Penyesalan Arum
Cerpen
Kutipan Cerpen Penyesalan Arum
Karya zuhaaaa
Baca selengkapnya di Penakota.id

“Ibu kan udah berapa kali bilang sama kamu, Rum. Jangan suka gantungin perasaan orang. Akhirnya kan gini. Dendi malah melamar temen kamu sendiri. Kamu tahu Dendi dan kamu teman kecil dari dulu.”


“Hehe, udahlah bu. Arum pernah bilang, bahwa Arum gak pernah gantungin perasaan anak orang. Arum baik-baik saja kok. Nih lihat buktinya, makanan Arum abis lho.”


Arum memang seperti itu, selalu berpura-pura tidak merespon kalimat ibunya yang harusnya nyambung gitu ketika membahas tentang Dendi. Apalagi barusan, undangan walimatul ursy Dendi dan Wulan tergeletak manis di atas meja makan ia malah bahas tentang makan malamnya yang sudah tak tersisa di piring.


“Kamu memang baik-baik aja, Nak. Tapi hati kamu yang Ibu khawatirkan.” Kata wanita yang Arum sebut sebagai Ibu itu sembari menutup meja dengan tudung nasi.


Arum menghentikan pekerjaannya yang sedang mencuci piring, ia memang tampak ceria. Bahkan tak sedikit pun wajah sedihnya terlihat di air mukanya yang begitu ayu nan manis. Semuanya seakan tertutupi dengan sempurna.


“Ibu, percayalah. Arum baik-baik saja sekarang. Arum hanya butuh doa ibu untuk seterusnya, begitupula Arum harus memberikan doa terbaik Arum untuk Ibu selama hayat dikandung badan.” Ujarnya sambil memeluk Ibunya yang setinggi bahunya.


“Kamu kuat ya, Nak. Jadilah wanita yang tangguh. Ibu percaya suatu saat nanti, kamu akan menemukan laki-laki yang tulus mencintaimu.” Balas sang Ibu mengeratkan pelukannya.Air mukanya syahdu.


Arum terharu, entah karena memang hatinya sudah mulai ingin menangis atau memang karena sejak ia memutuskan untuk memendam perasaannya pada Dendi tertahan hingga sekarang air matanya sulit terbendung kembali.

Ibunya hanya tahu, dia dan Dendi sudah begitu cocok. Bahkan Dendi sering bertandang ke rumah sebentar untuk menanyakan perihal pernikahan. Dan parahnya lagi, Ia bertanya hal itu dengan Ibunya Arum. Ibunya senang, tapi Dendi tidak mengerti sebuah aturan yang seharusnya tidak membuat kedua belah pihak merasa diharapkan. Ia harusnya paham, jika ia tidak menginginkan Arum.


Arum tahu hal ini sepele, perasaan yang tak terbalaskan begitu hatinya selalu membahagiakan diri sendiri. Tidak harus menangis hanya karena soal perasaan. Wanita lebih kuat dan tangguh, karenanya lelaki yang ia dapatkan kelak mampu memeluknya jauh lebih erat ketika ia menangis. Dalam hal apapun itu, entah senang maupun duka. Tapi, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Sangat benar, jika ada barometer kejujuran mungkin akan tepat seratus persen.


Ia dan hatinya sendiri, lebih daripada itu. Penyesalan dan rasa sakit yang sulit untuk diungkapkan.


“Aku banyak terima kasih kepadamu, Rum. Besok aku dan keluargaku akan bersilaturahmi ke rumah Wulan untuk meminangnya.” Ujar Dendi sore itu Arum terhenyak, seperti tersambar petir di siang bolong.


Jadi untuk apa kedekatan selama ini, Den?—


25 Nov 2022 11:51
57
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh: