

Hari Itu
Aku berusia tiga belas tahun ketika menyadari bahwa rumah bisa hancur tanpa benar-benar runtuh.
Saat itu aku duduk di bangku SMP kelas dua.
Aku tinggal bersama ibu, ayah, dan kedua adikku di sebuah rumah kontrakan sederhana di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Kami bukan keluarga yang berkecukupan.
Sejak kecil aku sudah terbiasa melihat ibu bekerja keras. Aku dan adik-adikku pun sering ikut membantu sebisa kami.
Kadang kami mengantarkan kue ke warung-warung.
Kadang aku berjualan kecil-kecilan di sekolah untuk menambah uang jajan.
Aku juga pernah membantu guruku membuat susu kacang kedelai untuk dijual.
Bagi kami, bekerja bukan hal yang asing.
Begitulah cara keluarga kami bertahan.
Ayah lebih sering bekerja di luar kota. Pekerjaannya tidak memiliki jadwal yang pasti. Kadang ia pulang setelah beberapa hari, kadang lebih lama.
Sebagai anak SMP, aku tidak terlalu memahami urusan orang dewasa.
Aku hanya tahu bahwa ibu selalu berusaha membuat semuanya berjalan baik-baik saja.
Setidaknya itulah yang kupikir saat itu.
Sampai suatu hari aku pulang sekolah.
Hari itu terlihat biasa saja.
Aku berjalan pulang seperti biasanya sambil membawa tas sekolah yang terasa lebih berat karena buku-buku pelajaran.
Namun saat membuka pintu rumah, aku langsung tahu ada sesuatu yang salah.
Rumah kami berantakan.
Beberapa barang berserakan di lantai.
Pecahan benda-benda yang kukenal memenuhi sudut ruangan.
Suasana yang biasanya ramai terasa begitu sunyi.
Aku berdiri terpaku.
Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan segera berlari kerumah tetanggaku, aku menangis aku bingung tapi aku juga tahu apa yang terjadi.
Di usia tiga belas tahun, aku belum memahami bahwa beberapa kejadian mampu mengubah hidup seseorang selamanya.
Hari itu adalah salah satunya.
Belakangan aku mengetahui alasan di balik semua kekacauan tersebut.
Ayah, yang selama ini sering bekerja ke luar kota sebagai bagian dari tim sukses sebuah partai politik, kembali bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.
Mantan kekasihnya.
Pertemuan itu tidak berhenti sebagai pertemuan biasa.
Wanita itu hamil. Dan ayahku harus mempertanggungjawabkannya.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat mengetahui kenyataan tersebut.
Marah
Kecewa.
Bingung.
Mungkin semuanya bercampur menjadi satu.
Namun yang paling kuingat justru bukan kemarahanku.
Melainkan ketabahan ibuku. Ia tetap saja menangis dan marah.
Aku mendengarnya menangis setiap malam.
Ada saat ia memeluk kami bertiga saat tidur, dia berbicara bahwa dia begitu sakit.
Aku yang sebenarnya tidak benar-benar tertidur memilih untuk menahan emosiku, tapi ternyata tidak bisa. Aku bangun dan memeluknya.
Tapi itulah ibuku dia selalu tabah, dan berharap bahwa ayah kami akan berubah menjadi lebih baik.
Di saat sebagian besar orang mungkin memilih pergi, ibu justru memilih bertahan. Ia bahkan berkata bahwa ayah harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Dan tetap menemani ayahku.
Kalimat yang hingga hari ini masih sulit kupahami sepenuhnya.
Aku tidak tahu dari mana seorang perempuan bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu. Tetapi ibuku memilikinya.
Sayangnya, masalah tidak berhenti sampai di sana.
Keluarga besar ibuku yang selama ini menyaksikan perjuangan kami akhirnya ikut turun tangan.
Mereka meminta ayah membuat sebuah perjanjian. Sebuah kesempatan terakhir.
Isinya sederhana namun berat:
Kami harus pindah ke kampung halaman keluarga ibu di Empat Lawang, Sumatera Selatan. Dan dalam waktu satu tahun, ayah harus membuktikan bahwa ia mampu mendapatkan pekerjaan yang tetap, rumah dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Aku tidak pernah diminta pendapat.
Tidak ada seorang pun yang bertanya apakah aku ingin pindah.
Apakah aku siap meninggalkan sekolahku.
Atau apakah aku siap meninggalkan hidup yang selama ini kukenal.
Keputusan itu sudah dibuat oleh orang-orang dewasa.
Dan aku hanya seorang anak yang harus menjalaninya.
Desember 2013, setelah menerima rapor semester pertama kelas dua SMP, aku meninggalkan Jakarta.
Meninggalkan sekolahku.
Meninggalkan teman-temanku.
Meninggalkan rumah yang selama ini kukenal.
Saat mobil yang membawa kami bergerak meninggalkan kota, aku belum tahu bahwa perjalanan itu bukan hanya perpindahan tempat tinggal.
Perjalanan itu adalah awal dari hidup yang benar-benar berbeda.
"Perjalanan itu adalah awal dari hidup yang benar-benar berbeda."

