

Kebetulan yang Tinggal di Ingatan
Minggu siang itu, langit Yogyakarta terasa panas seperti biasanya. Aku berjalan menuju sebuah kafe di dekat UGM karena ingin menghadiri diskusi tentang MBG. Acara itu dijadwalkan mulai pukul satu siang, dan aku datang dengan keyakinan bahwa aku tidak akan terlambat.
Begitu sampai, aku langsung mencari lokasi diskusinya. Aku naik ke lantai satu, lalu ke lantai dua. Anehnya, semua terlihat sepi. Tidak ada kerumunan, tidak ada suara diskusi, tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah acara sedang berlangsung.
Jam di ponselku menunjukkan hampir pukul 13.00.
Aku punya satu kebiasaan yang sering menyulitkan diri sendiri: tidak suka bertanya.
Jadi, daripada bertanya kepada pegawai kafe, aku malah memesan segelas kopi pahit dan seporsi tempe mendoan. Aneh memang, tapi mungkin itu caraku untuk tetap punya alasan berada di tempat itu.
Tak lama kemudian, pesananku datang. Saat sedang mengaduk kopi, pandanganku mengarah ke luar. Di halaman belakang ternyata ada area lain yang tidak terlihat dari dalam. Di sanalah acara itu berlangsung.
Aku bisa melihat beberapa orang yang kukenal dari media sosial dan pemberitaan: Mas Media, Prof. Denny, Mbak Okky, dan Prof. Uceng. Sayangnya, ruangan itu sudah penuh. Semua kursi terisi.
Aku menghela napas kecil lalu memilih duduk di luar sambil membuka buku yang kubawa.
Belum lama aku membaca, tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.
Seorang laki-laki yang wajahnya terasa tidak asing.
Aku mengangkat kepala.
Hah?
Mas Tiyo?
Bukankah belakangan ini dia sedang ramai dibicarakan karena cara bicaranya yang sangat terus terang?
Dia tersenyum dan berbicara dalam bahasa Jawa, intinya bertanya apakah boleh duduk di kursi kosong di depanku.
“Boleh, Mas,” jawabku cepat. “Sebentar ya, aku cabut dulu charger HP-nya.”
Setelah dia duduk, aku memberanikan diri bertanya.
“Mas Tiyo?”
Dia langsung tersenyum lebih lebar.
“Kok tahu nama saya?”
“Aku pernah DM Mas dua bulan lalu. Waktu itu aku ada kegiatan di Yogya. Hari kedua acaranya Mas Tiyo yang jadi pembicara, tapi aku malah berhalangan hadir.”
“Oh iya?”
Aku spontan membuka ponsel dan menunjukkan isi DM itu kepadanya. Dia tertawa kecil.
“Mahasiswa UGM?”
“Bukan, Mas. Aku dari Jakarta.”
“Oh, ke sini sama siapa?”
“Sendiri.”
Dia mengangguk pelan, lalu menatapku beberapa detik.
Entah kenapa, tatapannya seperti sedang membaca sesuatu yang tidak kuucapkan.
“Aku paham tujuan kamu ke Yogyakarta,” katanya tiba-tiba. “Kamu lagi resah sama kondisi hari ini, ya?”
Aku diam.
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti seseorang baru saja membuka halaman yang selama ini kusimpan rapat.
Dia lalu melirik buku di tanganku.
“Lagi baca apa?”
“Bukunya Mas Budiman Sudjatmiko.”
“Nah, benar kan,” katanya sambil tersenyum. “Sebenarnya kamu lagi mencari apa di Yogya ini? Budiman itu seniorku. Aktivis ’90-an. Kenapa kamu baca dia?”
Aku menutup bukunya perlahan.
“Aku suka cara dia melawan rezim dulu. Tapi, jujur, aku lebih tertarik sama kisah cintanya.”
Dia terlihat sedikit heran.
“Loh, kenapa justru kisah cintanya?”
“Soalnya di buku ini diceritakan kalau dulu Mas Budiman anti pacaran. Dia terlalu sibuk melawan rezim, jadi tidak punya pacar. Tapi setelah peristiwa 27 Juli, waktu dia ditangkap, dipenjara, dan diadili, justru di ruang sidang itu dia dipertemukan dengan perempuan yang kemudian menjadi pacarnya. Aku suka bagian itu.”
Mas Tiyo tertawa pelan.
“Oh, gitu ya?”
Lalu, dengan nada bercanda yang sangat santai, dia berkata,
“Kalau nanti aku dipenjara terus disidang, kamu mau nemenin aku?”
Aku kembali terdiam.
“Jangan sampai, Mas,” jawabku pelan. “Aku harap Mas Tiyo akan baik-baik saja.”
Dia hanya tersenyum.
Beberapa menit kemudian aku melihat notifikasi di ponsel. Gojek yang kupesan sudah hampir sampai.
“Mas, aku sebentar lagi pamit ya. Mau balik ke Malioboro.”
“Oke. Mau aku antar?”
“Nggak usah, Mas. Aku sudah pesan Gojek.”
“Oke, hati-hati ya.”
Dia sempat berhenti sejenak, lalu bertanya,
“Namamu siapa? Maaf, aku malah lupa kenalan. Kamu sudah tahu aku duluan.”
“Shera.”
“Oh, Shera.”
Dia mengangguk sambil tersenyum.
“Hati-hati di jalan ya, Shera.”
Aku berdiri, memasukkan buku ke dalam tas, lalu berjalan keluar kafe.
Yogyakarta sering mempertemukan orang-orang dengan cara yang aneh. Aku datang hanya untuk menghadiri sebuah diskusi, malah pulang membawa percakapan singkat yang entah kenapa terus tinggal di kepala.
Kadang, yang paling membekas bukanlah isi forum atau siapa yang berbicara di panggung, melainkan seseorang yang tanpa sengaja duduk di kursi sebelah kita, lalu mengucapkan satu kalimat yang terasa lebih jujur daripada seluruh diskusi hari itu.

