“Untuk apa ku mulai? Mengapa asa ini men dongak?
Bersama buih jingga menjemput manja
mengajak berfoto, tersenyum, bermain k e j a r – k e j a r a n
“Hanya ini yang ku mau, tidak lebih”
Tak terjamah sedalam apa ia
Akhirnya, tiba waktunya untuk pejaman abadi
tanpa….
Ck, tangan tak seturut mulut rupanya
Lagi-lagi menjulur sepi pinta seraya menyambar
energi tak kasat mata
Selalu saja menjadi benalu epilog kisah
Mungkin tidak lalu, dan pasti di nanti