

Sayangku, begitu sunyi jalan menuju ciuman ini, barangkali keadilan memang sedang sibuk, atau tersesat mencari alamat rakyatnya sendiri.
Sayangku, begitu indah malam yang kita jalani, bulan romantis, angin syahdu, sementara di bawah sana orang-orang tidur beralas kardus dan kita sibuk beralas rindu.
Sayangku, aku tak siap menjadi kekasihmu jika jiwamu hanya terpanggil untuk mencintaiku, tetapi tidak untuk mencintai zaman.
Dan kalau kau bertanya revolusi itu kapan dimulai, tenang saja, sayang.
Barangkali setelah kita selesai berciuman. Atau setelah kita selesai malu karena ternyata rakyat sudah lebih dulu bangun daripada kita.

