Camilan
Rak Pen...
Wisata
Jendela
Lainnya
PUISI

Seperti Menunggu Godot

Oleh senopatikudanarapadyagusa

 


'Namaku Windra dari Donggala, namamu masIh Indonesia? Masih seret-seret sebuah frasa (PKI?), akulah korban! Janda,tapi masih perawan!'


 


1971


Enam tahun setelah peristiwa PKI


Bilik kamarku terdiam padahal ia lah saksi atas tangis bayi merahku, aku!


Namaku , jiwaku diseret-seret jadi letusan mesiu jadi gelegar tak kunjung usai membatu jadi tugu


jadi frasa 'PKI atau kudeta PKI' - Indonesia, aku belum lahir !


cium bau darah busuknya politik, kenapa racunnya harus kuhisap sepanjang hidupku?


'Adakah orang terbodoh diluar mentalitas manusia Indonesia ? dan ia berkuasa !


 


Namanya, Windra . Sorot mata itu berkobar laksana unggun yang luluhkan kayu-kayu bersilangan menjadi bara, lalu jadi abu! Matanya kelabu sarkistis. Suatu malam dalam pesta taman pernikahannya-pernikahanku catatan hatinya kubaca saat purnama redup dan rambutnya hitam berasap harum ikan bakar, 'Windra isteriku!' Kubilang,


'aku sarjana politik dan aku marah pada Indonesia !' Kuakrabkan padanya teori Gramsci dan bahkan seorang profesor hukum pun, gentar pada cerita hantu PKI juga, SBY takut tercaci terbilang antek PKI lalu, diam pada sejarah yang kelam dan bau amis darah seperti awan hitam yang goreskan jadi pelangi atau hiburan pada massa yang haus hiburan


politik kekuasaan jadi dramaturgy atau politik sengkhuni


juga keadilan serupa bab, pasal, ayat, yang mati diinjaki sepatu lars TNI


keadilan tidak bersama semua anak negeri


keadilan ada di seminar-seminar dan skripsi


keadilan ada di cangkir kopi para menteri


keadilan ada di penantian tak bertepi menunggu Godot datang naik panggung dan kudeta rezim akhirnya sebuah keharusan!


Bilanglah , Windra : 'namaku airmata dari Donggala, KTP-ku jadi hantu! Jadi pikiran bodoh anak negeri lulusan luar negeri tak kuasa bicara PKI' , frasa itu : ku-de-ta, yang terlarang dibaca jadi dogma lebihi suara tuhan dan tunjuk hidungku


lagi dan lagi, 'kubilang, enam tahun usiaku berselang mereka abaikan, katanya, darahku darah hitam! Oh, Indonesia, keadilan jadi koma. Kubaca SBY tak jua bicara sampai turun takhta!'


 


Namaku, Windra! Hidup di sebuah pulau bagian tengah belantara anoa


tak terjamah politik kuasa juga, tentang kudeta yang katanya terlarang, katanya politik teori kemungkinan!


kenapa yang mungkin mereka bilang, tidak? Untuk korban kuasa PKI!


saat namaku mereka seret-seret pada KTP paman-kakekku yang di bilang negara , 'PKI'


tidak untuk tidak ( padaku yang masih perawan dan bahkan sebuah genealogy jadi hantu katanya, berdarah PKI!)


 


Namaku, Windra , namamu (bukan Indonesia) karena kubaca tak berseru


engkau tidak merdeka!


 


Gedongair-Beringin Raya, Bandar Lampung, 2014-2017


 


 


catatan:


puisi ini pernah diperlombakan di acara ulang tahun SMAN AMBARAWA PRINGSEWU - LAMPUNG 2018


 

Kamis 05 September 2019
64
3 Penulis Terpikat
Ditulis oleh

senopati kudanarapadya

senopatikudanarapadyagusa

Saya penulis yang 'pura-pura' jadi buruh bangunan di Sukada Lampung Timur.Berkawan dengan batu,pasir dan keluh, karena upah yang murah ( saya dengar suara 'mereka' dalam gerusan sambal terung yang mer...

Tuliskan tanggapanmu tentang Seperti Menunggu Godot

Baca karya senopati lainnya

Seperti Menunggu Godot

Puisi oleh senopati kudanarapadya

Bagikan Karya

Pilih salah satu pilihan dibawah