

Sesuatu yang tidak masuk akal memang selalu dipertanyakan dalam pikiran.
Contohnya soal hasil dari perjuangan.
Kita selalu menganggap bahwa hasil akhir itu adalah standar sukses keberhasilan. Hingga akhirnya banyak yang ngebut, atau melakukan segalanya diatas rata-rata kekuatan manusia. Atau lebih sering menganalisa perbandingan antara usaha A dan B. Ah, demi hasil akhirnya berhasil. itu keliru. Coba kita simak cerita ini....
Sore tadi dapat pesan yang menggelitik, tapi menarik. Bagi saya menggelitik, karena pernah ada dalam isi pikiran saya hingga terus bersarang sampai membuat kepala berlubang.
Kira-kira begini ya "biyy kenapa ya gue gagal terus. Padahal usaha gue sama mereka keknya sama deh. Tapi gue gagal, dan sekarang mereka lagi menikmati kemenangan, Tapi ko gue gapernah menuju start?"
Menarik banget nih. Gausah jauh-jauh ya, kita semua udah tau bahkan sering denger cerita melegendaris dibalik tokoh terkenal yang nikmatin kesuksesannya. Siapa sangka? Gagal dan jatuh, jadi temannya, jangan pura-pura tidak tau, dimana-mana motivasi seperti ini selalu dipertontonkan.
Oh ya, dulu saya pun sama, jatuh nya nggak tanggung-tanggung, gagal nya apalagi, dan selalu berhenti ditengah jalan.
Dan saya sadar, standar sukses itu enggak dilihat dari hasil yang bagus, tapi proses tetap konsisten dititik itu. Atau sebenarnya gagal itu gaada? Ya, ada tapi sebatas fase.
Hidup ga tentang menang dan kalah, tapi gimana kita menikmati loncatan dari menang ke kalah, atau sebaliknya.
Kata siapa nggak sampai start? Soal standar 'sampai' itu nggak bisa dilihat dari cepat atau lambat, enggak bisa diburu-buru atau sama rata dengan manusia lain.
Saya ingin ajak jalan-jalan pikiran ini kemasa lalu. Tadinya mau berikan contoh yang sudah terkenal tapi rasanya tidak relevan. Jadi, dari kisah si perempuan melankolis itu saja, sebut namanya Sesa.
Sesa ini gemar menulis tentang hal apapun yang terpenting bisa membuka sudut pandang pembaca. Sempat ikut lomba puisi saat SD, entah mabuk apa dengan PD nya membuat-dan membacakan puisi, sempat dapat umpatan dari juri, kelewat sarkas.
"Kamu salah ikutan lomba ya?"
Ya seperti itu, ucap salah satu juri yang asal berkomentar. Mungkin kalau orang lain dampaknya bisa tidak ingin menulis lagi, menanggap salah bakat atau salah hobby, untungnya ketakutannya ia kubur dengan senyuman simpul yang mengembang di bibirnya.
Bentuk gagal bukan ini? Saya sebut bukan, tapi fase. Lalu gagal itu yang seperti apa?
..... Ya, ketika mengutuk diri, mengumpat kalau ini kebodohan, lalu tidak mau mengenal dunia puisi lagi, itu gagalnya. Karena tidak mau belajar dari kesalahan, dan menyambung hitam kan diri sendiri.
Sifat seperti itu wajar, jadi yang menciptakan kegagalan bukan karena sesuatu yang sedang di gapai tidak berhasil melainkan sikap diri kita yang menanggap itu bagian dari kegagalan. Bukanlah sesuatu yang ada bermula karena dianggap ada?
Begitupun dengan berhasil, akan ada kata menang ketika kita menganggap kemenangan itu ada. Selalu ada esensi ketika eksistensi tumbuh. Tujuannya anggap ada dulu baru muncul keberadaan nya.
Toh, hidup bukan tentang juara, atau siapa cepat menuju start nya. Tetapi bagaimana kita menikmati proses loncatan itu. Dari satu, ke jalan satu nya lagi. Bagaimana kita memandang sesuatu dari sisi yang paling luas, walau ruangan nya sempit.
Stop lihat kanan kiri lalu membandingkan, coba untuk fokus pada sesuatu yang dicapai. Dan, ketika mengalami bagian yang rusak, jangan sampai menyamaratakan semuanya rusak, akhirnya tercipta umpatan berantakan karena kita menciptakan itu dengan keyakinan isi kepala.

