oranment
play icon
2019
Cerpen
karya @Shera
Kutipan Cerpen 2019
Karya Shera
Baca selengkapnya di Penakota.id

Sore di Kaliurang

Kalau ada satu orang yang diam-diam mengubah cara pandangku terhadap politik, jawabannya selalu Rudi.

Kami bersahabat sejak kelas dua SMP. Rudi bukan anak yang paling ramai di kelas, bukan juga yang sibuk mencari perhatian. Ia sederhana. Tasnya selalu terlihat penuh buku, sepatunya kadang sudah kusam, tapi isi kepalanya seperti perpustakaan kecil yang tidak pernah kehabisan pertanyaan.

Sedangkan aku, Shera, waktu itu adalah anak yang sama sekali tidak peduli politik.

Tahun 2019 kami kelas dua SMP. Indonesia sedang ramai Pilpres. Televisi penuh debat, media sosial dipenuhi pertengkaran orang dewasa, sementara aku memilih menganggap semua itu bukan urusanku. Di kepalaku yang baru berusia empat belas tahun, semuanya terasa sederhana. Aku melihat Jokowi sebagai presiden yang dekat dengan rakyat, lalu merasa tidak ada lagi yang perlu dipikirkan.

Rudi justru sebaliknya.

Di kantin, di koridor sekolah, bahkan saat berjalan pulang, ia selalu punya pertanyaan yang datang tiba-tiba.

“Sher, menurutmu kenapa mahasiswa sering demo?”

Aku cuma mengangkat bahu sambil menyeruput es teh.

“Ya namanya juga politik.”

Ia tersenyum kecil.

“Justru politik itu tentang hidup kita.”

Aku langsung menggeleng.

“Rud, kita masih SMP.”

“Iya.”

“Ngapain mikirin negara?”

Ia menatapku beberapa detik, lalu menjawab dengan tenang.

“Karena negara juga sedang memikirkan kita.”

Waktu itu aku cuma tertawa. Menurutku Rudi terlalu serius untuk anak seusia kami. Teman-teman lain sibuk membahas Mobile Legends, tugas matematika, atau rencana main sore, sedangkan Rudi mengajakku membicarakan demonstrasi, kebijakan pemerintah, sampai sejarah yang bahkan belum pernah kupikirkan sebelumnya.

Jujur saja, dulu aku benar-benar gamlek politik.

Bahkan setiap kali Rudi mulai membuka topik negara, aku sering memotongnya.

“Udahlah, Rud.”

Yang aneh, ia tidak pernah memaksa. Ia hanya tersenyum, lalu mengganti topik seolah tahu suatu hari nanti aku akan kembali mengingat percakapan itu.

Dan ternyata ia benar.

Waktu berjalan begitu cepat. Kami tumbuh di jalan masing-masing. Rudi kuliah di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Aku mengejar jalanku sendiri. Obrolan kami semakin jarang, sampai suatu sore di Kaliurang, Jogja, semesta mempertemukan kami lagi.

Aku sedang menunggu Trans Jogja ketika mendengar seseorang memanggil namaku.

“Shera?”

Aku menoleh.

“Rudi?”

Kami sama-sama tertawa.

Rasanya aneh. Bertahun-tahun tidak bertemu, tapi rasanya seperti baru kemarin kami duduk di bangku SMP.

“Kamu masih sama,” kataku.

“Kamu juga,” jawabnya. “Masih telat kalau janjian?”

Aku terkekeh.

“Kamu masih suka ngajak diskusi?”

“Masih.”

Kami duduk di bangku halte. Angin Kaliurang sore itu dingin. Matahari mulai turun, langit berubah menjadi jingga yang pelan-pelan diselimuti warna biru.

Entah kenapa, tanpa aba-aba, obrolan kami kembali ke tempat yang sama.

Indonesia.

“Menurutmu Indonesia sekarang gimana?”

Rudi tidak langsung menjawab. Ia melihat kendaraan yang berlalu, lalu menarik napas pelan.

“Rumit.”

“Karena Prabowo?”

“Iya. Tapi bukan sesederhana itu.”

Aku menunggu.

“Menurutku sekarang banyak orang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ada yang merasa semua kebijakan pemerintah pasti benar. Ada juga yang menganggap semuanya pasti salah. Padahal kenyataannya nggak sesederhana itu.”

Aku mengangguk.

“Contohnya?”

“MBG.”

“Program Makan Bergizi Gratis?”

“Iya. Tujuannya bagus. Negara ingin anak-anak mendapat makanan bergizi. Kalau berhasil, dampaknya bisa panjang. Anak lebih sehat, lebih fokus belajar, dan keluarga yang kesulitan ekonomi bisa sedikit terbantu.”

Aku tersenyum.

“Tapi pasti ada tapinya.”

Rudi tertawa kecil.

“Ya ada.”

Ia melanjutkan, “Anggarannya besar. Pengadaannya panjang. Yang harus kita tanyakan bukan cuma berapa juta makanan dibagikan.”

“Terus?”

“Makanannya benar-benar bergizi nggak? Kualitasnya terjaga nggak? Petani lokal ikut menikmati nggak? UMKM dapur lokal dapat ruang atau justru perusahaan besar yang paling untung?”

Aku terdiam.

Cara berpikirnya ternyata tidak berubah sama sekali.

Selalu bertanya satu langkah lebih jauh.

“Kalau KDMP?”

“Konsep Koperasi Desa Merah Putih juga menarik.”

“Kenapa?”

“Karena kalau koperasi benar-benar memperkuat ekonomi desa, petani punya posisi tawar lebih baik, distribusi lebih pendek, itu bagus.”

“Kalau enggak?”

“Ya cuma jadi proyek pemerintah yang memakai nama koperasi.”

Aku menghela napas sambil melihat orang-orang yang mulai memenuhi halte.

“Rud, banyak yang bilang sekarang Indonesia mulai mirip tahun sembilan puluhan.”

Ia mengangguk pelan.

“Sebagian akademisi memang mengingatkan ada gejala yang perlu diwaspadai.”

“Gejala kayak apa?”

“Peran militer yang kembali lebih luas di ruang sipil.”

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Terus ruang kritik yang menurut banyak organisasi masyarakat sipil terasa makin sempit. Ada jurnalis yang mendapat intimidasi di beberapa kasus. Ada kekhawatiran kualitas demokrasi kita menurun.”

Ia menjelaskan bahwa sejumlah organisasi hak asasi manusia dan lembaga internasional memang menyoroti penyempitan ruang sipil, perluasan peran militer di jabatan sipil, serta penurunan kualitas demokrasi Indonesia sebagai hal yang patut diawasi.

“Tapi menurutmu kita sudah balik ke Orde Baru?”

Ia menggeleng.

“Belum.”

“Terus?”

“Yang bahaya itu kalau kita berhenti mengawasi.”

Kalimat itu membuatku diam cukup lama.

Aku tiba-tiba teringat kantin SMP.

Teringat anak laki-laki yang dulu selalu mengajakku berdiskusi sementara aku sibuk menghindarinya.

“Rud.”

“Hm?”

“Aku baru sadar sesuatu.”

“Apa?”

“Dulu aku benar-benar nggak ngerti politik.”

“Iya.”

“Sedangkan kamu udah ngomongin demonstrasi, kebijakan, sejarah…”

Ia tersenyum.

“Aku juga masih belajar waktu itu.”

“Tapi kamu ngajarin aku satu hal.”

“Apa?”

“Kalau mencintai negara ternyata bukan berarti berhenti bertanya.”

Rudi mengangguk pelan.

“Justru karena kita peduli.”

Bus Trans Jogja akhirnya datang.

Aku berdiri sambil merapikan tas.

“Makasih ya.”

“Buat apa?”

“Karena dulu kamu nggak pernah capek ngajak aku mikir.”

Ia tertawa.

“Padahal kamu selalu bilang aku ribet.”

“Iya.”

“Dan sekarang?”

Aku ikut tertawa.

“Sekarang aku kangen diskusi sama kamu.”

Pintu bus tertutup perlahan.

Dari balik kaca, kulihat Rudi masih berdiri di halte dengan ransel sederhana di bahunya. Untuk sesaat aku merasa waktu benar-benar berputar, seolah anak SMP yang dulu mengajakku bertanya masih berdiri di sana—hanya saja sekarang kami sudah cukup dewasa untuk memahami pertanyaan-pertanyaan itu.

Di sepanjang perjalanan pulang, aku sadar bahwa yang paling kubawa dari sore itu bukan pembahasan tentang Prabowo, MBG, atau KDMP.

Yang kubawa adalah Rudi.

Sahabat yang tidak pernah mengajariku untuk membenci pemerintah atau memuja kekuasaan, melainkan mengajariku bahwa mencintai Indonesia berarti berani berpikir, berani mengawasi, dan tidak pernah menyerahkan nalar kepada siapa pun.

Diam-diam aku menyimpan satu doa.

Semoga suatu hari nanti, ketika negeri ini membutuhkan pemimpin yang lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih berani berpikir daripada mencari tepuk tangan, ada orang seperti Rudi yang berdiri di sana.

Karena setelah mengenalnya sejak SMP, aku percaya satu hal.

Indonesia akan selalu membutuhkan lebih banyak manusia sederhana yang tidak pernah berhenti mempertanyakan bagaimana rakyat bisa hidup lebih baik.


calendar
23 Aug 2026 14:05
view
5
idle liked
0 menyukai karya ini
Penulis Menyukai karya ini
close
instagram
Unduh teks untuk IG story
Cara unduh teks karya
close
Pilih sebagian teks yang ada di dalam karya, lalu klik tombol Unduh teks untuk IG story
Contoh:
example ig