

pernahkah kau keluar rumah dan memandangi langit tengah malam?
membayangkan bentuk awan yang disinari remang cahaya bulan,
lalu udara sejuk membelai leher lembutmu sembari berbisik,
"maukah kau menyayangiku dalam hiruk-pikuk negara ini, sayangku?"
kemudian kau bergegas masuk ke rumah,
bersih-bersih, gosok gigi, dan berkaca,
di dalam kaca, kau memandangi wajah seorang WNI
yang hidup terasing, terabaikan, dan tergusur rezim.
kau bergegas menuju kamar,
dan tidurmu adalah sambatan-sambatan dari doa yang kau pelihara.
"Tuhan, seperti biasa. Aamiin."

