

Aku ingin bercerita.
Aku pernah menyukai seseorang.
Elok rupanya,
manis sikapnya,
dan lembut hatinya.
Ia terlalu pandai memakai perasaan,
penuh dengan dugaan,
dan sering terjebak dalam angan-angan.
Entah mengapa,
aku ingin sekali menjaganya.
Aku tidak ingin ia terluka.
Tidak ingin ia bersedih.
Tidak ingin dunia berlaku terlalu keras kepadanya.
Jika bisa,
akulah yang ingin memastikan
ia baik-baik saja.
Namun, sayangnya,
aku tidak pernah benar-benar bisa memilikinya.
Aku tidak bisa mendekapnya
ketika ia sedang rapuh.
Aku tidak bisa menjadi tempat pulangnya
ketika dunianya terasa terlalu berat.
Bahkan untuk sekadar memastikan
bahwa ia aman,
aku pun tidak punya hak.
Sebab aku bukanlah
nama yang tinggal di hatinya kala itu.
Mungkin memang baik oleh semesta,
atau mungkin begitulah cara takdir
mengajarkan dua manusia
bahwa tidak semua pertemuan
ditakdirkan untuk menjadi kepemilikan.
Kami terpisah.
Bukan karena perasaan itu tidak pernah ada,
melainkan karena ada hal-hal
yang bahkan perasaan pun
tidak mampu menyeberanginya.
Ada jarak yang tidak dibangun oleh langkah,
melainkan oleh keyakinan.
Ada perbedaan yang tidak dapat diselesaikan
hanya dengan saling mencintai.
Dan mungkin,
itulah bagian paling menyakitkan
dari mencintaimu.
Namun aku selalu percaya,
setidaknya pernah ada satu masa
ketika aku berhasil menyita perhatianmu.
Entah karena sifatku yang baik,
wajahku yang rupawan,
atau—
ah, sudahlah.
Mungkin hanya ketidaksengajaan
yang sebentar singgah
di antara dua manusia
yang tidak seharusnya saling memiliki.
Seandainya kau tahu...
Tidak.
Aku tidak ingin kau tahu.
Sebab aku takut,
jika kau tahu terlalu banyak,
kau akan menjauh.
Padahal aku masih ingin
melihat senyummu dari kejauhan,
masih ingin menikmati
perhatian kecil yang dahulu kau berikan,
tanpa harus mengubahnya
menjadi sesuatu yang lebih besar.
Aku menyukaimu.
Bahkan mungkin,
lebih daripada aku menyukai
tipe yang selama ini kukira
akan menjadi pilihanku.
Lucu, bukan?
Ternyata hati tidak pernah benar-benar
bertanya tentang tipe.
Ia hanya jatuh.
Dan aku jatuh kepadamu.
Meski pada akhirnya,
aku harus belajar
bahwa mencintai seseorang
tidak selalu berarti
harus berjalan bersamanya.
Maka pergilah.
Temukan bahagiamu.
Jika suatu hari nanti
kau menemukan seseorang
yang membuatmu jatuh cinta,
yang dapat menggenggam tanganmu
tanpa harus takut pada perbedaan,
yang dapat berjalan bersamamu
hingga akhir tanpa perlu mempertanyakan
ke mana jalan kalian akan bermuara—
aku akan mendoakanmu.
Bukan karena aku sudah tidak mencintaimu.
Melainkan karena aku mencintaimu
cukup dalam untuk mengerti:
**barangkali aku bukan rumahmu.**
Dan jika memang bukan aku
yang Tuhan izinkan untuk menjagamu,
semoga Dia mempertemukanmu
dengan seseorang
yang dapat mencintaimu
dengan cara yang tidak pernah mampu kulakukan.
Seseorang yang bukan hanya
membuatmu tersenyum,
tetapi juga dapat berjalan bersamamu
menuju Tuhan
yang kalian sembah bersama.
Sedangkan aku—
akan menyimpanmu
sebagai sebuah nama
yang pernah membuat hatiku berdebar,
sebuah per
temuan
yang tidak pernah menjadi milikku,
dan sebuah cinta
yang, meski tidak pernah sampai,
tetap pernah menjadi
salah satu hal terindah
yang pernah kurasakan.
🎵 Mangu - Fourtwnty, Charita Utami

