Setumpuk Rindu di Penghujung Temu
Cerpen
karya @Noe05
Kutipan Cerpen Setumpuk Rindu di Penghujung Temu
Karya Noe05
Baca selengkapnya di Penakota.id

Gemercik hujan tiba-tiba menggugah lamunan, setengah malas ku seduh kopi sumatera mandheling yg dibeli kemarin. Sedikit trivia, kopi ini merupakan salah satu jenis kopi arabika dan dikenal di dunia sejak tahun 1878. Dinamakan kopi mandheling karena pada awalnya kopi jenis ini pertama kali diekspor melalui pelabuhan di pesisir mandheling natal. Kopi ini diolah dengan proses medium roasted, keasaman yg rendah, terdapat rasa seperti coklat, dan kaya dengan aroma gula merah menjadi karakteristik dari kopi ini. (Semoga trivia ini sedikit bermanfaat.. hehe)


Namaku Dian Sasongko, biasa dipanggil dian. 24th sudah aku hidup dibumi ini, pagi bekerja malam berkuliah menjadi rutinitas yg sedang kujalani sekarang. Usia yg mungkin sedikit terlambat untukku melanjutkan pendidikan, yah paling tidak ada sedikit jawaban sederhana jika ada yg bertanya tentang waktu luangku dihabiskan untuk apa. Dan bagiku ini menjadi salah satu pengharap agar kelak bisa menjadi seseorang yg lebih berguna untukku sendiri dan untuk orang-orang yg aku sayangi. Karena yg aku tau bahwa tiap manusia memiliki waktunya sendiri untuk menjadi lebih baik, tidak masalah jika ia terlambat melangkah, asal ia tidak berhenti.


Perihal asmara, sampai saat ini aku benar-benar belum memiliki hubungan yg begitu mendaur perasaan. Beberapa perkenalan hanya sampai pada pertemanan dan beberapanya lagi berakhir acuh tak acuh, bahkan candaan teman tentang kisah cintaku adalah "dian itu mantannya banyak, tetapi baru sekadar mantan calon" dan diakhiri dengan gelak tawa yg sedikit meledek. Yah waktu itu memang lumayan menjengkelkan jika teman bercanda seperti itu, sampai akhirnya aku mulai terbiasa dan berdamai dengan diri sendiri hingga bisa ikut tertawa dengan candaan itu. 


"An, bikin dua dong kopinya", suara temanku mengagetkanku yg entah dia datang dari mana, hampir saja gelas yg kupegang jatuh. "Ambil gelasnya sini", ku balas singkat.

Oh iya, saat ini aku tinggal di bekasi bersama salah satu teman yg sudah aku kenal sedari kecil. Namanya Nicholas, aku biasa memanggilnya nicho, ia bekerja di salah satu rumah sakit swasta yg tidak jauh dari tempat kami tinggal. Sebuah ketidaksengajaan kami bisa bertemu kembali, setelah sempat terpisah beberapa tahun. Aku yg harus berkelana di berbagai kota, dan ia yg saat itu sedang melanjutkan pendidikannya di kota cirebon tiba-tiba dipertemukan kembali di kota ini, kota seribu asa bagi para perantau katanya.


Setahun lebih aku dan nicho tinggal bersama, banyak hal yg sudah kita lalui dari liburan bareng ke tempat-tempat yg belum pernah di kunjungi, wisata kuliner ke berbagai pelosok kota ini, mendaki bersama di gunung ciremai, dan bahkan kami pernah jalan tengah malam menerabas dinginnya malam demi hanya 2 bungkus pancong rasa coklat dan keju berteman es kopi. 

2 gelas berisi kopi sudah tersaji, lalu ku bawa menuju teras untuk menikmati hujan yg belum juga berhenti. "Nic, sini ke teras. Kita ngopi disini saja", teriakku. "Bentar an, ganti baju dulu", jawabnya.

Kami berdua pun bercengkerama sambil menikmati kopi berteman hujan. "An, kamu betah sendiri?", tiba-tiba nicho bertanya padaku. "Entahlah nic, mungkin belum saatnya aja aku dicintai.. hehe", jawabku seadanya.

"Mau ga aku kenalin sama temennya pacarku yg di bandung?"

"Kalo aku sih mau-mau aja nic, tapi dianya mau ga!"

"Entar aku coba tanyakan ke pacarku an, soalnya kemaren dia sempat bercerita kalo dia punya teman yg kebetulan udah lama sendiri"

"Oke nic, ditunggu kabar baiknya."


Seminggu sudah kala percakapan itu terjadi, sebenarnya aku pun tidak begitu berharap. Apakah dia mau berkenalan dengan orang yg jauh darinya, tidak tau asal-usulnya, dan tidak tau sama sekali aku seperti apa. Sepulang kuliah aku sempatkan mampir ke rumah sakit tempat nicho bekerja, kebetulan ia sedang dinas malam.

(Via whatsapp)

"Nic sibuk ga? Aku mampir ya kesitu"

"Sini aja an, kebetulan lagi ngopi didepan. Dan ada kabar baik juga, kemaren lupa ngabarin. Hehe,"


Setibanya di rumah sakit, ia melambaikan tangan memberitahu keberadaannya. "Sini an, mau pesen minum ga?," tangkasnya. "Boleh nic, apa aja yg seger-seger," jawabku.

Dengan mimik serius ia membuka percakapan, "an, kata pacarku temennya mau kenalan, nih nomornya nanti coba hubungi ya an," Sedikit kaget bercampur senang aku mencatat nomor yg dia berikan dan bertanya balik, "serius nic?, bahkan dia belum tau aku kaya gimana loh."

"Udah tenang aja, kan aku cerita ke pacarku yg baik-baik tentang kamu an.. hahahah,"

"Ah kamu nic, nanti dia berekspektasi tinggi loh ke aku yg biasa banget ini,"

"Biasa kan kata kamu an, kamu itu salah satu orang yg menurutku hebat an. Banyak hal yg bisa kamu lakukan sebenarnya, kamunya saja yg masih ngerasa malu, gaenakan dan banyak alasan lain yg ngebuat kamu jalan di tempat,"

"Bisa aja kamu nic, terbang ini jadinya hahah,"

"Tapi muka mah emang biasa kamu an..hahahah" ledek nico yg tiba-tiba ngehancurin rasa senangku

"Bangke kamu nic"

"Hahahahah," kami tertawa bersama, dan tak sadar waktu sudah berada di pukul 01.00 malam. Aku pun pamit untuk beristirahat karena besok pagi harus kembali bekerja, sesampainya di rumah rasa kantuk masih belum saja berada di kelopak mata, lalu kuambil gitar yg sudah lama tidak kumainkan dan sedikit bernyanyi.


Adakala kuragu

Kamu meyakinkanku

Adakala ku cemas

Kamu ada disitu


Caramu selalu berbeda

Selalu saja buatku istimewa


Caramu menyemangatiku takkan kulupakan

Caramu menunggu aku tak mungkin ku berkirai


Caraku menyayangi kamu takkan ku berubah

Caraku menunggu kamu tak mungkin ku berkirai


Kunyanyikan lagu karanganku sendiri yg belum tau kapan bisa rampung. Dengan kunci gitar seadanya, entahlah kenapa aku bisa sedikit mengarang lagu yg kata nicho sih enak atau mungkin bisa saja dia hanya tidak enak hati menilai jelek atas karanganku ini.


Keesokan harinya di waktu senggang bermodal nekad aku mencoba menghubungi nomor yg tadi malam diberikan oleh nicho.

(Via whatsapp)

"Tabik, salam kenal," aku coba memulai percakapan seformal mungkin

"Maaf dengan siapa," balasnya singkat

"Aku dian, temennya nicho,"

"Oh iya, hai salam kenal. Aku vistalita,"

"Nama yg indah. Hehe, aku manggilnya siapa ya? Vista? Lita? Atau tali?," sedikit kuselipkan candaan kecil berharap dia menyukainya

"Hehe bisa aja, panggil aja vista."

Begitulah percakapan awalku dengan seorang wanita asal bandung itu.

Waktupun berjalan tak terasa, banyak perbincangan yg terjadi hingga kami benar-benar mengenal satu sama lain. Hampir tiap hari kami berkabar, dari pagi, siang, sore, bahkan kerap berbicara via telfon sampai tengah malam hingga salah satu diantara kami terlelap tidur.


Seperti dalam sebuah sabana dengan hamparan bunga yg indah dan bermacam warna, aku ingin berkeliling mengamati tiap bunga-bunga tanpa melewatinya satupun. Yah, aku benar-benar telah terhanyut oleh wanita itu, ia menerobos masuk ke ruang yg sudah terlalu lama kosong di hati ini. Dan aku ingin mengetahui banyak hal tentangnya, mengunjungi tempat dimana ia menghabiskan waktu luangnya, apakah aku bisa menciptakan hal indah untuknya di kota itu, dan bisakah aku menjadi kisah romansa untuknya, semuanya berkecamuk di kepala ketika aku memikirkan wanita bernama vistalita itu.


Waktu tak berasa berlalu cepat

Aku tau kau menunggu lama

Usahlah kau dalam ragu

Karena janji masih kujaga


Nantikanlah aku disitu

Tak sabar jua aku menunggu

Ingin bersanding disebelahmu

Seperti dalam kisah romansa

Kau bahagia di sampingku


Dan jika saat itu datang

Bolehkah aku menggenggammu

Dan jika saat itu datang

Merebahlah tanpa malu dibahuku


Kita nikmati indah nya malam

Tanpa melibatkan manusia lainnya


Dan begitulah lagu ini tercipta, lagu yg terinspirasi dari sosok wanita yg bahkan belum sekalipun aku bertemu dengannya. Hampir setahun kami berhubungan tanpa pertemuan, aku yg belum bisa meninggalkan rutinitas kerja dan kuliah masih harus bersabar agar bisa memiliki waktu yg cukup untuk menemuinya di bandung. Sebenarnya, ia sempat menawarkan diri untuk datang kesini menemuiku, tapi aku merasa tidak enak hati jika harus ia yg datang menemuiku. Mana tega aku membiarkan ia bersusah payah berjam-jam di perjalanan hanya untuk menemuiku yg sedang sibuk ini, bahkan jika aku membiarkan ia datang kesini apakah aku akan ada waktu yg cukup untuk menemaninya disini. Aku rasa memang semesta belum memperbolehkan aku bertaut dengannya saat ini, ia pasti sedang mempersiapkan waktu yg sangat tepat agar dua manusia ini bisa saling bertatap mata dan berbalas senyum hangat secara langsung di kemudian.

Sedikit demi sedikit kesibukkan sudah mulai berkurang, tugas-tugas kuliah aku kerjakan secepat mungkin dengan harapan nilainya tidak terlalu buruk, serta rela lembur agar pekerjaan di kantor tidak menumpuk. Beberapa hari belakangan akupun jarang pulang ke rumah dan tinggal ditempat teman kuliah untuk menyelesaikan hal-hal yg menyangkut kewajiban sebagai mahasiswa, sampai-sampai nicho mengkhawatirkan kesehatanku dan menyuruhku untuk tidur yg cukup.


Setelah semuanya rampung, akupun pulang ke rumah yg sudah di tunggu oleh nicho, kebetulan saat itu ia sedang libur kerja.

"Wah manusia robot pulang juga nih," sapanya

"Hehe, maklum abis jadi kuli VOC(verenigde oostindische compagnie)," jawabku

"Wah mantap, bakal di angkat jadi menir nih hahahah.." candanya

"Kalo aku jadi menir, entar kamu tak jadiin babuku nic. Tak gaji rempah-rempah khas indramayu hahah.." balas candaku

"Hahahahha" kami berdua pun tertawa lepas setelah cukup lama kami tidak bercengkerama lagi.

"Nic aku mandi dulu ya, abis itu ada yg mau aku ceritain,"

"Oke tuan menir, handuk sudah hamba siapkan di kamar mandi beserta celana dalamnya bilamana celana dalam tuan menir sudah bau asem.." ledeknya padaku yg cukup bau memang karena belum mandi seharian

"Hahaha bangke kau nic,"

Sehabis mandi akupun menghampiri nicho yg sedang asyik mengobrol bersama pacarnya via telfon.

"Nic masih lama ngga?" Tanyaku

"Ini udah selesai an, dia cuman pengen ijin mau di ajak keluarga besarnya makan di luar an,"

"Busyet, mau makan aja segala ijin.. hahaha," ledekku

"Hahaha bangke kamu an" balas nicho

"Nic, minggu depan aku ke bandung."

Sedikit kaget dia menjawab, "hah serius, dadak amat kamu an!"

"Ia nic, aku udah ijin cuti 4 hari sama kepala kantorku. Dan kebetulan kuliah juga sudah memasuki libur panjang."

"Wah kalo dadak begini, aku ga bisa ijin cuti an biar bisa nemenin kamu."

"Gapapa nic, aku juga gamau ngerepotin kamu,"

"Serius kamu gapapa sendirian kesana?"

"Ia nic, doain aja biar lancar ya,"

"Pastilah an, aku sangat amat bahagia lihat kamu bahagia an."

"Makasih ya nic, ini semua berkat kamu"

"Aah apaan sih, ingat dalam persahabatan ga ada kata terima kasih dan maaf."

"Haha siap siap, kalo gitu sarangheo nic" sambil nunjukin jari love

"Astaga jijik an jijik," 


Malam pun jatuh, kami berdua keluar mencari makanan untuk di santap. Setelah selesai makan aku coba cek handphone, banyak whatsapp masuk yg belum sempat kubaca. Mataku tertuju pada satu nama yaitu vistalita, ada 6 pesan masuk darinya.

(Via whatsapp)

"Diaaaaaaannnn"

"Andiandiandian"

"Lagi dimana, sibuk ya"

"Woooooooooooyyyyyyyyyyyyyyy"

"Kangennnnnnn...."

"😕😕kemana sih orangnyaaaaa"

Sedikit tertawa aku membacanya, memang benar fakta bahwa sedewasa apapun seorang wanita, ia pasti akan menunjukkan sisi lucunya kepada seseorang yg dicintainya begitupun sebaliknya.

Tanpa menunggu lama aku coba menghubunginya langsung..

(Suara dering)

"Hai bunga," sapaku

"Ga ada bunga, adanya manusia yg sedang rindu," jawabnya sedikit ketus

"Maaf ya, beberapa hari terakhir aku jarang mengabari kamu,"

"Iya gapapa, aku ngerti kok." Ia menjawab dengan masih sedikit kesal

"Hari ini bagaimana, ada hal menarik kah?"

"Sama seperti biasanya, cuman sedikit melelahkan karena harus ngurusin berkas-berkas temen kerja yg belum juga selesai"

"Yaampun kasian. Vis, aku rindu"

"Aku juga, rindu banget malah,"

"Hehe, sini peluk online mau?."

"Uhhh, iya jangan di lepas ya."

Malam itu kami benar-benar terhanyut kerinduan, 2 anak manusia yg dipisah bentangan kilometer meluapkan rasa rindunya lewat sebuah benda kecil yg dinamakan handphone.


Esok harinya aku coba menghubungi ibuku yang sudah hampir satu minggu tidak aku kabari, yah aku selalu berusaha menyempatkan diri menghubungi beliau sesibuk apapun aku disini. Karena aku tidak mau dalam pikirannya ada rasa khawatir karena memikirkan anaknya, pernah ada yg bilang padaku bahwa "jangan tunggu waktu luangmu untuk mengabari orang-orang tercinta, tapi luangkanlah selalu waktumu untuk mengabari mereka. Termasuk orang tuamu!", Itulah prinsip yg kupegang sampai sekarang.

(Via telfon)

"Asalamualaikum bu" sapaku

"Waalaikum salam nak, kirain udah lupa sama ibu. Heheh" candanya

"Ya ngga mungkin dong bu, beberapa hari kemarin dian sibuk banyak hal yg di kerjakan bu. Sampai-sampai tidur pun kurang," 

"Yaampun kasihan sekali, jangan sampe sakit ya nak. Banyak minum vitamin, makannya di jaga, air putih ga boleh kurang, terus tidurnya juga harus yg cukup."

"Iya bu, dian mah sehat terus kan selalu didoain sama ibu, wanita termanis di dunia ini. Heheh," candaku

"Wanita berkeriput iya an. Ibu kan udah ga muda lagi. Hehehe" balasnya

"Ibu tetep yg termanis kok, eh tapi dian nemu 1 lagi bu wanita termanis," Sedikit tersipu aku mengatakannya

"Wah wah wah, bentar lagi ibu gendong cucu nih kayanya. Hahaha," candanya lagi

"Ah ibu, masih jauh kalo itu. Dian belum jadi apa-apa sekarang, zaman sekarang mahar mahal bu.. heheheh" jawabku

"Iya semoga yg terbaik buat kamu ya an, ibu selalu berdoa buat kamu."

"Iya bu makasih, ibu harus sehat-sehat selalu biar nanti gendong cucunya kuat ya.. heheh"

"Hahaha iya an semoga ibu selalu sehat"

"Minta doanya ya bu, minggu depan dian ke bandung. Ketemu sama wanita termanis selain ibu. Hehe"

"Wah mendadak sekali an, sama siapa kamu kesana?,"

"Sendirian bu"

"Yaudah hati-hati, nanti salam buat dia dari ibu ya"

"Iya bu, nanti dian salamin. Sudah dulu ya bu, dian mau kerja lagi, Wasalamualaikum."

"Iya nak, waalaikum salam."


Hari demi hari berlalu cepat, tiap hari kami selalu meluangkan waktu untuk terus berkabar. Jika dengannya ada saja bahan percakapan yg aku temukan untuk terus selalu membuatnya menjawab dan bertanya kembali. Malam sebelum keberangakatan aku menyiapkan berbagai perlengkapan untuk di bawa besok, apa saja kiranya yg harus aku bawa, tak lupa aku juga sedikit membawa uang koin bilamana di perjalanan di butuhkan. Handphone tiba-tiba berdering, ku ambil lalu kulihat nama vistalita memanggil, tanpa basa-basi kuangkat telfon darinya.

(Via handphone)

"Hai bunga.." sapaku

"Hai juga lebah" balasnya dengan sedikit tawa kecil

"Besok kamu ada kegiatan?"

"Ga ada kok, kan besok aku libur."

"Besok aku ke bandung temuin kamu ya"

"Kamu serius?, dadak banget ih." Setengah kaget dia bertanya

Yah, aku tak pernah membahas ini dengan dia sebelumnya. Di tiap percakapan aku hanya selalu bilang padanya tunggu aku ya kesitu, sambil tersenyum dan penuh harap dia menjawab dengan kalimat sederhana yg membuatku luluh. 

"Iya aku serius, aku hanya tidak mau membuatmu berharap pada janji yg belum bisa aku pastikan sebelumnya vista. Dan besok aku benar-benar akan datang menemuimu disana," balasku meyakinkan

"Terima kasih dian, sudah membuatku sebahagia ini. Terima kasih juga sudah membuatku merasa istimewa meskipun kita hanya berkabar lewat handphone, aku akan menunggumu."

"Tidak vista, aku yg berterima kasih. Kamu benar-benar telah mengisi kekosongan hati yg akupun tidak tau sudah berapa lama ia kosong. Setumpuk kerinduan ini, semoga bisa terlampiaskan besok yah.. hehe"

"Iya dian, aku juga berharap begitu. Kamu mau aku menunggu dimana?"

"Adakah tempat makan atau caffe yg dekat dengan tempatmu tinggal? Agar kamu tak perlu jauh-jauh menunggu ku."

"Ada dian, di Rully Bistro Cafe. Itu tidak terlalu jauh dari tempatku."

"Kalo gitu kita ketemu disana ya bunga.. hehe"

"Iya lebah, besok hati-hati di perjalanan ya. Selalu kabari aku."

"Siap bos. Sampai bertemu besok.. i love you" 

"Hah aku ga salah denger kan, tumben bilang itu.. heheh," kaget ia mendengarnya

"Hahaha ngga kok, kan memang aku sayang sama kamu.." sedikit tersipu aku menjawabnya..

"Love you too dian," balasnya, yg mungkin saat itu ia sedang tersenyum di sana


Pagi-pagi buta alarm berbunyi, sengaja aku memasang alarm agar tidak kesiangan ketika aku bangun. Dari luar terdengar suara kicau burung beradu dengan gemuruh bising suara kendaraan yg lalu lalang, padahal tempat tinggalku begitu jauh dari jalan raya tapi masih saja suara-suara kendaraan terdengar. Setelah semuanya dirasa siap, aku berjalan menuju kamar nicho yg sudah pasti ia masih tertidur lelap.

"Nic, nic, bangun."

"Kenapa an?." Setengah sadar dia menjawab

"Aku berangkat ya ke bandung, nitip barang-barang berharga yg ada disini ya. Hehe"

Setengah kaget dia tersadar penuh.

"Ga kepagian ini an, busyet kamu ini bilang kek tadi malam."

"Eh iya nic, lupa aku. Tadi malam setelah berkabar dengannya aku langsung ketiduran. Maaf ya."

"Yaudah hati-hati di jalan an, kabari aku kalo sudah sampai sana. Semoga pertemuanmu penuh kebahagiaan ya. Hahah". Jawabnya dengan selipan doa untukku

"Iya nic, terima kasih pokoknya"

"Hemm lupa nih, dalam persahabatan tidak ada kata....." 

"Maaf dan terima kasih, iya nic iya." Balasku melanjutkan perkataannya.


Dan berangkatlah aku dari bekasi menuju bandung, aku yg memang belum tahu banyak tentang kota itu memutuskan untuk berangkat menggunakan bus primajasa jurusan bandung. Dalam perjalanan kusempatkan mengabari sang bunga yg mungkin sudah sangat menungguku disana.

(Via whatsapp)

"Bungaaa,, aku sudah di perjalanan." Sapaku

"Oh ya..? Kalo gitu aku siap-siap yah, hati-hati kamu di perjalanan." Balasnya

"Iya, tunggu aku yah. Nanti aku kabarin lagi ketika sudah sampai bandung."

"Iya harus dong, kan kamu kesini mau ketemu aku. Hehe"

Tersenyum aku membacanya, benar-benar sesuatu yg tidak pernah kubayangkan. Berawal dari perkenalan yg singkat, dengan campur tangan seorang teman aku dan dia kini menjadi sepasang manusia yg sedang dilanda renjana atas pertemuan yg akan terjadi. Bahkan aku juga masih belum percaya saat ini benar-benar datang ke bandung sendirian dengan bermodal keberanian dan setumpuk rindu yg ku bawa, meninggalkan rutinitasku disana yg terkadang cukup melelahkan juga. Pernah sekali aku terkena sakit yg membuatku harus beristirahat total, tiap hari menjalani 2 aktivitas memaksaku untuk berbaring di kamar selama beberapa hari, beruntungnya aku saat itu adalah karena bersama nicholas teman yg kebetulan bekerja di rumah sakit. Ia selalu menyempatkan diri untuk bertanya bagaimana kondisiku, memberikan beberapa obat tanpa menagih biaya yg sudah ia keluarkan untuk membeli obat itu, bahkan rela ijin keluar saat waktu dinasnya untuk sekadar membelikanku makanan agar aku tidak telat makan. Hal yg akan selalu aku ingat tentangnya, dan mungkin ia adalah salah satu sahabat terbaik yg aku punya di usia yg beranjak setengah abad ini.


Matahari mulai terik menyengat, sampailah aku di terminal cicaheum bandung, ku kabari wanita yg sudah sangat ingin kutemui itu.

(Via telfon)

"Aku udah sampai di bandung, kamu dimana?," tanyaku

"Oh kebetulan, aku juga baru sampai di Rully Bistro Caffe," balasnya

"Jangan kemana-mana ya, aku kesitu sekarang,"

"Iyah, aku tunggu kamu dian."

Tanpa berlama-lama lagi aku coba cek lokasi caffe itu di google maps, kira-kira berapa kilomenter jaraknya dengan lokasiku saat ini, dan ternyata hanya 9,8 km. Pikiranku saat itu adalah bagaimana caranya agar sampai kesana dengan waktu yg cepat agar tidak membuatnya menunggu terlalu lama. Kupilihlah menggunakan ojek online, alternatif terbaik dengan biaya yg cukup murah. 


Hampir setengah jam perjalanan sampailah aku di caffe itu, lekas ku kabari dia yg pasti sudah cukup lama menungguku.

(Via whatsapp)

"Aku sudah sampai di depan caffe, bunga". Kukirim pesan singkat dengan perasaan yg sangat tidak bisa ku gambarkan, bagaimana tidak hampir setahun kami berhubungan tanpa sekalipun pertemuan, dan sekarang di kota bandung ini aku datang menemuinya untuk yg pertama kali.


Suara pintu terbuka, dari kejauhan kulihat seseorang wanita yg begitu anggun berjalan mendekatiku. Dengan balutan kerudung berwarna biru tua yg menutupi rambutnya dan jacket jeans denim yg ia kenakan, sungguh benar-benar sangat menawan membuatku diam terpaku disitu beberapa saat.

"Hai dian, bagaimana perjalanannya tadi?," sapanya dengan suara yg begitu teduh.

"Kamu benar-benar anggun vista," balasku yg tidak menjawab pertanyaannya.

Yah, aku masih tak percaya melihat sesosok wanita di depanku. Apakah benar selama ini aku berhubungan dengannya, atau aku hanya sedang berada dalam mimpi yg panjang sampai-sampai aku lupa untuk kembali terbangun.

"Kamu sungguh vistalita kan?," ku coba bertanya meyakinkan diri

"Iya, ini aku vistalita. Yg biasa kamu panggil bunga," dengan senyum kecil ia meyakinkanku.

"Ayo kita masuk," lanjutnya. Dengan tiba-tiba ia menarik tanganku, menuntunku masuk ke dalam caffe tersebut.

Rully Bistro Caffe menjadi saksi pertemuanku dengan vistalita, wanita yg selama ini mengisi waktuku dengan penuh canda tawa. Kami berdua pun berbincang cukup lama berteman 2 cangkir kopi di dalam, mengabaikan aktivitas yg berada di sekitar. Yah, mungkin saat itu kami adalah 2 manusia yg paling tidak ingin diganggu oleh apapun.


Setelah banyak hal yg diperbincangkan, kami memutuskan untuk pergi menuju ke beberapa tempat lainnya. Awalnya ia menyarankan untuk tinggal lebih lama di caffe itu agar aku bisa sedikit beristirahat lagi, ia khawatir aku masih kelelahan karena perjalanan sebelumnya, kuyakinkan dia bahwa aku baik-baik saja. Justru aku ingin lekas beranjak menikmati kota ini dengannya, aku ingin tau banyak hal tentang kota ini, aku ingin tau di mana ia biasa menghabiskan waktu luangnya, aku ingin tau tempat-tempat favorit yg biasa ia kunjungi, aku ingin tau semuannya. Kami pun berjalan keluar dari caffe itu, dengan perasaan yg penuh kebahagiaan kugenggam tangannya, kubiarkan ia merebahkan kepalanya di pundakku. Dan bandung saat itu seakan mengijinkanku untuk menikmati kotanya, benar-benar teduh dengan angin yg seringkali berhembus.


Terima kasih vistalita, terima kasih nicholas, dan terima kasih bandung.


18 Oktober 2022

(Bersekuel)

22 Sep 2023 07:32
22
2 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh: