

Kosku di daerah Gubeng lampunya cuma satu. Kuning.
Kipas angin tua muter pelan, bunyinya “ngiiiik... ngiiiik...” tiap kali muter.
Aku baru buka pintu, tas langsung kubanting ke lantai. Di tangan masih ada teh tumpah dari gelas plastik warung tadi. Manisnya masih nempel di bibir.
Di meja belajar, buku tentang tahun 90-an masih kebuka di halaman Budiman. Ada stabilo kuning di kalimat: “Kami sudah siap 3B; Buang, Bui, Bunuh".
Tiba-tiba kalimat itu ketemu sama kalimat baru malam ini: “Yang penting lagunya jalan, bukan orangnya.”
Tanganku gemetar pas ngeluarin buku catatan.
Aku harus nulis sekarang. Kalau tidak, takut lupa. Takut detailnya keburu hilang dimakan Surabaya yang berisik ini.
“Sendiri aja, Nona?”
Aku tulis.
“Tradisi Timur. Kalau ada Nona duduk sendirian, masa dibiarin haus.”
Aku tulis lagi. Tulisan tanganku jadi jelek karena buru-buru.
Tapi pas sampai bagian “Dulu. Waktu menyerahkan diri ke penjara.”
Pensilku berhenti.

