

Setiap kali api merundung
tubuhku peringkuk nan rinding
menggenggamkan bara.
Lepuhnya, resah yang tak pernah kuminta.
Berjubellah abu menyerak
berterbangan, di halaman pikiran—
menghitamkan yang tidak ada
akan menjadi ada.
Gelapkan yang angan
hendak menjadi ingin.
Api menjelma takut
bersarang sungguh akut—
di dalam dahaga gelisah.
Kepada kecamuk api yang akut,
terkarunialah syahdu di musim semi
dengan seteguk puisi.
Dalam galagah makna,
tertutur selamat kepada api,
tanggal yang tak lagi tinggal
memanjatkan selamat tinggal.
(Jakarta, 2026)

