oranment
play icon
book
Karya ini ada di dalam 1 buku
Empat Lawang dan Kehidupan Baru
Cerpen
Kutipan Cerpen Empat Lawang dan Kehidupan Baru
Karya zagitaallifya
Baca selengkapnya di Penakota.id

Hari itu Tiba


Aku tidak menangis saat meninggalkan Jakarta.

Setidaknya tidak di depan siapa pun.

Aku hanya diam sepanjang perjalanan.

Melihat gedung-gedung yang semakin jauh dan bertanya-tanya kapan aku bisa kembali.


Aku tiba di sebuah kabupaten yang menurutku saat itu masih sejuk, masih asri dan juga tempat yang banyak menyimpan beberapa kenangan masa kecilku.


Menjadi Anak Baru


Aku tidak langsung masuk sekolah setelah tiba di Empat Lawang.

Ternyata pindah sekolah tidak sesederhana mengemasi pakaian lalu datang ke kelas baru keesokan harinya.


Ada banyak urusan administrasi yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Karena aku berasal dari MTs dan akan pindah ke SMP negeri, prosesnya memakan waktu lebih lama dari yang kami kira.


Sementara itu, adikku yang nomor dua lebih beruntung.

Ia bisa langsung masuk sekolah dasar beberapa hari setelah kami tiba.

Sedangkan aku harus menunggu.


Tiga hari.

Tiga hari yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya.

Aku hanya menghabiskan waktu di rumah kakek dan nenek, memperhatikan lingkungan yang masih terasa asing.

Aku mendengar orang-orang berbicara dengan logat yang belum terbiasa kudengar.


Aku melihat jalanan yang berbeda dari Jakarta.

Aku bahkan masih bingung harus menyebut tempat ini sebagai rumah atau bukan.

Hari pertama sekolah akhirnya tiba.

Aku masuk ke kelas dengan perasaan yang campur aduk.

Gugup.

Canggung.

Dan sedikit takut.


Aku adalah murid baru dari Jakarta.

Sebuah fakta yang entah bagaimana langsung diketahui semua orang.

Tidak lama setelah guru memperkenalkanku di depan kelas, seorang anak laki-laki bernama Syakban tiba-tiba berseru dari bangkunya.

"Kamu pindah karena Jakarta banjir, ya?"

Seketika seluruh kelas tertawa.


Aku ikut tertawa meskipun sedikit bingung.

Bagiku pertanyaan itu terdengar lucu.

Seolah-olah Jakarta hanya terdiri dari banjir dan gedung-gedung tinggi.

Namun hari itu aku sadar bahwa aku benar-benar berada di tempat yang baru.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Jakarta, aku mulai merasa penasaran dengan kehidupan yang sedang menungguku di sini.


Hari pertamaku di sekolah baru ternyata dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku tidak memiliki bangku.


Saat masuk ke kelas, aku berdiri cukup lama karena memang tidak ada meja dan kursi yang bisa kugunakan.

Beberapa teman sekelas akhirnya diminta bu yuni walikelasku pada saat itu, membantu mencarikan meja dan kursi dari kelas lain. Aku masih ingat bagaimana mereka berjalan beramai-ramai untuk mengambilkannya.


Saat itu aku merasa tidak enak sekaligus terharu.

Di Jakarta, aku tidak pernah mengalami hal seperti itu.

Semua sudah tersedia sejak hari pertama sekolah.


Namun di tempat baru ini, justru teman-teman yang bahkan belum mengenalku ikut membantu tanpa banyak bertanya.

Lingkungan sekolahku juga sangat berbeda dari sekolah sebelumnya.

Lapangan bolanya luas membentang.

Pepohonan tumbuh di berbagai sudut sekolah.

Udara pagi terasa sejuk dan segar.


Semuanya begitu jauh berbeda dari Jakarta yang penuh kendaraan dan suara bising. Sekolahku sebelumnya adalah sebuah MTs negeri di Jakarta.

Kami memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

Setiap kelas dilengkapi pendingin ruangan dan proyektor.

Aku terbiasa belajar dengan fasilitas tersebut.

Karena itu, beberapa hari pertama di sekolah baru terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Namun yang paling membuatku terkejut justru bukan fasilitasnya.

Melainkan cara teman-temanku memandangku.


Suatu hari guru bahasa Inggris memberikan beberapa pertanyaan sederhana di kelas. Tanpa berpikir panjang aku menjawab beberapa di antaranya.

Aku juga bisa menerjemahkan beberapa kalimat tanpa membuka kamus.

Tiba-tiba beberapa teman menoleh ke arahku. Meereka memang langsung bergegas membuka kamus untuk mengartikannya.


Tapi dari kejadian itu terlihat seolah-olah aku baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa.

Padahal bagiku itu hal yang biasa.

Di sekolah lamaku, kami bahkan memiliki English Day.

Pada hari-hari tertentu, siswa didorong untuk menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Karena itulah aku terbiasa mendengar dan menggunakan beberapa kalimat sederhana.


Namun di kelas itu aku mulai menyadari bahwa pengalaman yang kuanggap biasa ternyata tidak dimiliki semua orang.

Untuk pertama kalinya aku melihat bahwa perpindahanku dari Jakarta ke Empat Lawang bukan hanya soal alamat rumah yang berubah.

Aku sedang membawa dunia yang berbeda ke tempat yang berbeda pula.

Dan perlahan, aku mulai belajar memahami dunia mereka, sementara mereka juga mulai mengenalku.


Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan teman.

Dua orang yang duduk tepat di belakangku, Lesta dan Cindy, menjadi teman pertamaku di sekolah baru. Mereka ramah dan banyak membantuku beradaptasi.

Saat jam istirahat tiba, mereka mengajakku berkeliling sekolah.


Mungkin mereka ingin menunjukkan lingkungan baruku.

Mungkin juga mereka penasaran dengan murid pindahan dari Jakarta yang tiba-tiba muncul di kelas mereka.

Aku mengikuti mereka menyusuri setiap sudut sekolah.

Dan jujur saja, aku cukup terkejut.

Sekolah ini sangat berbeda dari sekolahku sebelumnya.

Hal pertama yang kusadari adalah luasnya area sekolah.

Lapangan bola membentang begitu besar di depan mata.

Pepohonan tumbuh di berbagai sisi halaman.

Udara terasa sejuk dan segar.


Tidak ada suara kendaraan yang bersahut-sahutan seperti yang biasa kudengar di Jakarta.

Namun semakin jauh aku berkeliling, semakin banyak perbedaan yang kutemukan.

Beberapa ruang kelas masih memiliki lantai semen tanpa keramik.

Ada atap-atap yang tampak bocor dan berlubang.

Beberapa bangunan terlihat tua dan membutuhkan perbaikan.

Sebagai anak yang berasal dari sekolah negeri di Jakarta, aku cukup terkejut melihat kondisi tersebut.


Aku terbiasa dengan ruang kelas yang dilengkapi proyektor.

Aku terbiasa dengan pendingin ruangan yang menyala hampir sepanjang hari.

Di sini, semuanya terasa jauh lebih sederhana.

Namun ada satu tempat yang paling ingin kulihat.

"Perpustakaan".

Aku memang menyukai buku sejak kecil.

Ke mana pun aku pergi, perpustakaan selalu menjadi tempat pertama yang ingin kukunjungi.


Karena itu aku langsung bertanya kepada Lesta dan Cindy di mana letaknya.

Saat akhirnya sampai di sana, aku terdiam. Ruangan itu tampak tidak terurus.

Beberapa rak terlihat rusak. Buku-buku berserakan di berbagai sudut.

Sebagian bahkan terlihat berdebu dan lama tidak disentuh. Aku tidak tahu harus merasa sedih atau kecewa. Yang kutahu, perpustakaan itu sangat berbeda dari apa yang selama ini kukenal.


Di perjalanan pulang hari itu, aku terus memikirkan sekolah baruku.

Ada banyak hal yang membuatku terkejut.

Ada banyak hal yang terasa asing.

Namun anehnya, aku tidak ingin menyerah.

Aku justru mulai penasaran.

Tentang tempat ini.

Tentang teman-teman baruku.

Dan tentang kehidupan yang sedang menungguku di Empat Lawang.

calendar
12 Jun 2026 09:27
view
10
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig