

Sudah hampir dua tahun, ya.
Waktu ternyata berjalan begitu cepat.
Dua tahun sejak jarak membentang di antara kita, memisahkan dua orang yang saling mencintai dengan ribuan kilometer yang tak bisa ditempuh hanya dengan kerinduan.
Aku berharap satu hal yang sederhana.
Semoga perasaanku dan perasaanmu masih tetap berada di tempat yang sama.
Masih saling menjaga satu sama lain.
Masih saling memilih, meskipun keadaan sering kali tidak memudahkan.
Sudah begitu lama aku tidak berjumpa dengannya.
Rios Saputra.
Nama yang sederhana, sama seperti orangnya.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku masih merindukannya.
Malam ini, ketika angin berhembus pelan dan udara terasa semakin dingin, entah mengapa kerinduan itu terasa lebih nyata dari biasanya.
Aku memikirkan banyak hal tentang dirinya.
Tentang suaranya.
Tentang tawanya.
Tentang percakapan-percakapan sederhana yang sering kali mampu membuat hari yang berat terasa lebih ringan.
Ada hari-hari ketika aku begitu menantikan sebuah pesan darinya.
Sebuah panggilan telepon.
Atau sekadar notifikasi kecil yang menunjukkan bahwa ia masih mengingatku di tengah kesibukannya.
Kadang aku merasa sesak menghadapi jarak ini.
Aku ingin bertemu.
Aku ingin melihatnya secara langsung.
Aku ingin berada di tempat yang sama tanpa harus dipisahkan oleh layar dan sinyal internet.
Namun aku selalu mengingat satu hal yang sering ia katakan:
"Bersabarlah sedikit lagi."
Aku tahu perjalanan untuk menemuiku bukanlah hal yang mudah.
Ada banyak hal yang harus ia perjuangkan terlebih dahulu.
Dan aku memahami itu.
Setiap hari ia bekerja dengan keras.
Membagi waktunya antara pekerjaan dan kuliah.
Menjalani hari-hari yang melelahkan dengan jadwal yang tidak selalu ramah.
Namun di tengah semua kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk meneleponku.
Kadang hanya untuk bercerita tentang hal-hal sederhana.
Kadang hanya untuk memastikan hariku baik-baik saja.
Dan sering kali, suaranya menjadi hal terakhir yang kudengar sebelum tertidur.
Tentu saja hubungan kami tidak selalu berjalan mulus.
Ada pertengkaran.
Ada salah paham.
Ada air mata yang jatuh karena rasa rindu yang terlalu lama dipendam.
Namun mungkin begitulah cinta jarak jauh bekerja.
Ia mengajarkan dua orang untuk tetap bertahan bahkan ketika mereka tidak bisa saling menggenggam tangan.
Hari demi hari terus berlalu.
Kita menjalani kehidupan masing-masing.
Kamu di sana.
Aku di sini.
Mengejar mimpi yang berbeda, tetapi tetap membawa tujuan yang sama.
Kadang aku tidak percaya bahwa kita telah sampai sejauh ini.
Bahwa setelah semua kesulitan, semua keraguan, dan semua jarak yang harus dihadapi, kita masih memilih untuk saling bertahan.
Aku sering membayangkan bagaimana rasanya bertemu kembali.
Mungkin tidak perlu melakukan sesuatu yang istimewa.
Mungkin cukup duduk berdampingan.
Mungkin cukup melihatmu secara langsung tanpa harus melalui layar.
Atau mungkin cukup memelukmu sebentar dan menyadari bahwa penantian panjang ini akhirnya terbayarkan.
Karena sejujurnya, ada kalanya aku merasa lelah.
Ada saat-saat ketika aku ingin menyerah pada keadaan.
Namun setiap kali itu terjadi, aku selalu teringat betapa banyak hal yang sudah kita lalui bersama.
Dan aku sadar bahwa perjuangan ini terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.
Terima kasih karena selama ini tetap bertahan.
Terima kasih karena selalu berusaha memahami diriku, bahkan ketika aku sedang keras kepala, terlalu manja, atau sulit dimengerti.
Maaf jika aku belum bisa menemanimu secara langsung dalam setiap langkah yang kamu jalani.
Maaf jika terkadang aku lebih banyak menambah beban daripada menjadi tempat pulang.
Namun percayalah, aku selalu berusaha menjadi seseorang yang pantas untuk diperjuangkan olehmu.
Dua tahun.
Jika dipikir-pikir, itu bukan waktu yang sebentar.
Ada begitu banyak cerita yang telah kita lalui.
Dari pertemanan sederhana, hingga akhirnya menjadi dua orang yang saling menguatkan satu sama lain.
Aku tidak tahu seperti apa masa depan yang sedang menunggu kita.
Tetapi aku berharap akhir yang indah itu benar-benar ada.
Agar aku bisa percaya bahwa semua air mata, kerinduan, dan pertengkaran yang pernah kita lalui bukanlah sesuatu yang sia-sia.
Melainkan bagian dari perjalanan yang membawa kita menuju tempat yang sama.
Dan jika hari itu benar-benar datang, aku ingin mengingat bahwa kita pernah berjuang sejauh ini.
Bersama.
Terima kasih karena sudah ada untukku.
Dan terima kasih karena hingga hari ini, kamu masih memilih untuk tinggal.

