Bung, tulislah namaku di halaman paling terakhir
Di antara coretanmu tentang politik dan filsafat
Di sela-sela tinta perjuangan yang kau tumpahkan
Di lembaran sunyi yang nyaris terlupakan
Aku tak meminta jadi awal yang gemilang
Tak berharap jadi judul yang lantang
Cukup di akhir, di ujung bait-bait panjang
Di sana, di mana letihmu bersandar tenang
Bung, saat pena bergetar menuliskan idealisme
Saat kata-kata berperang di atas kertas lusuh
Ingatlah, ada aku di sana, dalam sunyi
Di baris terakhir yang kau tulis dengan jujur
Sebab aku bukan gagasan yang harus digemakan
Bukan tokoh yang harus kau bahas panjang
Aku adalah jeda, rehat di tengah malam
Napasku lirih, tapi tak pernah padam
Bung, bila halaman itu kau tutup suatu hari
Dan lembar-lembar lain mulai berdebu
Setidaknya, sebelum kau letakkan pena itu
Namaku tetap ada—di lembaran terakhir itu.