

Aku Menyukai Dirinya,
kubantah itu berkali-kali.
Awlanya,
kupikir ini hanya iba
atau sekadar kagum yang singgah sementara.
Namun semakin jauh kulari,
semakin jelas namanya tinggal di kepala.
Aku mencintainya
dengan caya yang paling sunyi:
mengikhlaskan bahagia,
meski bukan bersamaku.
Hari-hari yang pernah kita lewati
masih tinggal seperti gema.
Sedangkan aku,
terlambat menyadari
bahwa gengsi bisa kehilangan seseorang.
Kini perasaan itu coba kukubur dalam-dalam,
namun ia tumbuh seperti duri
di tempat yang tak mampu kuraih.
Aku tak tahu
apakah matamu pernah mencari aku juga?
atau aku hanyalah satu,
dari sekian banyak orang
yang kau perlakukan dengan hangat.
Namun anehnya,
hatiku masih ingin percaya
bahwa aku pernah berarti.
Jika suatu hari
bahagiamu mengarah kepadaku,
aku akan tinggal.
Namun bilai tidakm
Tuhan..
tolong ajari aku melepaskan.
Sebelum harapan ini,
menjadi rumah yang tak bisa kutinggalkan.

