

Pukul 20.43, dan Tidak Ada yang Benar-Benar Berubah.
Nara baru sadar semuanya berubah
saat suatu malam ia pulang lebih cepat.
Biasanya, ada satu nama yang selalu dicari.
Satu pesan yang ditunggu.
Satu orang yang entah bagaimana
selalu masuk ke sela-sela harinya.
Malam itu masih sama.
Nara makan sendiri.
Menonton sesuatu tanpa benar-benar melihat.
Membuka ponsel, lalu meletakkannya lagi.
Lalu tiba-tiba ada perasaan aneh—
seperti kehilangan.
Padahal orang itu masih ada.
Masih membalas pesan.
Masih bertanya sudah makan atau belum.
Masih mengirim foto langit, cerita pekerjaan, dan sesekali bilang hati-hati.
Tidak ada yang berubah.
Atau setidaknya,
tidak ada yang cukup jelas untuk disebut berubah.
Tapi entah sejak kapan,
semua itu mulai terasa jauh.
Seperti dua orang
yang masih menyiram tanaman yang sama,
padahal diam-diam sudah tahu
akarnya tidak lagi hidup.
Nara tidak marah.
Ia hanya duduk lama,
sementara pukul terus berjalan
dan layar tetap tidak berbunyi.
Lalu mengerti sesuatu
yang selama ini terlalu ia sayangi untuk diakui—
bahwa kehilangan,
tidak selalu datang setelah perpisahan.
Kadang ia datang diam-diam,
saat seseorang masih tetap tinggal—
namun tak lagi meletakkan hati
di tempat yang sama.
bahwa tidak semua yang bertahan,
masih sedang menuju pulang.
Sebab ada yang tetap menggenggam,
bukan karena masih ingin tinggal—
melainkan karena belum tega
mengakui bahwa hatinya
sudah lebih dulu berpamitan.
Dan yang paling menyedihkan—
ternyata bukan saat seseorang pergi.
Melainkan saat menyadari,
yang dirindukan
bukan seseorangnya—
melainkan perasaan
bahwa dulu,
pernah ada tempat
yang terasa seperti pulang.

