oranment
play icon
Kamisan di Jogja
Cerpen
karya @Shera
Kutipan Cerpen Kamisan di Jogja
Karya Shera
Baca selengkapnya di Penakota.id

Kamisan di Jogja selalu datang dengan cara yang aneh. Bukan hanya tentang orang-orang yang berkumpul di bawah langit sore, tetapi tentang perasaan yang pelan-pelan berubah menjadi ingatan.


Pukul tiga sore, aku keluar dari kamar hotel menuju Plaza Malioboro untuk membeli sebuah syal. Jogja sedang panas, matahari terasa menyengat, tetapi entah mengapa tubuhku terasa dingin. Bukan dingin yang bisa dijelaskan oleh cuaca, melainkan dingin yang datang dari dalam diri. Aku merasa membutuhkan syal itu, seolah ada sesuatu yang ingin kupeluk agar tetap hangat.


Dari Malioboro aku berjalan ke arah Tugu. Sebelum bergabung dengan Kamisan, aku memutuskan mengisi perut di sebuah kafe dekat Tugu. Aku memesan Indomie rebus dengan telur setengah matang dan segelas kopi yang katanya adalah menu paling laris di sana. Dari rooftop kafe, aku bisa melihat pelan-pelan Tugu mulai dipenuhi orang. Kawan-kawan yang akan mengisi Kamisan sedang membentangkan spanduk, menata poster, dan menyiapkan berbagai kebutuhan aksi. Di sisi lain, aparat sudah berdiri menjaga sejak sore itu dimulai.


Lewat pukul empat, aku turun dan berjalan ke arah mereka.


Orang pertama yang kusapa adalah seorang perempuan, mahasiswa UI dari Depok. Ia datang bersama beberapa teman yang sedang berlibur ke Jogja, tetapi memilih menyempatkan diri menghadiri Kamisan. Rasanya selalu menghangatkan ketika tahu ada orang yang tetap membawa kepedulian, bahkan saat sedang menikmati waktu libur.


Beberapa langkah kemudian, aku bertemu seseorang yang pernah menjadi panitia dalam sebuah kegiatan dua bulan lalu di Jogja. Kami saling menyapa. Ia hampir lupa wajahku karena terlalu banyak agenda, terlalu banyak diskusi, aksi, dan pekerjaan yang harus dikerjakan. Di dunia gerakan, orang memang sering lupa nama, tetapi jarang lupa alasan mengapa mereka tetap bertahan.


Lalu aku melihat seorang nenek pemulung dari Gunungkidul. Ia duduk santai sambil mengisap rokok. Aku tidak mengenalnya, tetapi banyak kawan-kawan menghampirinya, menyalaminya, dan berbincang dengannya. 


Menjelang aksi dimulai, aku bertemu Rani, mahasiswa baru FISIPOL UGM dari Cimahi. Ia baru saja datang ke Jogja untuk memulai kuliah. Kami berbincang singkat tentang Jogja, tentang kuliah, dan tentang bagaimana seseorang bisa tiba di sebuah kota tanpa benar-benar tahu bahwa kota itu akan mengubah cara pandangnya.


Sore itu aku datang dengan tubuh yang merasa kedinginan, tetapi pulang dengan keyakinan bahwa harapan masih memiliki alamat. Kamisan bukan sekadar rutinitas setiap Kamis sore. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa kami masih mengingat, masih marah, dan masih percaya bahwa keadilan tidak akan datang jika tidak terus dipanggil.


Di bawah Tugu Jogja, di antara spanduk, kopi, asap rokok, dan wajah-wajah yang mungkin tak saling mengenal, aku melihat Indonesia yang lain—Indonesia yang belum menyerah.


calendar
07 Aug 2026 06:12
view
12
idle liked
1 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig