

Pandanganku gelap, padahal hari masih sore.
Langit Jakarta Selatan masih terang, tapi mataku sudah berkunang-kunang. Kepalaku berdenyut setelah jatuh tadi.
Aku akhirnya meninggalkan Aal di sana. Bukan karena aku tega, tapi karena kakiku sudah tidak kuat berdiri.
Maka sore itu aku dibonceng Dafa, meninggalkan Ciputat yang baru saja menjadi saksi hari apesku.
Dafa memang sialan. Dengan cara yang paling tidak masuk akal, dia membuatku lupa kalau barusan aku hampir terbawa maut.
Di tengah jalan yang masih ramai itu, dia berteriak di balik helm,
"Jalannya udah disiram air kembang belum sih?
Aku ingin marah, tapi yang keluar malah tawa kecil yang pahit. Aneh, tapi nyata. Hanya Dafa yang bisa bercanda seperti itu setelah melihat temannya jatuh terseret aspal.
Motor terus melaju, bergeser dari panasnya Ciputat menuju jantung gaulnya Jakarta Selatan, Blok M.
Di sanalah Dafa kembali beraksi. Matanya tidak melihat jalan, tapi malah sibuk memperhatikan sekitar.
Lalu dia menyikutku pelan.
"Eh, eh, tar lu liat deh penampilan cewe-cewe itu?"
Aku pun mendongak. Dan di sana, di trotoar Blok M itu, lewat cewe-cewe hits dengan outfit yang tidak pernah gagal mencuri perhatian. Keren, percaya diri, gaul khas Jaksel.
Entah kenapa, seketika sakit di lutut dan perih di tanganku itu hilang. Berganti rasa malu, tawa, dan sedikit lega karena masih hidup.
Begitulah temanku ini, Dafa.
Dia tidak pernah menyembuhkan luka dengan obat, tapi dengan candaan yang aneh dan jujur.
Tapi di balik tawa singkat di Blok M itu, namamu tetap ada di kepalaku, Aal. Maaf ya. Semoga kamu lekas sembuh.

