Bung, tulislah namaku di halaman paling terakhir Di antara coretanmu tentang politik dan filsafat Di sela-sela tinta perjuangan yang kau tumpahkan Di lembaran sunyi yang nyaris te...
Katanya negara demokrasi, Tapi mahasiswa yang berani, Menyuarakan kebenaran, Dihadapi dengan kekerasan dan penangkapan. Pemerintah yang bijak, Tapi tindakan...
Aku menyukai filsafat, karena membuatku berpikir kritis Membuatku melihat dunia dari sudut yang berbeda Aku selalu belajar, bareng dengan Mas Havis Dia menjawab pertanyaanku, deng...
Bung, meskipun aku bukan seorang Sarinah, Aku berdiri di tengah pusaran zaman, Menggenggam semangat dalam genggaman tangan, Mengulang langkah-langkah pahlawan perempuan.
Cowokku Mas Havis, kaku sekali dia, Tidak bisa sok asik, itu sudah jelas, Jangankan kepada perempuan lain, Kepadaku saja kaku, membuatku tertawa terus. Aku selalu...
Aku berdialog dengan diriku, dalam kesunyian malam, Sebelum aku memutuskan untuk berdiskusi dengan Mas Havis, yang selalu ada di sampingku. Aku mencari jawaban, atas pertanyaan yang ter...
Teruntuk Mas Havis, cinta yang tak terucap, Terima kasih sudah membersamai jiwa kecilku, Dalam kesunyian, dalam kegembiraan, Kamu selalu ada, sebagai sahabat sejati, sebagai cinta...
Tuhan, kenapa aku harus terlahir menjadi WNI? Aku mati rasa dengan pemerintah, Aku lelah, aku muak, Dengan janji-janji manis yang tidak pernah dipenuhi. Aku selal...
Bapak intelektual, dengan kata-kata bijak, Mengatakan bahwa sejarah tidak boleh diulang, Masa lalu yang kelam, telah dikoreksi oleh waktu, Tapi hari ini, apakah sejarah akan mengu...
Dalam dunia perempuan, aku hidup dengan ketakutan, Ketakutan akan komentar tidak baik, yang datang tanpa permisi, Dari laki-laki yang tidak menghargai, kehormatan dan martabatku, ...