

Mentari pagi menembus jendela kamarku, menyinari buku-buku pelajaran yang berserakan di meja belajar. Hari ini aku duduk di bangku kelas 12, tahun terakhir di SMA. Setiap kali melihat seragam putih abu-abu ini, aku sadar bahwa waktu untuk menentukan masa depan semakin dekat.
Sejak kecil, aku selalu kagum dengan sosok guru sejarahku. Cara beliau bercerita tentang masa lalu membuatku merasa seolah-olah berada di zaman itu. Dari sanalah aku mulai bermimpi—aku ingin menjadi seorang guru sejarah. Bukan hanya sekadar mengajar, tapi juga menumbuhkan kecintaan pada sejarah dan rasa bangga terhadap bangsa sendiri.
Cita-cita itu membuatku bertekad untuk melanjutkan studi ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, tepatnya di jurusan Pendidikan Sejarah. Aku tahu jalan menuju ke sana tidak mudah. Nilai harus dijaga, ujian masuk harus dihadapi dengan serius, dan tentu saja doa dari orang tua menjadi kekuatan utama.
Setiap malam, aku membayangkan diriku memakai jas almamater berwarna merah marun, berjalan di lingkungan kampus yang rindang, bertemu teman-teman baru yang memiliki semangat yang sama. Aku ingin belajar banyak hal tentang pendidikan, tentang bagaimana cara menjadi guru yang tidak hanya pintar, tapi juga menginspirasi.
Kadang rasa takut muncul—bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku tidak diterima? Tapi aku selalu mengingat pesan ayah, “Jangan takut gagal, yang penting berani mencoba dan berjuang.” Kalimat itu membuatku kembali semangat setiap kali rasa ragu datang.
Aku tahu, menjadi guru bukan profesi yang selalu mudah. Tapi bagi aku, guru adalah sosok yang bisa menyalakan cahaya dalam kegelapan, memberi arah bagi mereka yang mencari jalan. Dan suatu hari nanti, aku ingin menjadi salah satu di antara mereka.
Langkahku memang kecil sekarang—belajar, berdoa, dan berusaha sebaik mungkin. Tapi aku yakin, langkah kecil ini akan membawaku menuju mimpi besar: menjadi guru sejarah yang menginspirasi generasi masa depan.

