

Lama sudah rasanya aku tidak menyusun bait-bait kata yang tiap untaiannya ada aku.
Gulita. Selepas aku menyantap hidangan harian untuk memperkuat bulan sembahku. Aku menemukan secarik kertas. Kuamati—air mataku menetes. Rindu? tidak. Aku kembali dimasa lampau. tepat.
Gubrak! sibungsu membanting pintu, melangkah kaki mengejar kumandang surau.
Kembali dalam lamunanku. Tidak. Jelas bukan rindu. Kini benda itu hanya milik seorang yang di sampingku. Bukan benar-benar di sampingku. Jauh. Tapi kepunyaan.
Annalise Mellema. Karya Pramudyan Ananta Toer, memiliki ruang sendiri diantara kita—dulu.
Bagaimana bisa kalender sudah berganti lebih dari sekali, tapi aku tak menyadari. Ranting patah berguguran, terbuai lalu tergantikan tidak selamanya kembali indah perlu berkali-kali untuk usang.
Memyoroti diri dalam dalam hembusan semua akan melewati terlewati mati.

