oranment
play icon
Tiga Tahun Kemudian: Perjalananku Menemukan Diriku di Batam
Cerpen
Kutipan Cerpen Tiga Tahun Kemudian: Perjalananku Menemukan Diriku di Batam
Karya zagitaallifya
Baca selengkapnya di Penakota.id

Hi, aku Zagita Allifya.


Tak terasa, sudah tiga tahun berlalu sejak terakhir kali aku menulis kisah hidupku di usia 23 tahun.

Hari ini, aku kembali membuka laman ini. Setelah sekian lama berjuang, jatuh bangun menghadapi kehidupan, dan mencari tempatku di dunia kerja, rasanya ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan.

Mungkin ini bukan kisah yang luar biasa. Namun, ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang berusaha bertahan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana. Dan semuanya dimulai dari satu tempat.


Batam.


Ya, Batam. Sebuah kota kecil yang dipenuhi hiruk-pikuk dunia industri. Kota yang kemudian mengubah jalan hidupku.


Berangkat dengan Modal Nekat Juli 2023 adalah terakhir kalinya aku menulis di blog ini. Lalu pada 11 Agustus 2023, aku memutuskan untuk pergi ke Batam dengan bermodalkan satu hal: tekad. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 8 Agustus, aku menerima sebuah email yang membuatku sangat bersemangat. Sebuah perusahaan oil and gas di Batam mengundangku untuk mengikuti wawancara kerja.


Sebagai lulusan Geofisika yang saat itu bekerja di sebuah toko tas di Bengkulu, aku merasa seperti mendapatkan secercah cahaya setelah berbulan-bulan berjalan dalam gelap.Setelah lebih dari setengah tahun lulus kuliah, akhirnya ada harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.


Pekerjaan yang mungkin bisa membuatku menggunakan gelar yang selama ini kuperjuangkan. Saat itu, aku sudah sangat lelah. Lelah menghadapi keadaan yang tidak kunjung membaik. Lelah melihat impian yang terasa semakin jauh. Karena itulah, email dan telepon yang kuterima siang itu terasa begitu berarti. Aku merasa memiliki alasan untuk berharap lagi.


Meninggalkan Zona Nyaman


Ketika kesempatan itu datang, aku hanya memiliki waktu dua hari untuk memutuskan. Orang tuaku memintaku berpikir matang-matang. Bagaimanapun juga, aku akan pergi jauh dari rumah dan memulai hidup baru di tempat yang sama sekali asing. Aku masih ingat bagaimana ayah dan ibuku menangis saat kami melakukan video call. Mereka khawatir.


Namun mereka juga tahu bahwa aku sudah terlalu lama berjuang dan membutuhkan kesempatan ini. Di sisi lain, pacarku saat itu justru menjadi salah satu orang yang paling mendukung keputusanku. Ia membantu menyiapkan berbagai kebutuhan keberangkatanku dan terus meyakinkanku bahwa aku mampu menjalani semuanya.

Saat itu aku bekerja selama 12 jam sehari dengan gaji sekitar Rp1.300.000 per bulan ditambah bonus Rp200.000 jika target penjualan tercapai. Melelahkan.

Dan jujur saja, tidak sebanding dengan energi yang harus kukeluarkan setiap harinya. Karena itulah aku mulai mencari peluang ke berbagai provinsi. Aku mengirim lamaran ke mana-mana, berharap ada satu pintu yang terbuka. Dan ketika panggilan wawancara dari Batam datang, aku tahu aku harus mencoba.


Kota Baru, Harapan Baru


Tanpa banyak pertimbangan lagi, aku berangkat. Sedikit sedih memang. Saat keberangkatan itu tiba, tidak ada keluarga yang mengantarkanku. Hanya seorang teman KKN-ku, Kurnia, yang menemaniku hingga perjalanan dimulai.


Setelah mengalami keterlambatan penerbangan selama lima jam, akhirnya aku tiba di Batam. Aku datang dengan membawa harapan yang sangat besar. Untuk sementara waktu, aku tinggal di rumah teman sepupuku. Ia menerima kehadiranku dengan baik dan memberiku tempat untuk berteduh selama aku mencari pekerjaan. Aku tahu bahwa keputusan merantau ini bukan keputusan yang mudah bagi keluargaku. Namun aku juga tahu bahwa jika ingin mengubah hidup, aku harus berani mengambil langkah pertama.


Dua Setengah Bulan yang Sangat Berat


Aku menjalani wawancara kerja itu dengan penuh harapan. Namun dua minggu kemudian, kabar yang kuterima bukanlah kabar yang kuinginkan. Aku gagal. Rasanya dunia runtuh seketika. Aku bingung, kecewa, dan mulai mempertanyakan semua keputusan yang telah kuambil.


Untungnya, ada orang-orang yang terus meyakinkanku untuk tidak menyerah. Aku mulai menghabiskan hari-hariku dengan memperbaiki CV, mengirim lamaran, dan mengikuti wawancara demi wawancara. Selama dua setengah bulan, aku menganggur.


Aku mengirim lebih dari 300 email lamaran kerja dan mengikuti lebih dari 20 wawancara kerja. Penolakan demi penolakan datang silih berganti. Lama-kelamaan, stres mulai menggerogoti diriku. Insomnia yang sudah lama kualami menjadi semakin buruk.Namun aku terus mencoba. Karena aku sadar, jika aku menyerah saat itu, semua perjuanganku akan sia-sia.


Belajar Bertahan


Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai kasir di sebuah grosir bahan kue. Bukan pekerjaan impianku. Jujur saja, aku sempat sedih. Namun dua hari setelah mulai bekerja, aku kembali mendapatkan beberapa panggilan wawancara. Aku sempat mencoba berbagai profesi, mulai dari admin pegadaian hingga Medical Representative di sebuah perusahaan farmasi.


Perjalanan karierku selama 2023 hingga 2024 benar-benar penuh dengan naik turun.

Aku jatuh.

Aku bangkit.

Lalu jatuh lagi.

Dan bangkit lagi.

Sampai akhirnya pada Juni 2024, sebuah kesempatan datang yang tanpa kusadari akan mengubah hidupku.


Menemukan Dunia Purchasing


Aku diterima sebagai Purchasing Staff di salah satu distributor besar di Batam. Inilah titik balik dalam karierku. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan akan bekerja di bidang purchasing. Aku bahkan tidak memiliki pengalaman sama sekali. Namun aku memilih untuk melepaskan idealismeku dan mencoba jalan yang berbeda. Hari pertama bekerja terasa menakutkan.


Aku masih ingat kalimat dari HR saat itu:"Saya kasih waktu satu minggu. Kalau kamu tidak bisa bekerja dengan baik, saya akan berhentikan kamu." Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Aku merasa takut. Tetapi di saat yang sama, aku merasa tertantang.

Setiap hari setelah pulang training, aku selalu merasa kurang percaya diri. Untungnya, ada seseorang yang selalu mengingatkanku tentang seberapa jauh aku sudah melangkah.


Dan setelah satu minggu berlalu, aku resmi menjadi bagian dari perusahaan itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bekerja tanpa mengeluh. Aku benar-benar menikmati apa yang kulakukan.


Ketika Badai Datang Lagi


Waktu terus berjalan. Aku berhasil bertahan. Namun ternyata kehidupan masih menyimpan ujian lainnya. Suatu hari, sebuah kasus korupsi mengguncang tim tempatku bekerja. Salah satu rekan kerjaku terbukti melakukan penyalahgunaan dana perusahaan hingga akhirnya harus berurusan dengan hukum. Di tengah proses penyelidikan itulah muncul masalah lain.

Aku terlibat dalam situasi yang membuatku merasa sangat terhina. Aku dipanggil ke ruangan manajemen dan diinterogasi mengenai berbagai hal yang bahkan tidak berkaitan langsung denganku.


Hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam perjalanan karierku. Aku menangis. Aku merasa dipermalukan. Aku merasa tidak memiliki siapa pun yang membelaku.


Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali mempertanyakan apakah aku harus bertahan di tempat itu.


Namun dari pengalaman tersebut, aku belajar satu hal penting: Tidak semua tempat kerja yang membentuk kita adalah tempat yang harus kita tinggali selamanya.


Kadang-kadang, tempat itu hanya hadir untuk mengajarkan sesuatu sebelum akhirnya kita melangkah pergi.


Berani Pergi


Sekitar satu bulan kemudian, aku mendapatkan kesempatan baru.

Kali ini aku tidak ragu. Aku mengajukan resign. Walaupun prosesnya penuh drama dan berbagai upaya untuk menahanku tetap tinggal, aku sudah memantapkan hati.


Aku memilih pergi. Bukan karena menyerah. Tetapi karena aku tahu diriku pantas mendapatkan lingkungan yang lebih baik.


Menjadi Versi Terbaik dari Diriku


Perusahaan berikutnya adalah perusahaan manufaktur injection moulding.

Di sana aku belajar banyak hal. Aku berkembang. Aku menjadi lebih percaya diri. Bahasa Inggrisku meningkat pesat karena hampir seluruh aktivitas kerja dilakukan menggunakan bahasa tersebut. Posisiku pun berkembang. Aku bukan lagi sekadar admin atau purchasing staff. Aku tumbuh menjadi seorang Procurement Executive.


Dan untuk pertama kalinya, aku menemukan passion yang selama ini tidak pernah kusadari. Ternyata dunia purchasing dan procurement adalah dunia yang sangat kusukai.


Semua Perjuangan Itu Tidak Sia-Sia


Kemudian pada 27 April 2026, aku memulai perjalanan baru lagi. Aku diterima di salah satu perusahaan PMA sebagai Procurement and Logistics Specialist.


Saat menulis ini, aku masih merasa bangga pada diriku sendiri. Bukan karena jabatan. Bukan karena gaji.

Tetapi karena aku berhasil melewati semua hal yang dulu terasa mustahil.

Dari seorang lulusan dengan IPK yang tidak istimewa.

Dari seseorang yang pernah bekerja dengan gaji yang sangat kecil.

Dari seseorang yang pernah ditolak berkali-kali.

Aku berhasil sampai di titik ini. Aku percaya bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita.


Namun selama kita terus berusaha, terus belajar, dan tidak berhenti melangkah, selalu ada jalan yang akan terbuka. Hari ini, aku juga bisa mulai membantu keluargaku. Terutama ayahku yang kini telah memasuki masa pensiun. Dan bagiku, itu adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup.


Untuk Diriku yang Dulu


Jika aku bisa kembali menemui diriku yang berusia 23 tahun, mungkin aku hanya akan mengatakan satu kalimat:


"Bertahanlah sedikit lebih lama. Semua air mata, penolakan, dan perjuangan itu pada akhirnya akan membawa kita ke tempat yang lebih baik."

Terima kasih untuk semua orang yang pernah mendukungku. Terima kasih untuk mereka yang pernah percaya padaku ketika aku sendiri bahkan meragukan diriku. Dan yang paling penting, terima kasih untuk diriku sendiri. Karena sudah memilih untuk tidak menyerah. Sampai jumpa di cerita berikutnya. — Zagita Allifya

calendar
10 Jun 2026 09:33
view
25
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig