

Bab 5 — Sekretariat yang Menjadi Rumah Kedua
Firasatku ternyata benar.
Setelah Arga menjadi Presiden Mahasiswa, hidupnya tidak lagi berjalan dalam hitungan hari, melainkan dalam hitungan rapat. Pagi dimulai dengan koordinasi pengurus, siang diisi audiensi dengan birokrat kampus, sore menyusun pernyataan sikap, malam menghadiri diskusi lintas organisasi, dan dini hari masih duduk di depan mesin tik atau tumpukan kertas stensil yang belum selesai diperbanyak.
Aku pernah bercanda bahwa sekretariat organisasi telah mencuri pacarku.
Arga hanya tertawa pelan, lalu menjawab, “Sekretariat itu bukan rumah, Ra. Cuma tempat singgah.”
Padahal, justru di situlah ia lebih sering tinggal.
Sekretariat berada di sebuah bangunan sederhana di sudut kampus. Dindingnya dipenuhi poster-poster lama yang mulai menguning, kutipan tokoh pergerakan, jadwal rapat yang ditulis tangan, dan papan pengumuman yang isinya terus berubah setiap hari. Meja-meja kayu penuh dengan map cokelat, koran, buku, cangkir kopi, dan asbak yang hampir tidak pernah benar-benar kosong.
Aku mulai hafal aroma ruangan itu: kopi hitam yang terlalu lama dibiarkan dingin, kertas fotokopi yang baru keluar dari mesin, asap rokok kretek, dan kelelahan yang menggantung di udara.
Aneh rasanya. Tempat yang awalnya terasa asing perlahan menjadi tempat yang paling sering kukunjungi.
Kadang aku datang membawa nasi bungkus dari warung dekat kos. Kadang hanya membawa dua gelas teh hangat. Kadang bahkan tidak membawa apa-apa selain rasa ingin bertemu.
Arga sering kali sedang berdiri di depan papan tulis, menjelaskan sesuatu kepada teman-temannya.
“Kalau kita ingin mengeluarkan pernyataan sikap, datanya harus lengkap. Jangan hanya mengandalkan emosi.”
Yang lain mengangguk, mencatat, lalu mulai berdebat lagi.
Aku duduk di sudut ruangan sambil membuka novel yang kubawa dari perpustakaan. Sesekali Arga menoleh dan tersenyum, seolah mengatakan, “Tunggu sebentar lagi.”
Masalahnya, sebentar di dunia organisasi mahasiswa bisa berarti dua jam, tiga jam, atau sampai tengah malam.
Teman-temannya sudah menganggapku bagian dari sekretariat.
“Ra, mau kopi?”
“Ra, tolong lihat Arga sudah makan belum.”
“Ra, pinjam bolpoinmu, yang di meja Arga pasti hilang lagi.”
Aku tertawa setiap kali mendengarnya. Rasanya lucu menjadi satu-satunya orang yang bukan pengurus organisasi, tetapi tahu letak stapler, mesin ketik cadangan, dan gelas favorit Presiden Mahasiswa.
Suatu sore, ketika hujan turun deras, listrik sempat padam beberapa menit. Ruangan menjadi gelap, hanya diterangi cahaya dari luar jendela.
“Kalau begini, rapat dibubarkan saja,” seru seseorang.
“Justru enak, tidak usah lihat muka kalian,” balas yang lain.
Semua tertawa.
Arga berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Bosan?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Maaf.”
Aku menggeleng.
“Bukan salahmu.”
Ia menyandarkan punggung ke dinding.
“Kadang aku juga capek.”
“Kenapa tidak istirahat?”
“Aku takut kalau aku berhenti, semuanya ikut berhenti.”
Aku menatap wajahnya yang terlihat lebih tua daripada beberapa bulan lalu. Ada lingkar hitam di bawah matanya, dan tangannya mulai lebih sering memijat pelipis.
Aku ingin mengatakan bahwa ia tidak harus menyelamatkan dunia sendirian.
Tetapi aku tahu, bagi orang seperti Arga, kalimat itu terdengar terlalu sederhana.
Hari-hari berikutnya berjalan hampir serupa.
Aku mulai hafal jadwal rapatnya, tahu kapan ia sedang menghadapi dosen yang sulit, tahu kapan ia sedang menyusun kajian, bahkan tahu dari cara ia meletakkan tas apakah rapat hari itu berjalan baik atau buruk.
Suatu malam aku datang lebih larut dari biasanya.
Sekretariat masih terang.
Dari luar terdengar suara perdebatan.
“Kalau kita diam, berarti kita ikut membenarkan!”
“Bukan soal diam, tapi soal strategi!”
Aku mengetuk pintu pelan.
Arga membuka pintu dengan wajah lelah.
“Kamu belum tidur?”
“Aku bawa makan malam.”
Ia menatap plastik berisi nasi goreng yang kubawa.
“Kamu selalu datang di saat yang tepat.”
Aku tersenyum.
“Tapi kamu tidak pernah pulang di waktu yang tepat.”
Ia terdiam.
Kami makan berdua di teras sekretariat. Hujan baru saja reda, dan udara Yogyakarta terasa dingin.
“Dulu aku pikir jadi Presiden Mahasiswa itu keren,” kataku.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu ternyata lebih banyak capeknya.”
Arga tertawa kecil.
“Jangan bilang siapa-siapa, tapi aku juga baru sadar.”
Aku memandang jalan yang mulai sepi.
“Kadang aku iri.”
“Iri sama siapa?”
“Sama semua orang di ruangan itu.”
“Kenapa?”
“Mereka punya kamu lebih lama daripada aku.”
Arga tidak langsung menjawab.
Ia hanya meletakkan sendoknya, lalu memandangku lama.
“Aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Percaya, ya.”
Aku mengangguk.
Malam itu kami pulang bersama, berjalan kaki menyusuri boulevard yang lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di atas aspal yang masih basah.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Kalau nanti masa jabatanmu selesai, kita akan punya banyak waktu, kan?”
Ia menghela napas pelan.
“Semoga.”
Kata semoga terdengar begitu kecil, tetapi entah kenapa juga begitu berat.
Beberapa minggu kemudian, sekretariat semakin ramai. Mahasiswa dari kampus lain mulai sering datang. Diskusi tidak lagi hanya membicarakan persoalan internal kampus, tetapi juga harga beras, kebebasan pers, dan situasi politik nasional.
Arga semakin jarang bisa mengantarku pulang.
Semakin sering membatalkan janji.
Semakin sering berkata, “Maaf, Ra. Ada rapat mendadak.”
Aku mulai terbiasa makan malam sendirian.
Terbiasa berjalan pulang tanpa ditemani.
Terbiasa menunggu di bangku taman kampus sambil berharap rapat selesai lebih cepat.
Suatu malam, ketika sekretariat hampir kosong, aku menemukan Arga tertidur di atas meja.
Kepalanya bertumpu pada tumpukan dokumen.
Lampu neon membuat wajahnya terlihat pucat.
Aku mengambil jaketnya dan menyelimutkannya pelan.
Di meja itu ada secarik kertas berisi daftar pekerjaan yang belum selesai.
Jumlahnya lebih banyak daripada yang sudah dicoret.
Aku duduk di sampingnya cukup lama.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku lebih sering melihat punggung Arga daripada wajahnya.
Lebih sering melihatnya memimpin rapat daripada bercerita tentang dirinya sendiri.
Lebih sering mendengar suaranya berbicara untuk banyak orang daripada berbicara kepadaku.
Ketika ia terbangun, aku berkata pelan, hampir seperti berbisik kepada diri sendiri.
“Aku kangen.”
Ia masih menatap dokumen-dokumen di depannya.
“Aku juga.”
“Tapi kamu tidak pernah punya waktu.”
Arga mengusap wajahnya yang lelah.
“Kalau aku berhenti sekarang, banyak hal yang belum selesai.”
Aku tidak marah.
Aku tidak menangis.
Aku hanya mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan siapa pun kepadaku.
Bahwa mencintai seorang aktivis berarti belajar berbagi waktu dengan rapat, diskusi, demonstrasi, dan tanggung jawab yang tidak pernah benar-benar selesai.
Bahwa kadang-kadang, lawan terberat dalam sebuah hubungan bukan orang ketiga.
Melainkan sebuah keyakinan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Dan malam itu, di sekretariat yang perlahan benar-benar menjadi rumah kedua kami, aku tahu bahwa aku sedang jatuh cinta bukan hanya kepada seorang laki-laki, tetapi juga kepada seluruh beban yang ia pilih untuk dipikul.

