Berterus Terang
Cerpen
Kutipan Cerpen Berterus Terang
Karya zuhaaaa
Baca selengkapnya di Penakota.id

Nata mengaduk es teh tarik kesukaannya di kantin sembari memperhatikan segala gerak gerik manusia yang hilir mudik untuk memenuhi hasrat perut maupun dahaga. Ada yang mengantre untuk memesan makanan maupun minuman, ada pula yang duduk bersama rombongan gengnya sekedar diskusi atau bergosip dengan topik yang sedang hangat dan menjadi tema perbincangan di meja kantin, atau si mbak dan si mas yang sibuk mengantarkan pesanan para mahasiswa atau pembeli yang jajan di kantin ini.


Pikiran Nata kacau, hatinya tak tenang. Perihal hati memang selalu membuat manusia menjadi bingung mengenai diri sendiri. Apalagi ini menyangkut perasaan orang yang ternyata dia masih milik orangtuanya. Tak ada hak baginya untuk menyakiti orang lain, apalagi jika sudah menjadi miliknya nanti, berakibat fatal dan ia tak menginginkannya terjadi dalam kisah cintanya.


Sebenarnya ia tampan dan cerdas. Belum lagi banyak perempuan yang mengajukan diri untuk menjadi pendamping hidupnya. Sayangnya, perasaan yang selama ini ia simpan tetap sama dan tak berubah sedikit pun. Hanya perihal waktu yang baginya selalu belum tepat sehingga ia selalu mengulur dan terus mendiamkannya.


Nata tidak sendiri, ia bersama Jasmine –teman dekatnya– yang kebetulan dulu juga satu jurusan dan sekelas hingga kini mereka bekerja di satu tempat yang sama. Membahas beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka atau berbincang mengenai sesuatu yang sedang viral di dunia maya saat ini. Ia merasa nyaman ketika bersama Jasmine, karena menurutnya perempuan yang telah ia anggap sebagai sahabatnya selalu nyambung ketikaa diajak berdiskusi dan berbicara mengenai hobi mereka masing-masing.


Dua puluh menit telah berlalu dan es teh tariknya sudah mulai hambar menyisakan es batu yang mencair. Mereka berdua segera beranjak untuk membayar dan segera memulai pekerjaannya kembali.


“Nata, Aku gak tega kalau kamu diam tanpa berterus terang.” Ujar Jasmine ketika selesai membayar makanannya


Nata menghentikan langkahnya, pertanyaan Jasmine seakan membuatnya bersalah. Sebenarnya Jasmine sudah ingin menanyakan hal ini sejak lama. Namun, bagi Jasmine waktu tak pernah tepat untuk membicarakan perihal ini. Ia tak ingin mengganggu pikiran Nata namun juga ia tak ingin membiarkan perasaan orang lain sia-sia saja.


“Aku gak sanggup kalau harus bilang ke Nadine, Min.”


“Kalau kamu gak sanggup, harusnya kamu dari dulu tegas, Nat.”


“Aku tau, tapi belum sanggup kalau sekarang.”


“Okay, kemarin kamu bilang kalau Nadine terlalu lembut untuk ditegasin. Tapi, semakin kamu kayak gini, gak ada penjelasan justru kamu menyakitinya secara perlahan. Inget ya Nat, minggu depan dia udah mau balik ke daerahnya. Tentunya dia gak bakal kesini lagi kalau gak penting-penting amat. Jangan sampai menyesal.”


Jasmine meninggalkan Nata yang perlahan memahami kalimatnya. Nata hanya bisa menghembuskan napas dengan berat. Ia tak rela namun juga tak berani. Nyalinya terlalu kecil, tak seperti perawakannya yang tampak gagah dan tegas. Sayangnya, perihal hati ia lemah. Bahkan tak berani untuk jujur dengan perasaannya sendiri.


Nata berjalan menuju ruangannya. Kalimat Jasmine masih terngiang di telinganya padahal suasana sekitar kampus masih ramai, bahkan banyak mahasiswa yang suaranya seperti laron terbang namun perkataan Jasmine lebih menguasai.


“Pak. Permisi, saya mau memberikan ini.”


Seorang gadis dengan rambut hitam sebahu berwajah ayu mengenakan kacamata berbingkai hitam memecahkan lamunan Nata.


“Nadine? Ada apa?” ucapnya sedikit terkejut


“Ini ada surat pengunduran diri saya menjadi asisten Bapak. Saya ingin pamit pulang ke daerah saya dan memulai pekerjaan baru saya disana.”


“Kamu yakin mau resign dari sini dan gak jadi asisten dosen lagi?” tanya Nata sedikit gemetar, bibirnya mulai kering dan lidahnya kelu untuk bertanya padahal ini hanya hal biasa saja.


“Iya pak. Saya sudah memikirkannya secara matang. Kalau begitu, saya permisi pak.”


Ucap Nadine sembari berjalan keluar ruangan Nata


“Nadine, kamu pergi dengan saya saja ya. Saya ikut mengantarmu pulang.”

Nadine menaikkan alisnya, sedikit terkejut dan heran.


“Maksudnya pak? Bapak mau penelitian di kampung saya ya?” muka polosnya membuat Nata gemas


“Saya mau bertamu ke rumahmu, dengan niat baik dan membawa orangtua saya.” Jawab Nata sambil beranjak dari kursinya.


Nadine terperanjat, Nata berusaha tersenyum meskipun belum tahu apakah permintaannya diterima atau tidak. Kalimat yang keluar dari bibirnya tampak ada yang salah.


Mengantarkannya pulang dan membawa orang tuanya, Oh tidak… Nata, bego banget sih” Gumam Nata sambil memejamkan mata penuh penyesalan namun lega


“Saya pulang karena saya ingin mempersiapkan acara pernikahan saya bulan depan, Pak.” Ucap Nadine sembari tersenyum ia lalu permisi untuk segera pergi dari ruangan Nata untuk terakhir kalinya.


Duar…..


Bagai ada petir di siang bolong. Dunia Nata seakan berhenti dan jarum jam seperti tak ingin berputar kembali. Lututnya seakan tak ada tulang yang menopang dan hatinya seperti pecah berkeping-keping. Impiannya hidup bersama pujaan hati yang selama lima tahun ia menyimpan perasaan suci itu kini lenyap dan pupus sudah harapannya selama ini. Benar kata Jasmine, harusnya sejak dulu dia berterus terang dengan adik tingkatnya sendiri yang selama dua tahun menjadi asistennya.


“Semoga lancar ya, Nadin.” Gumam Nata dengan suara lirih


25 Nov 2022 11:48
34
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh: