

Bahasa ku kaku,
katamu.
Seperti tiang listrik yang lupa caranya meliuk.
Bagaimana tidak?
Aku melihat mereka,
di atas podium tinggi,
berbicara tentang rakyat,
tapi rakyat tak mengerti bahasanya.
Kata-katanya panjang,
berbelit,
indah untuk rapat,
mati untuk dimengerti.
Aku tidak mau jadi seperti itu.
Aku tidak mau lidahku jadi stempel,
Aku tidak mau suaraku jadi pengumuman.
Aku ingin berkata:
Aku cinta,
Aku rindu,
Aku takut,
dengan bahasa yang jujur,
bahasa yang berdarah,
bukan bahasa yang diketik oleh protokol.
Karena apabila cinta saja harus birokratis,
maka untuk apa kita merdeka?

