manusia, kemunafikan.



Sudah cukup rasanya basa-basi tentang realitasnya manusia. Ohya, namaku Lara, singkat saja. Gadis yang sering kali disapa apatis, atau manusia yang hidup tetapi seperti dianggap mati. Aku tidak pernah ingin dianggap ada, diriku sendiripun tidak pernah merasa sedang hidup. Jangankan merasa hidup, tentang kehidupan saja aku tidak tau apa artinya. Sudah muak melihat segala kepalsuan, aku tidak pernah ingin menjadi bagian dari itu. Bahkan tragisnya, aku tidak ingin tau dan tidak tau soal bahagia, senang, sedih, kecewa, atau depresi, semua emosional yang ada dalam diri manusia, katanya itu warna yang akan melengkapi cerita.

Yang aku tau hanya kebencian, terhadap tali. Aneh ya? Ya, aku hanya bisa merasakan itu. Sering kali ada yang memperdebatkan kalau benci bagian dari emosional, tapi aku tidak peduli.

“Aaaahhhhhhh tiii ddaakkk mungkin”


BRAKKKK...

Huhhh… hoouhhh haaahh hiksss hiksss.


Aku langsung berlari dengan nafas terengah-engah. Ahahaha terlalu drama ya? Tapi sesungguhnya itu yang aku lihat diruang bawah tanah. Hantu? Iblis? Atau dajjal?

Bukan! Ciri-cirinya seperti manusia yang sedang bermain dengan hal konyol, ya mati karena tali. Sejak saat itu aku benci melihat tali. Emm tapi apa aku sedih, terluka, menangis, ketakutan?


Ya,ya,ya sesekali.


Sejak saat itu aku menganggap diriku adalah jelemaan yang tidak pernah dilahirkan. Jadi keluarga pun tak punya. Karena hidupku tidak pernah dikendalikan oleh siapa-siapa, bahkan mencari makanpun sendiri. Tidak pernah merasakan rasa apa-apa, makan kadal pun aku tak merasa jiji.

Ahaa! Berbicara soal kadal, aku punya kegiatan yang sangat tak lazim. Aku punya emosional sendiri ketika melakukan atau melihat hal-hal yang menyiksa. Seperti menyiksa hewan dengan menginjak leher ayam sampai meringis kesakitan, atau melempar kucing dari lantai atas kebawah secara berulang kali, ah rasanya bahagia sekali. Dan satu lagi, melihat potongan tubuh dengan bercak darah pun aku tidak merasakan sesuatu yang menegang ditubuhku.


***


Sudah kubilang sejak awal aku tidak pernah merasakan perasaan apa-apa lagi, bahkan aku tidak pernah ingin bilang kata iya dan tidak, tingkat apatisku terhadap hal apapun sudah naik level akut. Aku tidak ingin menjadi manusia yang senang menipu diri demi diakui dunia.

Seperti si Mira, perempuan yang selalu merasa kesal dengan perlakuan teman-temannya, sangat sadar dirinya dimamfaatkan. Tetapi lucunya ketika bertemu dengan temannya, Mira tetap bermain lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa atau merasa kesal. Dan lagi-lagi membeli teman dengan uang, karena takut tidak punya teman.

“Mir, besok kita jadi kan ke kafe terbaru disebrang sana?”

“Jadi dong, nanti kita main kartu lagi” Jelasnya dengan mata berbinar.


Omong Kosong!


Aku lebih sebal lagi ketika melihat acara di tv, isinya hanya orang-orang yang ingin menguasai dunia. Saling berebut sesuatu yang menjadikan diri tidak waras atau memperdebatkan sesuatu yang sudah masuk akal menjadi tak punya akal. Banyak juga orang-orang yang sok jadi penyelamat nyatanya menjadi penjilat. Atau yang lantang bersuara keadilan tetapi diberi uangpun menjadi bungkam. Apalah manusia sepertiku yang merasa kesal pun tidak berpengaruh apa-apa, yang berintelektual saja kadang tidak memberikan pengaruh apapun.


Tidak pernah mengerti dengan isi dunia dan orang-orang yang sibuk berlari tapi tidak tau apa yang sedang dikejar?

Sekarang aku sedang duduk dirumah makan mpok wati sambil mendengarkan Bapak-bapak yang sibuk mengkritisi pemerintahan, mengatakan kalau dinegara yang sekarang sulit untuk mengutaran pendapat karna nanti dikit-dikit mainnya dengan sel penjara.

“Jaman sekarang sudah makin edan, berpendapat pun dibungkam, katanya negara demokrasi toh, tetapi kritik saja dibalas dengan bui”


“Seperti balik lagi kejaman orba, benar dipasung suara rakyat, tetapi kebijakan wakil rakyat tidak benar-benar untuk rakyat, ah bededah” Umpatannya sangat keras.


Aku jadi ikutan murka men

dengarkan ocehan orang-orang yang sok menyalahi tapi tidak ingin memberikan solusi. Tidak akan menjadi kaya juga ikut campur urusan negara. Aku beranjak keluar dari warung mpok wati, pergi melanjutkan perjalanan. Rasanya ingin tinggal dimars saja, dibumi banyak orang aneh yang sibuk memikirkan atau melakukan hal yang tidak pernah ada rasa cukup. Kini aku melihat sesuatu yang menjijikan lagi, seorang laki-laki menghentakan kakinya ke aspal berulang kali, seperti sedang menumpahkan emosinya, rupanya putus cinta.

Ah si pecundang itu lagi, laki-laki yang selalu kutemui dibeberapa persimpangan jalan.

Aku melewatinya, tak pernah berfikir kalimat ini akan keluar dari mulutku.

“Terus saja menikmati kemunafikan diri, atau menikmati kepalsuan lalu terus memakai topeng. Sudah tau sakit, bodohnya masih dikejar”

Laki-laki itu membalas ucapanku, membuat aku membalikan badan.

“Tau apa kau soal palsu dan topeng?”

“Tau, setelah melihatmu dan realitas kehidupan ini”

“Aku sedih melihatmu, menjadi manusia yang tak sadar dengan keadaannya yang sedang sakit”


Mataku terbelalak, “Apa maksudmu?”


“Aku memang munafik, semua orang munafik, dan aku menikmatinya tetapi dengan kesadaran penuh. Tidak seperti kau, yang sudah mengatakan tidak merasakan rasa apapun tetapi punya emosional tertentu, bukankah itu tetap saja perasaan? Tidak peduli dengan sekitar tetapi merasa muak mendengar ocehan orang-orang, bukankah itu masih peduli? Aku sangat kasian terhadap manusia yang tanpa sadar menikmati kemunafikan diri tetapi tidak dengan kesadaran!”


Jleb, ucapannya menghantam degug jantungku, seperti kilatan petir yang dasyat. Dia mendekatkan kepalanya, membisikan kalimat yang benar-benar menampar seluruh organ tubuhku.


“Kau menutupinya dengan trauma atau rasa sakit yang disimpan dihati paling dalam, seperti sejarah yang di museumkan, yang kapan saja bisa terbuka lagi. Kau jauh lebih menyedihkan, memakai berlapis topeng. Satu lagi, jangan berusaha tidak merasakan apapun, kalau sebenarnya kau sedang lari dari realitas hidup”


Lara, gadis apatis yang dengan angkuhnya tidak ingin menjadi manusia yang terus bersarang pada kepalsuan, namun secara diam-diam sedang merawat hidupnya yang palsu.

calendar
14 Aug 2020 19:03
view
172
wisataliterasi
Jl. Puri Niaga No.d7/5, Serang, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42116, Indonesia
idle liked
6 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig