oranment
play icon
Catatan dari Usia 23 Tahun
Cerpen
Kutipan Cerpen Catatan dari Usia 23 Tahun
Karya zagitaallifya
Baca selengkapnya di Penakota.id

Sudah empat tahun berlalu sejak terakhir kali aku mengisi laman cerpen ini.

Saat itu aku masih berusia 19 tahun.


Kini aku sudah memasuki usia kepala dua. Ya, aku berusia 23 tahun—usia yang menurutku masih sangat muda, tetapi juga menjadi masa di mana aku mulai mematangkan arah hidupku.

Ketika kembali membuka blog ini, aku menyadari betapa kosongnya laman ini. Hanya ada beberapa tulisan lama yang tersisa. Entah mengapa, aku sempat berhenti menulis cukup lama.

Mungkin karena saat itu aku terlalu sibuk menjalani hidup.

Atau mungkin karena aku terlalu lelah hingga bahkan lupa kata sandi akun ini.

Namun hari ini, melihat kembali tulisan-tulisan lamaku membuatku ingin menambahkan satu cerita lagi. Cerita tentang perjalanan memasuki usia dua puluhan yang penuh dengan perubahan.


Awal Fase 20-an


Terakhir kali aku menulis di sini, aku masih mahasiswa semester tiga.

Saat itu aku belum benar-benar tahu ingin menjadi apa. Aku hanya menjalani hari demi hari seperti kebanyakan mahasiswa lainnya.

Memasuki semester empat, hidupku mulai dipenuhi berbagai aktivitas organisasi. Tanpa kusadari, kesibukan itulah yang membuatku meninggalkan blog ini.


Kemudian aku memasuki usia 20 tahun.

Tidak ada pencapaian besar yang bisa kubanggakan saat itu. Namun di usia tersebut aku mulai memahami bahwa hidup tidak selalu tentang pencapaian, melainkan tentang proses bertumbuh.


Lalu pandemi Covid-19 datang.

Dunia berubah. Kuliah dilakukan melalui Zoom, aktivitas dibatasi, dan semua orang berusaha beradaptasi dengan keadaan yang baru.

Di tengah situasi itu, aku mulai berpikir bahwa aku harus bisa menghasilkan uang sendiri.


Aku mencoba berjualan casing ponsel secara online, dan di luar dugaan, usaha kecil itu berjalan cukup baik. Untuk pertama kalinya aku merasakan bagaimana rasanya mendapatkan penghasilan dari hasil jerih payah sendiri.


Keluarga yang Mulai Pulih


Tahun 2020 ditutup dengan sebuah peristiwa penting dalam hidupku.

Ibuku menikah untuk kedua kalinya.

Aku mendapatkan seorang ayah baru.


Beliau adalah sosok yang baik dan hangat. Kehadirannya membawa banyak perubahan dalam keluarga kami. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali melihat senyum ibuku yang sempat hilang.

Aku juga merasakan kasih sayang seorang ayah yang selama bertahun-tahun kurindukan.


Sedikit demi sedikit, kehidupan kami mulai membaik.

Setelah bertahun-tahun berjuang sejak ditinggalkan ayah kandungku pada 2014, akhirnya aku dan adikku bisa merasakan kembali arti sebuah keluarga yang utuh.

Hingga hari ini, aku masih belum bertemu lagi dengan ayah kandungku.

Dan mungkin, tidak semua luka memang harus mendapatkan penjelasan untuk bisa sembuh.


Tahun yang Penuh Kehilangan


Jika harus memilih satu tahun yang paling berat dalam hidupku, mungkin jawabannya adalah 2021.

Di tahun yang sama, aku kehilangan kakek dan nenekku.

Kehilangan mereka meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pada saat yang bersamaan, aku juga mulai memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga adikku karena ibuku harus menemani suaminya bertugas di luar kota.


Belum selesai sampai di situ, konflik keluarga kembali terjadi.

Perselisihan antara ibuku dengan beberapa anggota keluarga membuat kami harus berpindah tempat tinggal lagi.

Sejak kecil aku sudah terbiasa berpindah-pindah.

Dari Jakarta, tepatnya di Ciganjur, hingga akhirnya menetap di Sumatra.

Namun perpindahan kali ini terasa berbeda.


Aku sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa tidak semua hubungan keluarga berjalan sebagaimana mestinya.

Akhirnya kami memutuskan memulai hidup baru di Bengkulu.

Meskipun penuh tantangan, keputusan itu menjadi awal dari banyak hal baik yang datang kemudian.


Bertumbuh Bersama Luka


Di usia 21 tahun, hidupku terasa sangat rumit.

Aku menjalani KKN, menyelesaikan kuliah lapangan, dan mulai bergelut dengan skripsi.

Di saat yang sama, hubungan asmaraku juga sedang diuji.

Aku menjalani hubungan jarak jauh yang saat itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Hubungan kami mengalami pasang surut, bahkan sempat beberapa kali berada di ambang perpisahan.


Namun setelah melalui banyak perdebatan, air mata, dan proses saling memahami, kami memilih untuk kembali bersama dan memperbaiki semuanya.

Mungkin cinta yang bertahan bukanlah cinta yang tidak pernah bermasalah.

Melainkan cinta yang tetap memilih bertahan setelah melewati berbagai masalah.


Usia 22 Tahun dan Sebuah Garis Akhir


Memasuki usia 22 tahun, fokus hidupku tertuju pada tiga hal: skripsi, hubungan, dan pertemanan.

Awal tahun terasa sangat berat.

Aku mengalami stres yang cukup serius hingga insomnia yang berkepanjangan.

Namun perlahan semuanya mulai membaik.

Aku berhasil menyelesaikan kuliahku.

Aku berhasil menyelesaikan skripsiku.

Dan akhirnya aku berhasil mencapai garis akhir yang selama ini kuperjuangkan.

Aku wisuda.


Salah satu momen yang paling membahagiakan dalam hidupku.

Dan ya, lelaki yang selama ini menemaniku dari jauh datang untuk merayakan hari itu bersamaku.

Seperti biasanya, ia selalu berhasil memberikan kejutan yang membuatku tersenyum.

Karena itu, tahun 2022 berakhir dengan indah.


Usia 23 Tahun dan Dunia Nyata


Kini aku berusia 23 tahun.

Dan seperti kebanyakan lulusan baru lainnya, tantangan terbesarku adalah dunia kerja.


Aku sempat bekerja di media online, mencoba berbagai pekerjaan, menghadapi berbagai karakter manusia, dan merasakan sendiri bagaimana rumitnya dunia profesional.


Ada banyak cerita yang mungkin suatu hari akan kutulis secara khusus.

Karena ternyata drama di dunia kerja tidak kalah menarik dibandingkan drama saat kuliah.


Pada akhirnya, aku menemukan lingkungan kerja yang lebih sehat.

Tentu saja masalah masih ada.

Tetapi kali ini aku mulai belajar menikmatinya sebagai bagian dari proses bertumbuh.


Aku mulai memahami bahwa tidak semua hal harus sempurna agar kita bisa merasa bahagia.


Untuk Diriku di Masa Depan


Mungkin tulisan ini tidak terlalu istimewa.

Mungkin juga tidak sebaik tulisan-tulisan lain yang pernah kubaca.

Namun tulisan ini adalah pengingat bahwa aku pernah melewati begitu banyak hal dalam usia yang masih sangat muda.

Aku pernah kehilangan.

Aku pernah kecewa.

Aku pernah lelah.

Tetapi aku juga pernah bahagia, dicintai, didukung, dan diberi kesempatan untuk terus bertumbuh.

Itulah fase dua puluhanku sejauh ini.


Semoga aku tetap kuat menjalani tahun-tahun berikutnya.

Semoga aku terus berkembang menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Dan semoga suatu hari nanti aku benar-benar bisa bekerja di bidang yang kucintai dengan gaji dua digit seperti yang selama ini kuimpikan.

Kalau pun belum tercapai hari ini, tidak apa-apa.

Aku masih berjalan ke sana.


calendar
10 Jul 2023 18:37
view
30
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig